Kebenaran di Balik Mitos-Mitos Pasukan Soviet di Afganistan

V. Suhodolskiy/Sputnik
Tiga dekade telah berlalu sejak pasukan Soviet menarik diri dari Afganistan. Kini, mari kita cek kebenaran sejumlah mitos yang kerap mewarnai sejarah konflik ini.

1. Uni Soviet dikalahkan dan dipaksa mundur

Banyak orang percaya bahwa militer Soviet dikalahkan kelompok mujahidin dan AS selama konflik yang berkecamuk di Afganistan pada 1980-an. Akibatnya, Uni Soviet tak punya pilihan lain selain menarik pasukannya dari negara itu pada 1989. Padahal, faktanya tidak demikian.

Kelompok mujahidin memeriksa tank Soviet yang direbut dalam pertempuran dengan pasukan pemerintah Kabul pada September 1979 di dekat Asmar, Afganistan, Kamis, 27 Desember 1979.

Sebaliknya, kelompok mujahidinlah yang terdesak pada 1980-an. “Pada 1985, muncul kekhawatiran bahwa mereka (mujahidin) kalah, bahwa jumlah mereka agak menciut, dan hancur berantakan. Mereka kalah besar, sedangkan serangan mereka terhadap Soviet tidak signifikan,” ujar Morton Abramowitz, Direktur Biro Intelijen dan Penelitian Departemen Luar Negeri pada 1980-an, 20 tahun silam.

Selain itu, banyak pula anggapan bahwa langkah Washington untuk memasok kelompok mujahidin dengan rudal Stinger menguntungkan pasukan anti-Soviet. Serangan Stinger memang membuat Angkatan Udara Soviet kewalahan, tetapi tidak ada bukti kuat yang membuktikan bahwa peluncur rudal itu menjadi faktor penentu hasil perang.

Boris Gromov, Kepala Angkatan Darat Ke-40 Soviet yang dikirim ke Afganistan pada 1979, berpendapat bahwa konflik tersebut tak bisa semata-mata dinilai sebagai kemenangan atau kekalahan — itu jauh lebih kompleks. Dia mengatakan, Soviet menargetkan kelompok partisan dan sama sekali tak mengharapkan “kemenangan”. Menurutnya, Uni Soviet menguasai sebagian besar Afganistan selama operasi militer. Sementara, kelompok mujahidin tak mampu merebut satu pun pos militer terdepan meski mereka mendapat banyak bantuan dari luar negeri.

“Pada puncak konflik, Angkatan Darat Ke-40 memiliki 108.800 tentara, yang membuktikan fakta bahwa tak ada yang menginginkan kemenangan klasik di Afganistan,” kata Gromov, seraya mengisyaratkan bahwa jumlah pasukan sebanyak itu hanya cukup untuk secara efektif mengendalikan negara dan tidak lebih. Sebagai perbandingan, Washington mengirim lima kali lebih banyak tentara ke Vietnam, sebuah negara yang luasnya lima kali lebih kecil dari Afganistan. Ternyata, ini masih belum cukup.

2. Tentara ‘kejam’

Banyak yang bilang bahwa Uni Soviet bisa menginjakkan kakinya di Afghanistan karena “tentaranya yang kejam”. Menurut Gromov, cerita tentang pasukan Soviet yang membantai tanpa ampun diduga “dijual” oleh para pendukung mujahidin demi meningkatkan legitimasi politik para pejuang gerilyawan. .

Jenderal Soviet mengklaim bahwa Uni Soviet justru meluncurkan beberapa program sipil, ekonomi, dan politik yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan rakyat Afganistan. “Misalnya, pada 1982, Angkatan Darat Ke-40 melakukan 127 operasi sipil termasuk perbaikan rumah, pembangunan jalan, dan distribusi makanan dan obat-obatan. Kami juga mengadakan acara budaya untuk penduduk setempat,” kata Gromov.

Tentara Soviet mengobrol dengan rakyat Afganistan.

Mantan diplomat Inggris dan penulis buku Afgantsy (2011) Rodric Braithwaite mengakui bahwa dia terkejut mengetahui hubungan Soviet dengan rakyat Afganistan. “Tentara berhubungan dekat dengan penduduk lokal: petani, pedagang, mullah (tokoh agama). Saya pergi ke Afganistan dan bertanya kepada penduduk setempat kapan mereka hidup lebih baik: sekarang atau ketika orang-orang Rusia hadir? Ternyata, semua orang Afganistan menganggap pertanyaan itu sangat bodoh. Semuanya berkata, “Tentu saja, lebih baik di bawah orang-orang Rusia.”

Ada banyak contoh ketika penduduk setempat menunjukkan sikap serupa terkait isu ini di Counterpunch.

3. ‘Perang Soviet-Afganistan’

Konflik pada 1980-an ini sering disebut sebagai Perang Soviet-Afganistan. Padahal, pemerintah resmi Afganistanlah yang mengundang pasukan Soviet. Di sisi lain, penentang rezim atau kelompok mujahidin didukung oleh Pakistan, Arab Saudi, dan Barat. Akibatnya, konflik itu mengglobal. Faktanya, perang itu bukanlah pertempuran antara pasukan Soviet dan rakyat Afganistan. Kebanyakan orang Afganistan justru mendukung pemerintah di Kabul.

Menyambut pasukan Soviet di tepi Sungai Amu Darya, dekat kota Termez, Uni Soviet.

Pemimpin pasukan Soviet di Afganistan juga menolak penggunaan istilah “perang” dalam hal ini. Dia mengatakan istilah itu tidak tepat karena “intensitas kegiatan militer yang rendah”.

Selain itu, menyatakan bahwa kehadiran pasukan Soviet memicu perang saudara di Afganistan juga tidak tepat. Ada kesaksian bahwa penentang rezim yang didukung Soviet di Kabul mengangkat senjata sebelum Desember 1979.

Dukungan Barat kepada para kelompok mujahidin juga mendahului intervensi bersenjata Soviet pada konflik tersebut. Mantan pejabat CIA dan Sekretaris Pertahanan Robert Gates mengingat pertemuan staf pada bulan Maret 1979 ketika CIA bertanya apakah mereka harus mempertahankan kelompok mujahidin, sehingga “menyeret Soviet ke dalam rawa Vietnam”. Jawabannya: danai kelompok gerilyawan.

Kebanyakan orang mengira pasukan Soviet pertama kali menginjakkan kaki di Afganistan pada 1979. Padahal, mereka sudah memasuki negara itu bahkan 50 tahun sebelumnya. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki