Tak Selalu Mulus, Bagaimana Sejarah Hubungan Rusia-Turki Sebenarnya?

Pertempuran Sinop pada 30 November 1853.

Pertempuran Sinop pada 30 November 1853.

pelukis tidak diketahui
Hubungan bilateral antara Rusia dan Turki praktis memanas sejak pesawat Su-24 milik Rusia ditembak jatuh AU Turki di langit Suriah pada November lalu. Atas permintaan RBTH, sejarawan Pyotr Iskenderov mencoba mengingat kembali berbagai pencapaian dan konflik dalam sejarah kedua negara ini sejak abad ke-17 sampai era Uni Soviet.

Hubungan antara Rusia dan Turki bukanlah hubungan yang selalu mulus. Sejarah mencatat, hubungan antara keduanya dihiasi dengan berbagai pencapaian, tapi tak sedikit pula berbagai kerumitan. Iskanderov menghitung bahwa kedua negara pernah berperang antara satu sama lain setidaknya sepuluh kali, dan sebagian besar peperangan dimenangkan angkatan bersenjata Rusia, yang menyebabkan perluasan wilayah Rusia dan tumbuhnya pengaruh Rusia di dunia, terutama di kalangan orang-orang dari Eropa tenggara yang berada di bawah kekuasaan Turki Utsmaniyah.

Perang Rusia-Turki abad XVII – XVIII

Perang besar antara Rusia dan Turki pertama kali terjadi pada tahun 1672 – 1681. Perang ini disebabkan oleh upaya yang dilakukan Kesultanan Turki untuk mendirikan kontrol atas wilayah Pravoberezhna Ukrayina (bahasa Indonesia: wilayah barat tepi sungai Ukraina), yaitu ketika Hetman Petro Doroshenko bersumpah setia kepada Konstantinopel.

Hetman

Hetman adalah gelar yang secara historis diberikan kepada para komandan militer. Gelar ini merupkan gelar militer tertinggi kedua setelah pemimpin monark pada abad XV – XVIII.

Puncak dari perang ini adalah perebutan benteng Chigirin yang sangat penting di wilayah Cherkasy oleh tentara Rusia, yang dua tahun kemudian diserahkan kembali ke Turki. Perjanjian Bakhchisaray yang ditandatangani pada 1681 menjamin status quo politik dan keamanan di kawasan tersebut secara kesuluruhan.

Tentara Cossack Zaporozhie menulis surat ke sultan Turki. Pelukis: Ilya RepinTentara Cossack Zaporozhie menulis surat ke sultan Turki. Pelukis: Ilya Repin

Perang Rusia-Turki berikutnya yang terjadi pada tahun 1686 – 1700 telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari krisis militer Eropa, yang berlangsung di tengah perang Austro-Turki. Pada tahun 1696, pasukan Rusia berhasil menduduki benteng Azov, yang berdasarkan Perjanjian Konstantinopel yang ditandatangani pada tahun 1700, benteng tersebut diserahkan kepada Rusia. Perjanjian ini memungkinkan Rusia untuk mengonsentrasikan pasukannya untuk melawan Swedia dalam Perang Utara. Satu frase dari surat Peter I yang ditujukan kepada perwakilan Rusia dalam perbincangannya dengan diplomat berpengalaman Emelian Ukraintsev, masuk ke dalam sejarah, “Tentu saja, kita perlu membangun dunia.”

Ketika perang antara Rusia-Turki kembali meletus pada 1735 – 1739, Austria ikut berperang di sisi Rusia. Rusia bermaksud untuk menghentikan serangan dari Tatar Krimea di wilayah Rusia selatan, serta melindungi dan memperluas wilayah negara ke Laut Hitam. Secara umum, perang pada umumnya berakhir dengan kekalahan oleh Rusia. Menurut Perjanjian Beograd yang ditandatangani pada 1739, Rusia tetap mempertahankan benteng Azov, tetapi berjanji akan membongkar segala titik penyerangan di benteng itu, serta menolak untuk memiliki armada sendiri di Laut Hitam, termasuk dalam hal kebutuhan belanja. Dalam kiasan, sejarawan Rusia S. M Soloviev mengatakan bahwa Rusia membayar nyawa 100 ribu tentara demi membongkar titik penyerangan di benteng Azov.

Perang Rusia-Turki berikutnya pada 1768 – 1884 ditandai dengan gebrakan Rusia ke Balkan. Pada musim dingin 1770, tentara Rusia berhasil mencapai Danube. Kemudian pada tahun 1771 di bawah komando Pangeran Vasiliy Dolgorukiy, Rusia memenangkan semenanjung Krimea, dan pada tahun 1773 tentara Rusia tiba di Silistra (kota pelabuhan di utara Bulgaria). Berdasarkan Perjanjian Küçük Kaunarca (1774), Kekhanan Krimea dinyatakan merdeka dari Turki (dalam perang tersebut, Kekhanan Krimea berpindah ke perlindungan Rusia). Rusia berhasil memenangkan wilayah Kabarda Besar dan Kecil, Azov, Kerch, dan wilayah stepa antara sungai Dnepr dan Bug selatan. Selain itu, pasal 14 dalam perjanjian tersebut memberikan Rusia hak untuk membangun sebuah gereja di Konstantinopel yang berada di bawah perlindungan menteri kekaisaran (utusan Rusia) yang menjamin bahwa gereja tidak akan terkena gangguan atau penyalahgunaan.

Berikutnya, perang Rusia-Turki pada 1787 – 1791 semakin memperkuat posisi Rusia di Balkan. Tentara Rusia berhasil merebut Ochakov, Izmail, dan Anapa. Angkatan Laut Rusia berhasil mengalahkan Turki secara telak di Tendra. Selama perang ini, tentara Turki tidak berhasil memenangkan peperangan satu pun atas tentara Rusia yang khususnya berada di bawah komando Aleksander Suvorov dan Laksamana F.F. Ushakov. Perjanjian Jassy yang ditandatangani pada 1791 tak hanya menegaskan kepemilikan Krimea dan Ochakov oleh Rusia, tetapi juga menetapkan perbatasan Rusia-Turki yang baru di sepanjang Dniester.

Perang yang Tak Dideklarasikan

Perang yang terjadi pada 1806 – 1812 adalah satu-satunya dari seluruh perang Rusia-Turki yang tidak dideklarasikan oleh Rusia. Selain itu, di tahun-tahun sebelumnya dua kekuatan besar bersatu menjadi aliansi, yang kemudian menjadi reaksi atas Perang Napoleon Prancis. Aliansi membuat kejutan, bahkan Kanselir Negara Pangeran A.A. Bezborodko mengatakan, “Harusnya ada orang gila seperti orang Prancis yang menghasilkan sesuatu yang tak bisa saya bayangkan, bukan hanya di kementerian saya saja, tetapi bahkan di abad ini, yaitu aliansi kami dengan Porte Utsmaniyah.”

Porte

Dalam Kesultanan Turki, meski sultan adalah monarki tertinggi, kewenangan politik dan eksekutif sultan didelegasikan ke orang lain. Politik negara melibatkan sejumlah penasihat dan menteri yang membentuk dewan bernama Divan (setelah abad ke-17 namanya berubah menjadi “Porte”).

Alasan berperang adalah demi mencabut kuasa Turki atas pemimpin Moldavia dan Wallachia yang berhubungan baik dengan Rusia. Pada saat yang sama, Rusia khawatir dengan memburuknya hubungan dengan Prancis sehingga tidak bisa mengambil tindakan militer apa pun terhadap Turki. Namun, segera setelah invasi Prancis ke Rusia memberikan perspektif yang lebih jelas, Rusia memutuskan mengambil solusi cepat untuk mengatasi masalah di perbatasan selatan. Sebuah kampanye militer yang sukses dari Marsekal Rusia Mikhail Kutuzov memaksa Kesultanan Turki untuk meninggalkan Bessarabia dan menyerahkannya kepada Rusia yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Bucharest tahun 1812.

“Kebangkitan Balkan” dan Perang Krimea

Perang Rusia-Turki pada 1828 – 1829 merupakan sebuah tonggak baru, tidak hanya dalam hubungan bilateral antara kekaisaran Rusia dan Turki Utsmaniyah, tetapi juga dalam sejarah Balkan. Rusia mendeklarasikan perang pada tahun 1828 dengan alasan Porte Utsmaniyah menolak memenuhi perjanjian sebelumnya. Perang berjalan dengan sukses dari sisi Rusia di garis depan Balkan dan Kaukasus.

Menurut Perjanjian Adrianople (1829), sebagian besar pesisir Laut Hitam timur, berikut kota Anapa dan Sukhum, serta delta Danube masuk ke dalam wilayah Rusia. Turki Utsmaniyah mengakui kekuasaan Rusia atas wilayah Georgia dan Armenia, serta memberikan otonomi kepada Serbia. Seluruh wilayah Balkan era Adrianople ditandai dengan pembangunan ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang pesat di segala daerah kekuasaan Kristen. Periode perang 1828 – 1829 ini dikenal dengan sebutan “Kebangkitan Balkan”.

Garis depan Rusia-Turki adalah salah satu yang terpenting, tapi bukan yang menentukan selama perang Krimea yang berlangsung pada tahun 1853 – 1856. Di Kaukasus, pasukan Rusia berhasil mengalahkan tentara Turki dan merebut Kars. Namun, isolasi diplomatik memaksa Rusia untuk menandatangani perjanjian damai Paris yang tidak menguntungkan bagi Rusia. Perjanjian tersebut memaksa Rusia untuk menyerahkan wilayah Bessarabia Selatan dan wilayah muara Danube, serta “netralisasi” Laut Hitam kepada Kesultanan Turki. Perang Krimea adalah satu-satunya bentrokan yang terjadi di Eropa dengan partisipasi Rusia, Inggris, Turki, Prancis, serta Sardini, dan secara diplomatis melibatkan Austria selama abad yang memisahkan antara Perang Napoleon dengan Perang Dunia I.

Perang Rusia-Turki berikutnya pada 1875 – 1878 menjadi bagian yang tak terpisahkan dari krisis Timur Besar (1875 – 1878) yang disebabkan oleh munculnya gerakan-gerakan pembebasan nasional bangsa Balkan yang dibantu oleh Rusia. Selama pertempuran berdarah, tentara Rusia berhasil menduduki Shipka Pass di Bulgaria dan mencapai Konstatinopel. Namun, tekanan dari Barat mengancam Rusia dengan peperangan. Sankt Peterburg dipaksa membuat konsesi. Perjanjian Berlin pada tahun 1878 memutuskan wilayah bagian Bessarabia Selatan dan berikut benteng Kars, Ardahan, dan Batum harus dikembalikan kepada Rusia. Selain itu atas tuntutan Rusia, kemerdekaan Serbia, Montenegro dan Rumania pun diakui. Turki Utsmaniyah menerima pukulan yang tak mampu mereka atasi. Sejarawan Amerika asal Turki Kemal Karpat mengamati bahwa Perang Rusia-Turki (1877 – 1878) merupakan pukulan fatal bagi kesultanan tradisional Turki dan membuka jalan bagi pertumbuhan Turki sebagai kelompok nasional dengan entitas politik sendiri.

Abad XX

Selama Perang Dunia I, garis depan Rusia-Turki bukanlah prioritas. Di Kaukasus, pasukan Rusia berhasil merebut Erzurum, Trabzon, dan Bitlis. Selama kampanye Persia (1914 – 1916), tentara Rusia berhasil menghabisi tentara Turki dari Persia. Namun, revolusi di Rusia menyebabkan penghentian operasi militer.

Usai Perang Dunia I, Rusia adalah salah satu dari yang pertama yang mengakui pemerintahan sekuler Turki Mustafa Kemal Ataturk. Menurut perjanjian damai yang disimpulkan pada tahun 1921 oleh Uni Soviet dan republik-republik Kaukasus Selatan dengan Turki, wilayah Kars dikembalikan ke Turki dan distrik Batumi masuk ke Georgia, dan berdasarkan perjanjian tersebut Republik Otonomi Sosialis Soviet Adjar dibentuk..

Selama Perang Dunia II, Turki tetap netral, tetapi pada tahun 1952 Turki bergabung ke dalam NATO. Meski begitu, hal tersebut tidak berpengaruh negatif pada hubungan Soviet-Turki. Pada bulan Mei 1953, Pemerintah Soviet mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pemerintah Armenia dan Georgia kemungkinan akan membatalkan klaim dan keluhan kepada Turki terkait wilayah tertentu miliknya. Pemerintah Soviet menganggap kemungkinan terjaminnya kemanan Uni Soviet dari sisi selat dalam kondisi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak (Uni Soviet dan Turki).

Pada tahun 1961, Presiden AS John F. Kennedy memutuskan untuk menempatkan rudal jarak menengah milik Amerika di Turki. Hal ini kemudian menyebabkan reaksi Soviet untuk menempatkan rudalnya di Kuba dan menyebabkan Krisis Rudal Kuba.

Pyotr Iskenderov adalah Ph.D. di bidang ilmu sejarah dan sekaligus peneliti senior di Institut Studi Slavia Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAN).

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.