Parlemen Rusia Akan Ratifikasi Kontrak Pangkalan Udara Rusia di Suriah

Pesawat pengebom Rusia Su-34

Pesawat pengebom Rusia Su-34

AP
Putin mengajukan usul untuk menempatkan pasukan secara tak terbatas.

Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) akan meratifikasi perjanjian penempatan Angkatan Udara Rusia di pangkalan udara di Suriah secara tidak terbatas paling cepat Jumat ini, demikian disampaikan anggota majelis senior Rusia pada Selasa (4/10), seperti dilaporkan RT.

“Kemungkinan besar Duma akan meninjau RUU ini pada Jumat. Keputusan akhir untuk memasukan isu ini dalam agenda sidang parlemen akan diputuskan dalan beberapa hari kedepan,” kata anggota Duma Rusia Leonid Slutskiy seperti dikutip dari Interfax. Slutskiy kembali terpilih menjadi anggota Duma Rusia pada pertengahan September lalu dan kabarnya ia akan menjadi kepala baru Komite Majelis Rendah Hubungan Internasional.

Menanggapi pernyataan Slutskiy, Kepala Komite Majelis Tinggi Hubungan Internasional Konstantin Kosachev menyebutkan jika Duma meratifikasi perjanjian minggu ini, Majelis Tinggi akan meninjaunya pada 12 Oktober mendatang.

Pada 9 Agustus lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan rancangan perjanjian antara Rusia dan Suriah pada Duma terkait penempatan kelompok Angkatan Udara Rusia di pangkalan udara Hmeimim, Provinsi Latakia, Suriah secara tidak terbatas. Perjanjian yang ditandatangani di Damaskus, Suriah pada 26 Agustus tahun lalu ini menetapkan bahwa kelompok Angkatan Udara Rusia akan ditempatkan di lapangan udara Hmeimim di Provinsi Latakia, Suriah untuk menjaga perdamaian dan stabilitas wilayah tersebut.

Dokumen perjanjian juga menekankan bahwa penempatan tersebut bertujuan untuk memperkuat pertahanan dan tak akan mengincar negara lain sebagai target. Dokumen tersebut dimuat di situs resmi pemerintah Rusia untuk pada 14 Januari. Menurut Kepala Direktorat Perjanjian Internasional Kementerian Pertahanan Yevgeniy Buzhinskiy, ini adalah pertama kalinya perjanjian semacam itu diumumkan ke publik segera setelah penandatanganan. Sebelumnya, perjanjian seperti ini dirahasiakan selama puluhan tahun.

Rusia pertama kali menempatkan pasukan udaranya di Suriah pada 2015, setelah Presiden Suriah Bashar al-Assad meminta bantuan Rusia secara resmi untuk memerangi ISIS dan beberapa kelompok afiliasinya di negara tersebut. Pesawat tempur Rusia mulai melancarkan operasi militer ke posisi kelompok teroris di Suriah pada 30 September 2015 dan aksi tersebut telah membantu militer Suriah mengusir para teroris keluar dari Suriah.

Pada 14 Maret 2016, Putin memerintahkan penarikan sebagian pasukan Rusia karena Rusia dianggap telah memenuhi misinya di Suriah. Meski demikian, sejumlah kecil jet tempur Rusia tetap berada di Hmeimim dan terus menyerang posisi kelompok teroris. Rusia juga menempatkan beberapa pasukan khusus dan sistem penangkal serangan udara di wilayah tersebut untuk melindungi pangkalan udara dari serangan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More