Pakar Terkejut dengan Lonjakan Angka Kematian di Rusia

Foto: EPA

Foto: EPA

Angka kematian di Rusia meningkat 5,2 persen dalam kuartal pertama 2015, dan para pakar terkejut mengetahui 22 persen peningkatan angka kematian terjadi akibat penyakit pernafasan. Sejauh ini, pakar enggan menyebutkan alasan spesifik lonjakan angka tersebut.

Pakar Rusia tengah berusaha keras memahami lonjakan angka kematian di Rusia yang tak terduga dalam beberapa bulan pertama 2015.

Berdasarkan data resmi yang diluncurkan oleh Badan Statistik Rusia (Rosstat), dalam kuartal pertama 2015 angka kematian di Rusia meningkat 5,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut didata pada bulan Februari hingga Maret.

Jumlah keseluruhan warga yang meninggal dalam kuartal pertama 2015 mencapai 507 ribu, meningkat 23.500 jiwa dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Peningkatan angka kematian tertinggi terjadi pada mereka yang menderia penyakit pernafasan (22 persen), diikuti oleh penyakit sistem percernaan (sepuluh persen), penyakit infeksi (6,5 persen), dan masalah sirkulsi darah (lima persen). Sementara, tingkat kematian bayi dan kematian akibat penyebab eksternal, termasuk pembunuhan dan bunuh diri, mengalami penurunan. Tren ini tengah diteliti di seluruh negeri.

Klik untuk memperbesar infografis

Tren Dadakan Bingungkan Para Ahli

Pakar menolak untuk berspekulasi terkait statistik periode tiga bulan ini, dan menyebutkan bahwa angka tersebut mungkin akan turun pada bulan-bulan berikutnya. Selain itu, saat ini mereka merasa belum memiliki cukup data untuk menyimpulkan apapun.

"Sulit untuk menduga penyebab peningkatan angka kematian secara mendadak karena belum diketahui kategori populasi mana yang mengalami lonjakan tersebut," terang Alla Tyndik, peneliti senior di Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration. "Kita tidak bisa menghubungkan statistik ini dengan krisis ekonomi atau reformasi sistem layanan kesehatan di Rusia."

Berdasarkan penelitian sebelumnya, untuk mengaitkan tingkat kematian dengan krisis ekonomi, statistik harus memperlihatkan peningkatan drastis angka kematian di kalangan pria usia produktif di kota kecil dan kota besar.

"Pada krisis sebelumnya yang terjadi tahun 1990-an, mayoritas kematian terjadi pada golongan tersebut. Krisis saat ini mungkin memiliki dampak serupa, tapi tidak terjadi dengan cepat. Jika harga obat terus naik dan layanan kesehatan semakin buruk, angka kematian akan meningkat di kalangan lansia," tutur Tyndik. Ia menambahkan bahwa terdapat penjelasan lain terkait hal ini. "Angka harapan hidup meningkat, dari 70 tahun menjadi 80 tahun, sehingga bisa jadi hal tersebut membuat angka kematian mengalami lonjakan mendadak."

Wakil Kepala Institut Demografik di Higher School of Economics di Moscow Sergei Zakharov memiliki tesis tersendiri terkait hal ini. Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kelompok usia yang mengalami tingkat kematian tertinggi (70-75 tahun) merupakan golongan yang jumlahnya paling kecil dalam populasi, misalnya mereka yang lahir pada tahun 1940-an.

"Mereka akan segera digantikan oleh generasi dengan jumlah yang jauh lebih besar, yang lahir pada tahun 1950-an, sehingga menciptakan peningkatan angka kematian," terang Zakharov.

Perubahan Penyebab Kematian

Seorang peneliti senior di Pusat Penelitian Demografis Yevgeny Andreyev menyebutkan bahwa angka harapan hidup di Rusia meningkat pesat sejak 2004.

"Angka harapan hidup telah meningkat enam tahun, dua kali lipat dibanding negara maju. Di saat yang sama, Rusia juga berada di level yang dilewati oleh negara maju 50 tahun lalu," tambah Andreyev.

Berdasarkan statistik terbaru World Health Organization (dari 2013), angka harapan hidup di Rusia ialah 69 tahun, sama dengan bekas republik Soviet Kirgistan, Uzbekistan, dan Tajikistan, serta berada di atas Kazakhstan, Nepal, dan Mongolia.

Andreyev mengaitkan perubahan angka harapan hidup dengan beberapa alasan: tingkat kecanduan alkohol di Rusia telah berkurang, warga Rusia mulai memantau tekanan darah mereka, dan ada peningkatan dalam angka operasi jantung.

Seperti yang telah disebutkan, jumlah kematian akibat penyakit sirkulasi darah turun drastis, karena diagnosis tersebut hanya diberikan untuk kasus-kasus yang memperlihatkan tak ada kemungkinan penyebab lain, terang Andreyev.

"Ketika seorang lansia meninggal, ada banyak penyebab, dan dokter dapat memilih penyebab yang tak berhubungan dengan sistem sirkulasi darah. Pemerintah telah menetapkan target bagi sektor kesehatan untuk menurunkan jumlah kematian akibat faktor tersebut, namun itu tak bisa berubah dalam waktu cepat hanya dengan langkah medis dan preventif," kata Andreyev.

Salah satu kategori yang menunjukan peningkatan angka kematian tahun ini dan tahun lalu adalah penyakit pernafasan, seperti demam, flu, dan pneumonia. "Ada dugaan bahwa wabah flu mungkin ikut berperan di sini," tuturnya.

Gagasan bahwa peningkatan angka kematian mungkin disebabkan oleh flu didukung dengan pengingkatan kematian akibat tumor, karena biasanya angka tersebut sangat stabil dan sedikit bergantung pada intervensi layanan kesehatan, kala flu dan demam biasa mungkin menyebabkan kematian pada tubuh yang sudah melemah akibat penyakit lain.

Salah satu hal umum di Rusia adalah tingginya kematian akibat penyebab eksternal (kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan, dan lain-lain). "Kita dapat menurunkan tingkat kematian dari penyebab ini," kata Tyndik menyimpulkan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.