Apakah Rusia Mendukung Taliban?

Komandan Operasi Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) dan Kepala Komando AS-Eropa Curtis Scaparrotti menuduh Moskow memperkuat hubungan dan bahkan menyediakan bantuan untuk kelompok fundamentalis asal Afganistan, Taliban.

Komandan Operasi Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) dan Kepala Komando AS-Eropa Curtis Scaparrotti menuduh Moskow memperkuat hubungan dan bahkan menyediakan bantuan untuk kelompok fundamentalis asal Afganistan, Taliban.

Reuters
Salah satu komandan NATO menuduh Rusia menyuplai barang ke kelompok fundamentalis Taliban, Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya mengumumkan bahwa mereka berkomunikasi dengan Taliban hanya demi keamanan warga negara Rusia di Afganistan dan proses perdamaian di sana.

Moskow tampaknya sudah memperkuat hubungan dan bahkan menyediakan bantuan untuk kelompok fundamentalis asal Afganistan, Taliban. Itulah pendapat Curtis Scaparrotti, yang menjabat sebagai Komandan Operasi Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) dan Kepala Komando AS-Eropa, kepada Komite Layanan Senjata Senat AS pada 23 Maret.

Ungkapan tersebut ia lontarkan saat menjawab pertanyaan senator Partai Republik Ted Cruz mengenai “bertambahnya dukungan” untuk ekstremis Islam termasuk Taliban. Menurut Scaparrotti, baru-baru ini ia melihat “peningkatan pengaruh Rusia dalam urusan dan bahkan suplai barang ke Taliban”.

Namun hal tersebut dibantah oleh utusan kepresidenan Rusia untuk Afganistan, Zamir Kabulov. Menurutnya, sang komandan Amerika hanya mencoba menjustifikasi kegagalan AS di Timur Tengah.

“Ungkapan tersebut bahkan tidak perlu dibalas karena hanyalah bualan untuk menjustifikasi kegagalan politisi dan militer AS di kampanye Afghanistan; kami tidak menemukan alasan lain,” ujar Kabulov, seperti yang dikutip RIA Novosti.

Bulan Maret ini, Kementerian Luar Negeri Rusia memublikasikan detail klarifikasi terkait komunikasi Moskow dengan Taliban, yang memicu “beberapa pejabat Afghanistan” menuduh Moskow mendukung gerakan fundamentalis tersebut.

“Perlu ditekankan bahwa seluruh tuduhan ini tidak didukung bukti,” ujar kemenlu, seraya menambahkan bahwa beredarnya rumor tersebut dibuat oleh pihak yang tidak tertarik menstabilkan Afganistan dengan tujuan merusak upaya antiterorisme internasional di sana. Taliban serta organisasi teroris al-Qaeda dan ISIS saat ini sedang beroperasi di wilayah Afganistan.

“Komunikasi terbatas dengan Taliban dimaksudkan untuk menjaga keamanan orang Rusia di Afganistan, serta mendorong Taliban untuk bergabung dalam proses rekonsiliasi nasional di Kabul yang berdasarkan tiga prinsip: pengakuan konstitusi Republik Islam Afganistan, perlucutan senjata, dan memutus hubungan dengan ISIS, al-Qaeda, serta organisasi teroris lainnya,” ujar kemenlu.

Aksi-aksi ini “tidak melegitimasi Taliban”, ujar diplomat-diplomat Rusia. Moskow mengatakan bahwa banyak negara dan misi PBB yang berkomunikasi dengan Taliban.

Rusia juga mengklaim bahwa ia berkontribusi dalam perjuangan kolektif menghadapi terorisme di Afganistan, menyediakan bantuan senjata dan amunisi gratis untuk perlengkapan pasukan keamanan nasional Afganistan, serta mengadakan pelatihan untuk anggota-anggotanya melalui “institusi pendidikan khusus Rusia”.

Kemenhan Rusia anggap pernyataan NATO tak beralasan

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayjen Igor Konashenkov, sependapat dengan Kabulov, bahwa pernyataan Scaparrotti tidak perlu ditanggapi serius.

“Tuduhan yang sama pernah disuarakan oleh pendahulu Scaparrotti, Jendral Philip Breedlove. Tidak didukung fakta, tidak ada angka atau dokumen spesifik — hanya perkataan yang sama dengan bentuk yang baru, tuduhan yang aneh,” ujar Konashenkov.

Menurutnya, Kemenhan AS menyalahkan Rusia dalam rangka mencari alasan kegagalannya dalam menstabilkan situasi di Afganistan selama 16 tahun berada di sana.

Kabulov menambahkan bahwa menyusul perubahan kepemimpinan di Gedung Putih, AS turut ingin berpartisipasi dalam negosiasi di Afganistan. “Sejauh yang saya tahu, saat ini Trump tidak akan membuat keputusan apa-apa. Ini logis karena semuanya bisa rusak jika ia memutuskan untuk menarik kontingennya,” ujarnya kepada Interfax pada akhir Januari.

AS sendiri harus mencabut sanksi terhadap Rosoboronexport — perusahaan ekspor-impor produk pertahanan Rusia — supaya dapat membeli suku cadang untuk reparasi helikopter Mi-17 yang sebelumnya dikirim ke tentara Afganistan.

“Secara praktik kami tidak punya kerja sama langsung dengan AS, selain helikopter yang kami kirim untuk kebutuhan tentara Afganistan,” ujar pemimpin perusahaan negara Rostec (induk Rosoboronexport) Sergei Chemezov pada bulan Maret. “Sekitar 50 unit helikopter transportasi Mi-17 sudah diproduksi dan dikirim. Sekarang pertanyaannya bagaimana dapat mereparasinya, supaya AS terpaksa menarik sanksi terhadap Rosoboronexport dan membeli suku cadangnya.”

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.