Kisah Iosif Grigulevich, Mata-mata Lincah Soviet yang Menjadi Duta Besar Kosta Rika

Iosif Grigulevich sebagai Pemimpin Redaksi jurnal "Ilmu Sosial Uni Soviet" di Moskow, 1978.

Iosif Grigulevich sebagai Pemimpin Redaksi jurnal "Ilmu Sosial Uni Soviet" di Moskow, 1978.

Prihodko/RIA Novosti
Merencanakan pembunuhan Leon Trotsky, menyabotase barang Nazi saat Perang Dunia II, menjadi diplomat Kosta Rika, dan menulis 30 buku; Iosif Grigulevich, mata-mata super Soviet, telah melakukan semuanya. Namun begitu, karir luar biasanya harus berhenti secara tiba-tiba.

Pertemuan Majelis Umum PBB pada 1951 berlangsung tegang. Dengan sedang berjalannya Perang Dingin, para diplomat cenderung cepat panas dan bisa meledak-ledak. Teodoro B. Castro, penasihat delegasi Kosta Rika, menyampaikan pidato kritik mengenai ancaman Soviet ikut campur dalam urusan dalam negeri Amerika Tengah.

Pidato Castro sangat lancar dan berapi-api hingga delegasi pro-Barat memberinya standing ovation dan Andrey Vyshinsky, Menteri Luar Negeri Uni Soviet saat itu, menyebutnya “anjing penjaga imperialisme.” Ia tidak mengetahui bahwa Castro adalah kompatriotnya yang bekerja secara rahasia.

Foto Josip Broz Tito dengan Iosif Grigulevich (kanan)

Nama aslinya adalah Iosif Grigulevich. Ia lahir di kota Vilno (sekarang Lithuania) pada 1913. Tapi kenapa ia bisa menjadi delegasi Kosta Rika di PBB?

Muda dan Merah

Grigulevich lahir dari keluarga miskin keturunan Karait (etnik kecil yang dekat tali darahnya dengan Yahudi) di Polandia dan tumbuh menjadi seorang komunis taat. Ia bergabung ke Partai Komunis Polandia, dan di umur 17 ia ditahan dan dipenjara sampai akhirnya berhasil kabur dari negara itu pada awal 1930-an.

Sebagai aktivis sayap kiri, Grigulevich berkelana: setelah menyelesaikan studinya di Sorbonne, Prancis ia pindah ke Argentina. Pada 1936 terjadi perang saudara di Spanyol, di mana Partai Republik Kiri Spanyol melawan militan sayap kanan Francisco Franco – dan Grigulevich bergabung dengan rekan seideologinya di medan perang. Di Spanyollah ia direkrut Uni Soviet untuk bekerja sebagai agen rahasia.

Memburu Trotsky, Melawan Nazi

Seperti yang diungkapkan anak Grigulevich Nadezhda dalam sebuah wawancara, setelah dari Spanyol ayahnya bertolak ke Meksiko untuk merencanakan pembunuhan Leon Trotsky, musuh bebuyutan Joseph Stalin. Ada dua kelompok agen independen yang merencanakan hal ini dan Grigulevich masuk adalah bagian dari kelompok yang tidak sukses.

Upaya pembunuhan Mei 1940 gagal – calon pembunuh memberondongi kamar Trotsky dengan tembakan tapi sang politikus 60 tahun sembunyi di bawah kasurnya dan tak terluka.

Namun begitu, upaya Ramón Mercader dua bulan kemudian berakhir sukses. Untuk Grigulevich, setelah Perang Dunia II dimulai ia berfokus menarget pendukung Hitler di Amerika Latin, terutama Argentina.

Meski bukan aliansi khusus Jerman, Argentina mengirim barang-barang untuk Jerman, dan Grigulevich ingin menghentikan ini. Ia mengorganisir 200 orang untuk menyabot kapal-kapal pengiriman. Orang-orang itu berhasil menggagalkan 150 kapal yang mengarah ke Jerman. Setelah sejumlah ledakan dari para pencuri, pemerintah Argentina menghentikan perdagangan dengan pemerintah Jerman.

Poliglot yang Santai

Iosif Grigulevich saat menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet.

Menurut sejarawan Vladimir Chikov, “mudah bagi Grigulevich untuk berbicara dan berpikir dalam 10 bahasa,” mulai dari bahasa Lituania, Polandia, hingga Prancis, Spanyol, dan Portugal.

Ia terutama pintar menyatu dengan warga negara Amerika Latin hingga terlihat mirip. Lebih lagi, ia ramah ke orang-orang dan dapat dipercaya.

Mungkin inilah alasan kariernya yang melesat di Kosta Rika. Ia berteman dengan mantan Presiden José Figueres (yang tentunya berpikir bahwa Grigulevich adalah kompatriotnya). Setelah membantu orang-orang Kosta Rika mendirikan bisnis di Italia, Grigulevich atau (Teodoro B. Castro) ditunjuk menjadi Duta Besar Kosta Rika untuk Italia, Vatikan dan Yugoslavia pada 1952.

Sang agen rahasia menikmati kepercayaan penuh dari para kapitalis di seluruh dunia (bahkan Duta Besar Uni Soviet untuk Italia menyebutnya “musuh URSS” dan reaksioner”), sang agen memberikan Moskow informasi-informasi berharga. Ia merekrut sekitar 200 warga asing.

Akhir yang Cepat

Malangnya untuk sang intelijen Soviet, pekerjaan Castro di Italia tidak berlangsung lama – pada 1956 ia dipanggil kembali ke Moskow.

Setelah kematian Stalin pada 1953 dan kekuatannya setelahnya, banyak agen-agennya yang dianggap tidak dapat dipercaya oleh pemerintah yang baru. Hal ini mengakhiri karier fantastis Grigulevich.

Ia kemudian memulai hidup baru dengan menjadi akademisi dan sejarawan yang menulis sekitar 30 buku mengenai Amerika Latin dan sejarah Kristen. Tidak ada dari teman-temannya yang tahu masa lalunya namun semua orang merespek kesuksesan ilmiahnya. Grigulevich kemudian hidup tenang dan meninggal tahun 1988, tidak lama sebelum Uni Soviet runtuh.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More