Rusia dan Arab Saudi Sepakat Stabilkan Pasar Minyak

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud berjabat tangan di sela-sela pertemuan KTT G-20 di Antalya, Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud berjabat tangan di sela-sela pertemuan KTT G-20 di Antalya, Turki.

Michael Klimentyev/RIA Novosti
Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyampaikan bahwa Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan merupakan salah satu pihak berpengaruh dalam stabilitas pasar minyak.

Moskow dan Riyadh telah menyepakati rencana untuk mestabilkan harga minyak setelah keduanya bertemu di ibu kota Arab Saudi, Minggu (23/10), demikian dikabarkan RT.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak bertemu dengan perwakilan Arab Saudi dan negara produsen minyak utama lain dalam Konferensi Dewan Kerja Sama untuk Negara Arab di Teluk (GCC) di Riyadh. Mereka membahas upaya untuk menciptakan stabilisasi harga minyak yang terus merosot. Dialog tersebut berhasil membuahkan kesepakatan.

“Kami membahas pertanyaan terkait pembekukan produksi minyak di Rusia dan negara lain yang mungkin akan bergabung,” tulis Novak di akun Twitter-nya. “Namun terlalu dini untuk untuk memanggil tokoh-tokoh tertentu. Kami masih memiliki waktu hingga 30 November, saat OPEC akan bertemu untuk mencari solusi bersama,” tutur Novak.

Pihak Arab Saudi juga optimis terhadap rencana ini. “Arab Saudi memegang peran penting dalam koordinasi antara Rusia dan OPEC, terutama dengan negara-negara Teluk,” kata Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih, seperti dikutip Reuters. “Dalam pertemuan hari ini, kami telah menyamakan gagasan mengenai target yang bisa kami capai pada November mendatang,” lanjut al-Falih.

Di awal konferensi GCC, Falih menyampaikan bahwa Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan merupakan salah satu pihak berpengaruh dalam stabilitas pasar minyak.

OPEC, Organisasi Negara Pengekspor Minyak, dijadwalkan akan bertemu pada 30 November di Wina, Austria, untuk membahas pengurangan jumlah produksi guna menaikkan harga minyak, atau setidaknya menjaga harga tetap bertahan di titik stabil. Penurunan harga minyak telah melemahkan investasi di industri tersebut dan berdampak negatif terhadap ekonomi global, termasuk ekonomi Rusia.

Pada konferensi sebelumnya di Aljazair, OPEC menargetkan pemangkasan produki hingga 32,5 – 33 juta barel per hari, meski hal tersebut belum diputuskan secara khusus. Dengan mengundang anggota non-OPEC dalam pertemuan tersebut, para produsen minyak berharap dapat meningkatkan efektivitas rencana mereka.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.