Dibanding Trump dan Clinton, Netizen Lebih Pilih Putin Jadi Presiden AS

23 Desember 2014, Moskow. Vladimir Putin tak bisa menahan emosinya saat menyaksikan peluncuran roket Angara dari kosmodrom Plesetsk.

23 Desember 2014, Moskow. Vladimir Putin tak bisa menahan emosinya saat menyaksikan peluncuran roket Angara dari kosmodrom Plesetsk.

AP
Hal tersebut terungkap dalam survei yang digelar oleh akun Twitter Kim Dotcom.

Meski bukan orang Amerika dan tak ikut memperebutkan kursi presiden di Gedung Putih, Vladimir Putin menjadi pilihan yang lebih populer untuk menjadi presiden AS dibanding Donald Trump atau Hillary Clinton. Hal itu terungkap dari hasil survei via Twitter yang digelar Kim Dotcom, demikian dilaporkan RT.

Sang presiden Rusia menang dengan dukungan 53 persen, mengalahkan Trump yang memperoleh suara 25 persen, dan Clinton di posisi terakhir dengan peraihan suara 22 persen. Survei tersebut diikuti oleh lebih dari lima ribu orang.

Akun Kim Dotcom melempar pertanyaan "Siapa yang menurut Anda layak menjadi presiden AS selanjutnya?", dan Putin menjadi pilihan yang paling unggul dalam survei tersebut. Hal itu tak mengejutkan melihat persengketaan antara dua kandidat yang paling tak populer sepanjang sejarah dalam kampanye pemilu AS.

Beberapa peserta survei bahkan menyebut Bernie Sanders atau bahkan bintang film porno Ron Jeremy akan pilihan yang lebih baik dibanding Trump atau Clinton.

Tak jelas siapa yang didukung oleh Kim Dotcom, tapi sepertinya ia bukan penggemar Hillary Clinton, karena ia membongkar bocoran WikiLeaks mengenai Clinton lewat akun tersebut dan menyebut sang politikus menerapkan 'politik kotor'.

"Clinton mungkin akan menandatangani permohonan ekstradisi saya. Dan saya akan menandatangani akhir dari karir politiknya," kata Kim.

Kim Dotcom, yang aslinya berasal dari Jerman, saat ini sedang memperjuangkan ekstradisi dari Selandia Baru ke AS, di tengah tuntutan hukum terkait hak cipta dan pencucian uang atas situs berbagi dokumennya, Megaupload, yang kini sudah dinonaktifkan.

Pemerintah AS menyebut empat pria, termasuk Dotcom, membayar pengguna situs untuk mengunggah dokumen yang memiliki hak cipta ke situs tersebut, dan memperoleh lebih dari 175 juta dolar AS. Jaksa juga menyebut bahwa Megaupload berutang pada pemegang hak cipta lebih dari 500 juta dolar AS.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More