Cegah Persebaran Ebola, Rusia Kembangkan dan Kirim Seribu Vaksin ke Guinea

Ebola adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus dan menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita, seperti urine, tinja, air liur, serta air mani.

Ebola adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus dan menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita, seperti urine, tinja, air liur, serta air mani.

Reuters
Ebola telah menimbulkan wabah pada penyakit demam berdarah pada manusia dengan angka kematian mencapai 89 persen sejak tahun 1976 hingga 2012 di Afrika.

Para peneliti dari Institut Penelitian Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya di Rusia telah mengirim seribu dosis vaksin Ebola yang mereka kembangkan ke Republik Guinea di Afrika pada Rabu (12/7).

“Kiriman vaksin pertama berjumlah seribu dosis, yang berarti seribu orang akan divaksinasi,” ujar Alexander Semikhin, Kepala Departemen Produk Bioteknologis di institut tersebut, seperti yang diberitakan TASS.

Vaksin dengan nama Gam Evac Combi itu ditujukan untuk mencegah persebaran virus mematikan tersebut. Menurut Semikhin, setelah vaksinasi pertama, setiap orang akan divaksinasi ulang 21 hari setelahnya.

Menurut Kementerian Kesehatan Rusia, Gam Evac Combi adalah vaksin pertama di dunia yang terdaftar secara resmi untuk pencegahan terjadinya hemoragi (pendarahan) yang disebabkan oleh virus Ebola.

Ebola adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus dan menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita, seperti urine, tinja, air liur, serta air mani. Di Afrika, virus ini telah menimbulkan wabah pada penyakit demam berdarah pada manusia dengan angka kematian mencapai 89 persen sejak tahun 1976 hingga 2012.

Sebelumnya, Gam Evac Combi telah dipresentasikan kepada Organisasi Kesehatan Dunia pada Februari silam di Jenewa. Menteri Kesehatan Rusia Veronika Skvortsova mengatakan bahwa vaksin tersebut efektif dan tidak memiliki efek samping.

“Seratus persen orang yang telah divaksinasi memiliki titer antibodi tinggi untuk menjaganya dari perantara penyebab virus. Kami telah memonitor orang yang divaksinasi selama lima bulan saat ini, dan titer ini tetap tinggi selama itu. Saat diuji coba, serum darah dari yang divaksinasi sepenuhnya membunuh dan menetralisasi virus,” ujar sang menteri menjelaskan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.