Kenapa Intelijen Tidak Mau Membocorkan Informasi Mengenai Rencana Teroris?

Petugas keamanan melewati CCTV.

Petugas keamanan melewati CCTV.

Getty Images
Layanan intelijen di seluruh dunia diajarkan untuk melindungi sumber mereka bagaimana pun caranya, meski hal tersebut membahayakan aliansi mereka.

Meski aksi teroris di Manchester Arena pada 22 Mei 2017 merupakan kejutan untuk para layanan intelijen Britania Raya, tidak dapat dipungkiri bahwa layanan intelijen negara-negara lain mungkin sebenarnya sudah memiliki informasi yang dapat mencegah terjadinya tragedi tersebut. 

Hal serupa juga berlaku untuk ledakan di stasiun kereta bawah tanah Sankt Peterburg. Meski terdengar sinis, kenyataannya adalah layanan intelijen suatu negara jarang membagikan informasi berharga untuk mitra asingnya, meski hal tersebut mempertaruhkan nyawa manusia. 

Sumber Lebih Penting dari Nyawa

Layanan intelijen di seluruh dunia mendapatkan informasi mengenai rencana teroris melalui “sumber” mereka, yaitu agen yang menyamar. Laporan yang diterima lalu dikirim ke pangkalan data (database) nasional, di mana kemudian polisi mengambil data terduga teroris. Di Eropa, data-data ini juga dlengkapi dengan Sistem Informasi Schengen

Masalah dari sistem ini adalah ia sulit mendeteksi teroris aktif di data yang terlalu besar tanpa bantuan langsung dari sumber milik layanan intelijen nasional atau rekan-rekan asing sesama intelijen. 

Sebagai contoh, Salman Abedi, pelaku serangan Manchester, namanya tercantum di daftar orang-orang yang diduga radikal, tapi tampaknya tidak ada layanan intelijen yang memberitahu Britania mengenai rencana serangannya. 

Layanan intelijen jarang membagikan informasi dengan negara lain karena satu alasan: pembagian informasi operasional penting (seperti lokasi dan waktu rencana serangan) dapat membuat sumber yang memberi informasi ketahuan identitasnya. 

Untuk para intelijen profesional, membocorkan informasi operasional mengenai persiapan serangan teroris berarti menempatkan nyawa sumber dalam bahaya. Dan risikonya berbeda jika sumbernya adalah anggota ISIS atau agen intelijen yang bertugas khusus mengamati organisasi teroris 

Menyusupkan agen layanan intelijen ke organisasi teroris adalah tugas yang amat sulit. Sangat sedikit profesional yang mau kerja bertahun-tahun dalam risiko untuk menyelamatkan sedikit warga negara asing. Di mata kebanyakan agen intelijen, 20 nyawa manusia adalah harga yang pantas dibayar untuk tetap membuka saluran informasi yang ke depannya dapat menyelamatkan ratusan atau ribuan warga negara Anda. 

Biasanya, layanan intelijen negara-negara yang beraliansi (seperti AS dan Britania) masih bertukar informasi. Tapi masalahnya adalah informasi yang diberikan sudah diedit terlebih dahulu demi menyembunyikan asalnya dan kemudian melindungi sang “sumber”.   

Pusat Koordinasi Antiteroris

Mengenai aksi teroris di Manchester, ada kemungkinan besar bahwa AS telah menginformasikannya kepada layanan intelijen Britania, tapi informasi operasional penting seperti itu disampaikan dalam bentuk laporan yang tidak bersifat segera, sehingga bisa saja hilang di departemen yang menangani dan memantau database antiteroris. Sangat mungkin bahwa informasi penting ini hanya tidak mencapai unit antiteroris di Manchester. 

Kiriman informasi ke end user (pengguna akhir) di skala internasional hanya dapat dilakukan oleh grup atau pihak yang memiliki mandat khusus dengan kemampuan mengontak unit layanan intelijen dari negara terkait secara cepat dan efektif. 

Adanya pusat koordinasi antiteroris — yang dioperasikan bukan oleh sekadar ‘petugas’, melainkan oleh agen intelijen profesional — dapat memberikan penghalang untuk para teroris dalam memberikan ancaman. Pusat seperti ini harus mampu secara kolektif merahasiakan sumber informasi, menganalisis data yang relevan, dan memastikan kolaborasi dalam pengadaan operasi antiteroris. Permasalahannya adalah bahwa layanan intelijen tidak suka membagikan rahasia mereka. 

Artem Kureev adalah pakar keamanan dan anggota Pusat Penelitian Ekonomi dan Sosial Budaya untuk Peningkatan Negara-negara CIS, Eropa Timur, dan Eropa Tengah.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.