Catatan Perang Afganistan: Keberhasilan Tentara Soviet Menahan Gempuran Kelompok Pemberontak

Ada 39 tentara Soviet yang mempertahankan posisi mereka melawan ratusan mujahidin yang mengepung.

Ada 39 tentara Soviet yang mempertahankan posisi mereka melawan ratusan mujahidin yang mengepung.

AP
Meskipun Perang Dingin akan segera berakhir, bulan ini 30 tahun yang lalu beberapa tentara Soviet masih harus melawan gelombang serangan oleh ratusan pemberontak Afganistan yang didukung AS. Menolak mundur atau menyerah, pertahanan heroik ini kemudian mengilhami sebuah film populer, namun saksi mata mengatakan bahwa film itu tak sesuai kenyataan.

"Moskow, menyerahlah!" Teriak militan-militan Afghanistan, yang dikenal luas sebagai mujahidin, saat mereka meluncurkan berbagai serangan ke posisi pasukan penerjun payung Soviet. "Serangan mujahidin adalah kekejaman," kata sejarawan militer Viktor Vorontsov.

Pertarungan di Bukit 3234 dimulai sekitar pukul 15.30 pada 7 Januari 1988, dan baru berakhir tengah malam saat itu. Ada 39 tentara Soviet yang mempertahankan posisi dari ratusan mujahidin yang mengepung. Bisa dibilang bahwa tentara Soviet bertempur seperti kelompok pejuang Sparta kuno berjumlah sedikit di bawah kepemimpinan Raja Leonidas, melawan tentara Persia yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Kemarahan Mujahidin

Serangan ganas dari para mujahidin bisa dijelaskan oleh kepentingan strategis bukit tersebut. Mereka yang menguasainya mengendalikan sebagian jalan penting menuju kota Khost di dekat perbatasan Pakistan. Lokasi strategis kota tersebut menjadikannya target penting bagi Pakistan dan AS, yang mendukung mujahidin dengan menyelundupkan senjata dan peralatan lainnya kepada mereka dari Pakistan selaku negara tetangganya.

Mujahidin Afganistan.

Khost dan daerah sekitarnya menghadapi serangan mujahidin untuk beberapa saat, namun pada akhir tahun 1987 Soviet berhasil melewati blokade tersebut berkat Operasi Magistral. Setelah itu mujahidin ingin balas dendam.

'Bangau Hitam' Didikan AS

Menurut Viktor Dobrovolsky, seorang veteran perang Afghanistan, mujahidin yang paling mahir dikirim untuk merebut bukit yang dipertahankan oleh tentara Soviet itu.

"Serangan itu dipimpin oleh pasukan elite mujahidin yang mengenakan seragam hitam, dan dikenal sebagai 'bangau hitam'; mereka terutama terdiri atas pasukan komando Pakistan karena pejuang Afganistan tidak memiliki keterampilan seperti itu. Yang pasti, 'bangau hitam' dilatih tidak hanya oleh Pakistan tapi juga oleh AS, "kata Dovrovolsky.

Saat Paling Menegangkan

Sebuah tembakan 30 menit yang panjang mendahului serangan. Setelah itu, tentara Soviet harus menangkis selusin serangan mujahidin. Seperti diingat Sersan Sergei Borisov, serangan itu terorganisir dengan baik, dan serangan yang lebih buruk terjadi pada malam hari.

"Semuanya dipicu ledakan granat. Ada hujan api dari tiga arah. Mujahidin sudah berada di jarak 20-25 meter. Kami menembak mereka di jarak dekat. Kami terkejut ketika melihat mereka sudah sedekat 5-6 meter dan melemparkan granat ke arah kami. Kami masing-masing hanya memiliki dua magasin tersisa dan tidak ada granat. Tak ada yang bisa mengisi magasin. Pada saat ini, sebuah peleton (yang membantu tentara Soviet) tiba..."

Pada saat itu, hanya lima tentara yang masih bisa terus berjuang; semua yang lainnya terluka. Peleton itu membantu melawan serangan sisa. Pada akhirnya, enam tentara Soviet tewas, begitu juga dengan 200 orang dari musuh.

Mempertahankan bukit tidak akan mungkin terjadi tanpa bala bantuan yang dikirim oleh komandan resimen, dan juga artileri yang tepat dan mematikan.

Jauh dari Kenyataan

Film arahan sutradara Feodor Bondarchuk, 9th Company (2005), menceritakan kisah yang berbeda dari pertempuran itu. Seperti dikabarkan sebuah harian Rusia baru-baru ini, pertempuran yang digambarkan dalam film tidak begitu mirip dengan kenyataan.

"Tidak ada rombongan yang dilupakan oleh komandan, dan mereka tidak hampir sepenuhnya tereliminasi dalam menyelesaikan tugas tak masuk akal," kata artikel di harian tersebut.

Dalam film tersebut hanya satu orang yang selamat, namun kenyataannya hanya enam yang meninggal; Dalam film, para prajurit ditinggalkan oleh komandan mereka, namun kenyataannya komandan resimen dari beberapa kilometer jauhnya mengamati situasi dan mengirim bala bantuan; Pertarungan itu tidak tak masuk akal karena bukit memiliki kepentingan strategis.

Seluruh tentara penerjun payung diberikan Ordo Spanduk Merah dan Ordo Bintang Merah. Dua secara anumerta diberikan bintang emas Pahlawan Uni Soviet.

Sementara kebenaran "diputarbalik dalam film ini", ia mendapat banyak ulasan bagus karena para kritikus menghargai kualitas sinematografinya. Meski begitu, masih ada orang-orang yang berusaha memahami fakta yang diputarbalik dalam film.

Hubungan Uni Soviet dengan Afganistan dulu berbeda dengan sekarang. Cari tahu apakah Rusia bekerja sama dengan Taliban, kelompok pemberontak Afganistan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More