Kendali dari Jauh: Tiga Perang Proksi Rusia-AS yang Tak Banyak Diketahui

Sejarah
BORIS EGOROV
Selama Perang Dingin, dua kekuatan dunia ini bentrok di banyak konflik di seluruh dunia. Perang proksi di Afganistan, Vietnam, dan Angola memang sudah diketahui oleh semua orang, tapi perseteruan keduanya di Etiopia, Laos, dan Kongo kerap dilupakan.

1. Perang Ogaden (1977-1978)

Konflik bersenjata pada 1977-1978 antara Etiopia dan Somalia di wilayah Ogaden yang dipersengketakan adalah paradoks Perang Dingin. Somalia telah lama menjadi sekutu Uni Soviet di Afrika Timur, sementara Etiopia pada dasarnya cenderung pro-AS.

Oleh karena itu, keputusan pemimpin Somalia Mohamed Siad Barre - yang diambil tanpa konsultasi dengan sekutu seniornya - untuk menyerang Etiopia disambut dengan reaksi keras di Moskow. Uni Soviet memutuskan untuk mendukung Etiopia, yang hubungannya dengan AS sedang memburuk saat itu. AS tidak punya pilihan selain mendukung Somalia.

Akibatnya, terjadi situasi yang tidak biasa: penasihat militer Soviet membantu pasukan Etiopia, yang telah dilatih oleh instruktur Amerika dan bertempur dengan senjata Amerika. Sedangkan musuh mereka, pasukan Somalia, masih mengikuti prosedur militer Soviet dan menggunakan senjata Soviet.

Jika bantuan AS ke Somalia tidak bisa dibilang signifikan, dukungan Soviet untuk Etiopia sebaliknya berada dalam skala besar. Soviet mempersenjatai mereka dengan perangkat yang terdiri atas pesawat tempur MiG-21, tank T-55 dan T-62, serta kendaraan  lapis baja pengangkut personel BTR-60. Sistem misil antipesawat Soviet benar-benar melumpuhkan pesawat musuh. Sistem peluncur roket ganda Bm-21, yang semula dimaksudkan untuk tentara Somalia, dikirim ke Etiopia.

Soviet juga mengirim 4 ribu orang penasihat militer ke Etiopia, serta kontingen militer dari negara sekutu, Kuba dan Yaman Selatan. Berkat intervensi Soviet, Somalia mengalami kekalahan yang menghancurkan, dan segera dilanda perang saudara berkepanjangan.

2. "Perang Rahasia" di Laos (1960-1973)

Setelah Prancis angkat kaki dari Indochina pada pertengahan 1950-an, wilayah tersebut terjerumus ke dalam kekacauan perang dan konflik yang saling merugikan, di mana kekuatan-kekuatan besar ikut campur tangan.

Tetapi jika di Vietnam orang Amerika mendukung secara terbuka, di negara tetangganya Laos ada sebutan "perang rahasia" yang sama sekali tak diketahui warga negara AS biasa.

Kekuasaan kerajaan Laos yang lemah — didukung oleh AS dan Vietnam Selatan — ditentang oleh gerakan sosialis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet, Tiongkok, dan Vietnam Utara. Menariknya, kedua kekuatan komunis itu membantu kaum sosialis Laos secara independen satu sama lain, meski hubungan mereka sedang buruk saat itu.

Uni Soviet mempersenjatai Laos dengan amunisi, senjata, dan makanan. Selain itu, lebih dari 100 instruktur dan penasihat militer dikirim ke Laos, bersama dengan kelompok udara pesawat angkut Il-14 dan helikopter Mi-4.

AS, selain mengirim senjata, melatih pasukan kecil (30 ribu ) dari orang-orang Lao Hmong setempat untuk berpartisipasi dalam pertempuran. Orang-orang dari pasukan khusus AS dan instruktur CIA dikirim ke Laos. Terlepas dari keinginan mereka menyembunyikan keterlibatan dalam konflik, AS secara aktif terlibat dalam pengeboman udara terhadap kamp-kamp dan jalur-jalur komunis di Laos.

Terlepas dari semua upayanya, AS kalah dalam perang proksi di Laos. Pada 1975, monarki digulingkan dan Republik Demokratik Rakyat Laos diproklamasikan.

3. Krisis Kongo (1960-1965)

Pada 1960, setelah memproklamasikan kemerdekaannya dari Belgia, Kongo hampir terpecah. Kedua daerah di selatan negara — Kasai Selatan dan Katanga — mendeklarasikan kemerdekaannya masing-masing.

Setelah gagal mendapatkan dukungan PBB dalam perang melawan separatisme, Perdana Menteri Patrice Lumumba beralih ke Uni Soviet, yang menyediakan seribu orang penasihat militer, senjata, dan bantuan material.

Namun, intervensi Soviet memicu reaksi negatif dari Presiden Joseph Kasa-Vubu, yang menyebabkan krisis politik tambahan, perpecahan pemerintahan, dan campur tangan AS.

Lumumba digulingkan dan dieksekusi oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Kongo Joseph-Désiré Mobutu, dengan bantuan dari CIA. Dalam keadaan itu, penasihat Soviet dipaksa meninggalkan Kongo.

Beberapa tahun kemudian, Uni Soviet mendapat kesempatan kedua untuk memijakkan kaki di negara Afrika Tengah ini. Pada 1963, pemberontakan besar-besaran sisi pro-komunis Simba ('singa' dalam bahasa Swahili) dimulai di bagian timur Kongo. Para pemberontak bahkan berhasil menciptakan negara mereka sendiri, Republik Rakyat Kongo, yang segera diakui oleh Uni Soviet dan Tiongkok.

Uni Soviet secara aktif menyuplai senjata untuk para pemberontak . Selain itu, sekitar 100 orang penasihat militer Kuba juga datang membantu di sana.

Namun demikian, dengan dukungan kekuatan udara AS dan pasukan khusus Belgia, pemerintah berhasil menekan pemberontakan, menandai kekalahan Soviet dalam perjuangan untuk Kongo. Diplomat Soviet meninggalkan negara itu, dan hingga beberapa dekade setelahnya hubungan Uni Soviet-Kongo naik-turun.

Tak hanya perang proksi dan adu mulut, hubungan Rusia-AS juga sebenarnya diwarnai kisah 'cinta'. Baca selengkapnya di sini!