Benarkah Khrushchev Pernah Membanting Sepatunya pada Sidang Umum PBB?

Fai/Legion Media/Getty Images
Nikita Khrushchev, salah satu pemimpin Soviet yang paling bersemangat, terkenal karena komentar-komentarnya yang kontroversial dan sikapnya yang impulsif. Namun, dia tak segila itu hingga membanting sepatunya di Sidang Umum PBB pada 1960. Berikut kami tunjukkan mengapa kisah ini sebetulnya hanyalah isapan jempol belaka.

Anda mungkin pernah mendengar atau membaca kisah ini. Pada 12 Oktober 1960, PBB menggelar sidang umum yang ke-15. Ketika delegasi Filipina Lorenzo Sumulong tengah berpidato, Khrushchev tiba-tiba membanting sepatunya di atas mimbar untuk mengekspresikan kemarahannya kepada Sumulong.

Tak hanya itu, foto Khrushchev dengan sepatunya bahkan tersebar di mana-mana. Kalau Anda merasa foto itu terlihat seperti foto hasil olahan, Anda tidak salah — begitulah kenyataannya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

‘Penjilat Imperialisme’

Nikita Khrushchev berpidato di Sidang Umum PBB pada 23 September 1960.

Pidato Khrushchev saat itu memang sangat berapi-api dan penuh amarah. Pada 1960, 17 koloni Afrika telah memproklamasikan kemerdekaannya. Topik itu dibahas secara luas selama sidang tersebut. Selain itu, revolusi Hongaria tahun 1956 dan invasi Soviet juga menjadi topik hangat lain yang tak kalah seru diperbincangkan.

Suasana majelis saat itu sangat menggelisahkan. Apa lagi, Wakil Menteri Luar Negeri Rumania Eduard Mezincescu bersikap sedemikian rupa sehingga mikrofonnya harus dimatikan. Sementara, Pemimpin Sidang Umum Frederick Boland mengetok palunya begitu keras hingga patah.

Perwakilan negara-negara Barat menyalahkan Uni Soviet dan kebijakannya terhadap Hongaria. Kemudian pembicaraan beralih ke koloni-koloni Afrika, dan Khrushchev memberikan pidato yang emosional, memarahi negara-negara imperialis — “para penjajah”. Setelah itu, Lorenzo Sumulong, kepala delegasi Filipina, naik mimbar. Dalam pidatonya, ia menyiratkan bahwa Uni Soviet pun merupakan negara penjajah. “Hak sipil dan politik orang-orang Eropa Timur dan di mana-mana telah dirampas dan dibungkam oleh, tak lain dan tak bukan, Uni Soviet.”

Keributan di PBB

Foto montase sepatu Khrushchev.

Mendengar pernyataan itu, Khrushchev tentu saja naik pitam. Ia langsung mendekati mimbar dan mengisyaratkan Sumulong untuk menyingkir. Dia kemudian mendekati mikrofon dan memberikan responsnya, menyebut Sumulong “brengsek, antek, pesuruh,” dan “penjilat imperialisme Amerika.” Semua ini terjadi di luar kendali, tetapi tak ada yang bisa dilakukan. Ketika selesai, Khrushchev kembali ke tempat duduknya.

Ketika Sumulong melanjutkan kecamannya terhadap rezim komunis, sang pemimpin Soviet menjadi lebih marah. Dia mengangkat tangannya untuk menginterupsi, tetapi ia diabaikan.

Sebagaimana yang diingat penerjemah pribadi Khrushchev, Viktor Sukhodrev, dalam memoarnya, Khrushchev mulai mengepalkan tinjunya dan memukul-mukul meja untuk menarik perhatian Boland. Tak sadar, ia ternyata memukul-mukul meja sambil menggenggam arloji yang ia otak-atik selama sidang.

Sukhodrev kemudian menceritakan perkataan Khrushchev, “Saya mulai memukul dengan kepalan tangan dan saya melihat jam saya berhenti. Sial, saya malah merusak jam tangan karena si penjilat ini! Kemudian saya mengambil sepatu dan mulai membantingnya!” Jadi, peristiwa membanting sepatu itu tidak terjadi di atas mimbar, melainkan di kursi delegasi. Dokumentasi asli selama sidang itulah buktinya.

Bukan Membanting Sepatu

Foto sebenarnya Nikita Khrushchev dan Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrey Gromyko (kanan) pada Sidang Umum PBB, 12 Oktober 1960. Lingkaran merah menandai sepatu di meja Khrushchev.

Jadi, bagaimana sebuah sepatu tiba-tiba muncul pada foto Khrushchev? Peserta Sidang Umum PBB mengingat bahwa ada seseorang yang tak sengaja menginjak bagian belakang sepatu Khrushchev ketika dia tengah duduk pada pembukaan sidang itu. Karena mejanya sangat sempit, Khrushchev tak bisa membungkuk untuk memasang kembali sepatunya. Karena itu, dia hanya meletakkan sepatunya itu di atas mejanya. Cerita yang sama juga diungkapkan putra Khrushchev, Sergey, yang saat itu berusia 25 tahun dan turut menghadiri Sidang Umum PBB.

James Feron, seorang wartawan Times yang juga hadir, mengenang, “Saya sama sekali tak melihat Khrushchev membanting sepatunya.” Menurutnya, sang pemimpin Soviet “membungkuk, melepas sepatunya, mengayun-ayunkannya, dan meletakkannya di atas mejanya. Namun, dia tidak pernah membanting sepatunya.

Senada dengan Feron, John Loengard, mantan editor foto majalah Life, “yakin” bahwa Khrushchev “tidak membanting sepatunya di atas meja,” tetapi “dia pasti bermaksud melakukannya.” Menurut Loengard, Khrushchev “menggapai ke bawah meja dan melepas sepatu cokelat dari kaki kanannya dan meletakkannya di atas meja. Dia menyeringai kepada para delegasi dari Uni Republik Arab Bersatu yang duduk di seberang lorong dan menirukan gerakan (dengan tangan kosong) yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa pada kesempatan berikutnya dia akan membanting sepatu itu. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa seluruh fokus fotografer tertuju pada Khrushchev. Kami menunggunya menggunakan sepatu itu. Namun, dia memakainya lagi dan pergi. Tak ada seorang pun dari kami yang melewatkan momen itu. Jika demikian, itu akan menjadi kesalahan profesional yang serius. Peristiwa itu tidak pernah terjadi.”

Menurut wartawan Jerman Walter Heinkels, seorang pembuat sepatu di Pirmasens mengatakan dia telah melihat foto sepatu itu di sebuah surat kabar dan mengklaim sebagai buatannya. Jerman Barat memang mengirim 30 ribu pasang sepatu ke Uni Soviet, yang 2.000 pasang di antaranya adalah sepatu berkualitas rendah yang bagus. dan salah satunya mungkin dibeli Khrushchev.

Khrushchev dikaitkan dengan sebuah era tersendiri dalam sejarah Soviet, yang disebut masa pencairan. Ia adalah seorang figur yang simbolik.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki