Media Sebut AS Ingin Mempersenjatai Pemberontak Suriah untuk Melawan Rusia

Menurut laporan Washington Post, Obama tak menolak atau pun menyetujui Rencana B karena ia enggan membuat keputusan terkait masalah ini.

Menurut laporan Washington Post, Obama tak menolak atau pun menyetujui Rencana B karena ia enggan membuat keputusan terkait masalah ini.

Reuters
Gedung Putih dikabarkan telah beberapa kali membahas hal ini dalam pertemuan belakangan ini. Namun, Obama menunjukkan sikap ambigu terhadap rencana tersebut.

Pemerintah AS diam-diam telah mempertimbangkan untuk mengirim tambahan pasokan senjata api bagi kelompok pemberontak yang didukung CIA untuk melawan pasukan pemerintah Suriah, termasuk sejata yang dapat digunakan melawan pesawat dan artileri Rusia, demikian dilaporkan media Amerika Serikat Washington Post, seperti dikutip RT.

Washington Post megutip pejabat AS yang tak disebutkan namanya megenai ‘Rencana B’ yang kemungkinan akan diambil jika “usaha diplomatik gagal”, yakni mempersenjatai kelompok pemberontak Suriah yang didukung AS dengan truk dengan senjata antipesawat, yang bisa membantu unit kelompok pemberontak “mempertahankan diri saat melawan pesawat dan artileri Rusia.”

Kabarnya, rencana tersebut telah dibahas beberapa kali dalam pertemuan mingguan Gedung Putih belakangan ini dan sudah diajukan kepada Presiden AS Barack Obama pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional AS, Jumat (14/10).

Menurut laporan Washington Post, Obama tak menolak atau pun menyetujui Rencana B karena ia enggan membuat keputusan terkait masalah ini. Pasokan senjata baru untuk 'kelompok oposisi moderat' bisa menewaskan pasukan Rusia yang membantu Tentara Suriah, dan hal tersebut dapat memicu konfrontasi langsung dengan Moskow yang tak diinginkan oleh Obama.
Sementara, Direktur CIA John Brennan dan Menteri Pertahanan AS Ashton Carter kabarnya mendukung rencana tersebut. Namun, banyak pihak yang merasa skeptis, termasuk Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Seorang narasumber dari Gedung Putih juga menyampaikan pada Washington Post bahwa keputusan untuk tidak meningkatkan pasokan senjata bagi kelompok pemberontak Suriah “mencerminkan meningkatnya skeptisme” dalam pemerintah AS terkait ekspansi “program rahasia CIA”. Padahal, selama tiga tahun terakhir mereka telah melatih dan mempersenjatai kelompok oposisi moderat Suriah, tulis media tersebut. Hal tersebut merupakan elemen inti dari strategi AS untuk menekan Presiden Suriah Bashar Assad agar ia mengundurkan diri.

AS mendukung pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didirikan pada 2011 lalu oleh pejabat Pasukan Bersenjata Suriah dan bertujuan menggulingkan pemerintahan Assad. Terdapat beberapa laporan yang menyebutkan bahwa koalisi AS telah memasok senjata bagi para pemberontak FSA, termasuk roket SSM Grad, terutama sejak digelarnya serangan militer di Aleppo yang didukung Rusia.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Gedung Putih masih memandang kelompok pemberontak FSA sebagai satu-satunya pasukan di Suriah yang dapat memperpanjang perang dan kelak bisa menurunkan Assad.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More