‘Negara yang Tak Ada’: Bagaimana Pyongyang Membuat Uni Soviet Melupakan Korea Selatan?

Dengan berpartisipasi dalam Olimpiade Seoul 1989, Uni Soviet secara de facto mengakui Korea Selatan.

Dengan berpartisipasi dalam Olimpiade Seoul 1989, Uni Soviet secara de facto mengakui Korea Selatan.

Valery Zufarov dan Igor Utkin/TASS
Hingga hampir Uni Soviet “tutup usia”, tak banyak rakyat Negeri Tirai Besi yang mengenal Korea Selatan. Hubungan diplomatik antara Seoul dan Moskow baru tercipta pada September 1990, ketika Uni Soviet sendiri berada di ambang kehancuran. Sebelumnya, Uni Soviet hanya mengakui pemerintah Korea Utara di Pyongyang sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di Semenanjung Korea.

Saya ingat bagaimana pada awal 1980-an, profesor saya di Universitas Negeri Leningrad mencoba memesan buku Korea Selatan untuk perpustakaan universitas. Permintaannya tak dipenuhi karena seorang pustakawan idealis di sana dengan bersemangat mengatakan, “Kami tak bisa memesan buku yang diterbitkan di negara yang tidak ada.” Buku-buku itu akhirnya tetap diperoleh, tapi melalui Inggris.

Kebijakan atas kebodohan yang disengaja ini hingga taraf tertentu merupakan akibat dari tekanan politik Pyongyang yang melobi Uni Soviet serta mencegah interaksi yang bahkan paling sederhana antara Uni Soviet dan Korea Selatan.

Namun, kebijakan ini tak akan sukses jika Moskow tak menganggap Korea Utara sebagai sekutu yang berguna kala itu.

Pada 1968, Politiburo (organisasi eksekutif untuk beberapa partai politik, terutama partai-partai komunis) Soviet memutuskan untuk memboikot seluruh kegiatan olahraga, konferensi akademis, serta konvensi internasional yang diselenggarakan Korea Selatan.

Sebagai aturan, pihak berwenang Soviet juga tidak mengeluarkan visa untuk warga Korea Selatan meski ada beberapa pengecualian ketika orang-orang ini datang untuk berpartisipasi dalam kegiatan multilateral yang penting. Seiring waktu berlalu, pengecualian ini menjadi semakin sering.

‘Negara Miskin dan Represif’

Hingga tahun '70-an, masyarakat umum Soviet tak terlalu tertarik pada Korea Selatan dan, sejujurnya, tak punya pandangan khusus terhadap negara tersebut. Bagi sebagian besar warga Soviet, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi, Korea Selatan hanya sebuah negara yang pro kediktatoran militer Amerika, sangat represif, dan dianggap sangat miskin.

Penulis bahkan baru mengetahui keberhasilan ekonomi Korea Selatan saat duduk di bangku universitas pada awal '80-an. Pengetahuan ini dianggap semirahasia, bukan sesuatu yang terlalu banyak didiskusikan di antara orang awam.

Tentu saja, elite Soviet tak seharusnya dipandang sebagai sebagai komplotan rahasia para ideolog. Pemerintah tahu bahwa Korea Selatan berkembang pesat, sementara Korea Utara menjadi beban ekonomi dan politik.

Sejak awal '70-an, muncul pemahaman mengenai fakta bahwa Korea Selatan pada akhirnya harus diakui, terutama karena daya tariknya yang semakin besar sebagai mitra dagang potensial.

Saya ingat sebuah ceramah yang disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Soviet Mikhail Kapitsa yang saya hadiri pada 1983. Sebagian besar audiens terdiri dari mahasiswa dari berbagai universitas Soviet terkemuka yang mengkhususkan diri dalam studi Asia.

Kapitsa adalah orang yang sangat jujur untuk ukuran diplomat Soviet, terutama ketika berbicara di balik pintu tertutup. Ia secara terbuka mengakui bahwa pengakuan resmi Korea Selatan hanyalah masalah waktu.

Bisa ditebak, situasi bergerak cepat di bawah Perestroika. Setelah beberapa pertimbangan, Uni Soviet memutuskan untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Panas 1988 di Seoul.

Sekitar periode waktu yang sama, media Soviet mulai terang-terangan membahas keajaiban ekonomi Korea Selatan, sementara di sisi lain mengejek kultus dan propaganda Korea Utara.

Akhir 1980-an merupakan masa pertukaran yang intens. Tokoh-tokoh Korea Selatan yang kaya dan berkuasa mulai berdatangan ke Moskow dalam jumlah besar. Akhirnya, Mikhail Gorbachev bertemu dengan Presiden Korea Selatan Roh Tae Woo di San Francisco, AS, dan segera setelah itu, hubungan antarnegara terjalin.

Gorbachev juga mengunjungi Pulau Jeju, menjadi kepala negara Rusia pertama yang menginjakkan kakinya di tanah Korea (ya, tidak ada Kepala negara Soviet yang pernah mengunjungi Pyongyang).

Seperempat abad kemudian, Vladivostok menyambut banyak turis Korea Selatan, dan merek-merek Korea, seperti Samsung, hadir di kehidupan sehari-hari di Rusia.

And quiet flows the Han adalah sebuah blog mengenai interaksi historis dan kontemporer antara orang Rusia dan orang Korea. Secara umum, tapi tak selalu, penulis menghindari penulisan isu politik, dan tema utamanya adalah kehidupan sehari-hari, budaya dan kehidupan individu. Dalam blog ini, Dr. Andrei Lankov mengeksplorasi bagaimana budaya Rusia hadir di Korea. Ia membahas migrasi, pernikahan antarbudaya hingga masakan.

Dr. Andrei Lankov, lahir 1963, merupakan sejarawan dengan spesialisasi Korea. Ia juga dikenal akan tulisan jurnalistiknya mengenai sejarah Korea. Ia telah menerbitkan sejumlah buku (empat di antaranya dalam bahasa Inggris) mengenai sejarah Korea. Setelah mengajar sejarah Korea di Universitas Nasional Australia, ia kini mengajar di Universitas Kookmin di Seoul.

Uni Soviet sudah bubar lebih dari seperempat abad yang lalu. Lantas, bagaimana sebetulnya hubungan antara Rusia dan Korea Utara saat ini? Lawan atau kawan?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki