Apa Pendapat Para Musuh Terhadap Tentara Rusia?

Max Alpert/RIA Novosti
Tidak ada yang menginginkan perang, tapi biasanya orang-orang menghargai pertempuran yang baik, dan tentara bisa mendapatkan respek dari musuhnya. Dari invasi Napoleon Bonaparte ke Rusia hingga Perang Dunia II, kami mengumpulkan kenangan dari musuh-musuh Rusia yang mengapresiasi para prajurit yang mereka lawan.

Kami sudah pernah memublikasikan daftar negara yang paling sering berperang dengan Rusia. Sekarang saatnya untuk melihat apa yang dipikirkan para tentara mengenai musuh Rusia mereka.

Perang 1812

Hingga Perang Dunia II, kemenangan terhadap penjajah yang dipimpin Napoleon Bonaparte dianggap yang paling signifikan yang pernah dialami Rusia

Hingga Perang Dunia II, kemenangan besar terhadap pasukan penjajah Napoleon adalah yang paling signifikan yang pernah dialami Rusia.

Meski Moskow direbut Napoleon, Rusia pada akhirnya berhasil memukul mundur tentara Prancis sehingga mereka mengakhiri kampanye Napoleon di sana. Dalam novelnya War and Peace, Leo Tolstoy menjelaskan secara rinci mengenai kehidupan tentara Rusia, dan dijelaskan bahwa Napoleon mengapresiasi mereka.

Napoleon Bonaparte

“Angkatan bersenjata paling hebat tidak dapat berperang melawan bangsa yang telah memutuskan untuk mati […] Seluruh populasi yang terdiri dari orang asli Rusia meninggalkan rumah mereka saat kami menuju ke sana. Di perjalanan, kami hanya menemukan rumah-rumah yang telah ditinggalkan atau dibakar. Para penduduk yang kabur membentuk geng untuk melawan penjajah kami. Mereka tidak pernah mengganggu tentara, tapi menerkam perampok dan orang-orang tersesat.”

Perang Krimea

Dari 1853 sampai 1856, Rusia berkonflik dengan aliansi militer Prancis, Britania, dan Kesultanan Utsmaniyah. Meski pada akhirnya Rusia kalah, keberanian para tentaranya terekam dengan baik di benak para musuh.

Roger Fenton, salah satu fotografer perang pertama

“Negara itu semakin dipenuhi dengan tenda setiap hari, dan setiap hari persiapan orang Rusia untuk melawan tentara semakin sempurna saat parade dimulai […] Kita dapat melihat tentara Rusia berdiri di sandaran dengan berani, menunjukkan kepada teman-temanya ke mana harus mengarahkan senapan. Serbuan pertama dari Prancis gagal, apinya mati, dan kemudian menyala lagi, dan di antara asap itu sebuah bendera dibentangkan setelah Pertempuran Malakoff dan kita semua berseru, ‘Mereka akhirnya akan ke Pertempuran Redan,’ namun bendera kemudian dibentangkan oleh orang Rusia sebagai simbol penentangan, atau lebih mungkin supaya mereka tidak ditembak dari meriam.”

Pertempuran Malakoff terjadi saat Perang Krimea, antara pasukan Britania-Prancis melawan Rusia pada 8 September 1855 sebagai bagian dari Pengepungan Sevastopol. Tentara Prancis sukses menghancurkan benteng Malakoff, dan di saat yang bersamaan Britania tidak jadi menyerang ke Redan yang terletak di selatan Malakhof.

Perang Rusia-Jepang

Perang yang terjadi pada 1904-1905 ini adalah pertama kalinya dalam sejarah ketika kekuatan Eropa dikalahkan oleh sebuah negara non-Eropa. Untuk Rusia, perang dengan Jepang menandakan awal kerusakan yang akhirnya berujung pada keruntuhan kekaisarannya. Namun begitu, perang ini juga melahirkan legenda yang hampir tidak logis mengenai seorang prajurit Rusia, Vasiliy Ryabov.

Kisahnya, Ryabov masuk ke dalam resimen Rusia yang ditempatkan di Manchuria. Sang prajurit terkenal di kalangan rekan-rekannya karena ia mampu berkelakar dengan menirukan mimik tentara Rusia dan Tiongkok. Saat sedang menyerbu suatu hari, Ryabov - yang menirukan mimik petani Tiongkok – ditangkap, diinterogasi, dan dieksekusi musuh.

Ceritanya mungkin selesai di sana, tapi seorang kapten Jepang yang menginterogasinya sangat terkesan dengan Ryabov sehingga ia mengirim surat ke komandan Rusia: “Tentara kami tidak bisa mengungkapkan apa-apa selain merespek tentara (Rusia), sehingga kalian akan memiliki prajurit yang penuh kehormatan seperti ini. Simpati untuk sang prajurit yang sangat berani dan teladan, penuh tanggung jawab, mencapai tingkat tertingginya.”

Perang Dunia I

Perang Dunia I adalah tes terberat untuk tentara Rusia karena pertempuran mereka diperburuk pemberontakan orang-orangnya.

Rusia berkolaborasi dengan Prancis dan Britania Raya di Perang Dunia I, melawan Kekuatan Pusat dari Jerman dan Austria-Hongaria. Perang Dunia I adalah tes terberat untuk tentara Rusia karena pertempuran mereka diperburuk pemberontakan orang-orangnya.

Meski dengan mental jatuh dan pembelotan, beberapa tentara Rusia dikenang sejarah sebagai pemberani.

Koresponden militer sebuah media Austria, Pester Lloyd

“Aneh jika pilot Rusia dihina. Mereka jauh lebih berbahaya dibanding pilot Prancis. Pilot Rusia itu berdarah dingin. Mereka mungkin tidak sekonsisten Prancis dalam penyerangan, tapi di udara mereka tak tergoyahkan dan dapat menerima kekalahan besar tanpa panik.”

Jenderal Jerman Maximilian von Poseck

“Orang Rusia selalu menyerang senapan mesin dan artileri kami, bahkan saat penyerbuan mereka akan gagal. Mereka tidak peduli kekuatan tembakan kami, atau pun kekalahan mereka […] Namun, komandan Rusia tidak selalu menggunakan keuntungan ini.”

Jenderal Jerman Günther Blumentritt

“Tentara Kekaisaran Rusia keras kepala dan gigih saat bertahan, mereka hebat dalam membangun posisi pertahanan dengan cepat. Para tentara Rusia menunjukkan kemampuan hebat saat operasi malam dan saat bertempur di hutan, mereka lebih memilih dengan tangan kosong. Mereka tidak perlu kebutuhan fisik khusus dan kemampuannya melawan hukuman benar-benar mencengangkan.”

Perang Dunia II

Uni Soviet mengalami kekalahan besar di Perang Dunia II, namun mereka malah terlihat seperti pemenang. Hingga saat ini, orang Rusia mengingat kemenangan itu sebagai pencapaian terhebat negara karena mereka melawan penjajah Nazi dengan semangat dan keberanian tanpa peduli hidup mereka. Keinginan menang ini sangat dihormati oleh sang musuh.

Panglima Tertinggi Jerman Paul Ludwig Ewald von Kleist

“Dari awal, orang-orang Rusia menunjukkan bahwa mereka pejuang kelas atas. Kesuksesan kami di bulan-bulan awal adalah karena latihan yang lebih giat. Orang Rusia mendapat ilmu dari pengalaman tempur, menjadi tentara kelas atas, serta bertempur dengan ketekunan dan daya tahan yang luar biasa.”

Jenderal Jerman Franz Halder, Kepala Staf Komando Tertinggi AD Jerman pada 1938-1942

“Tampaknya musuh, melalui inisiatif komandan baru dan mungkin pengaruh Inggris, melakukan segala cara untuk bertahan di garda depan dan tidak mengizinkan kita maju lebih ke timur. Tentara Rusia bertempur dengan keuletan dan kegigihan luar biasa.”

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More