Gagal Penuhi Janji di Suriah, Washington Cari ‘Kambing Hitam’

Menteri Luar Negeri John Kerry (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Sidang Majelis Umum PBB ke-71 di Manhattan, New York, AS.

Menteri Luar Negeri John Kerry (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Sidang Majelis Umum PBB ke-71 di Manhattan, New York, AS.

Reuters
Aksi Washington membuat para militan teroris kembali berkelompok di Suriah.

Washington gagal memenuhi inti perjanjian mengenai Suriah dan sedang mencoba menyalahkan pihak lain atas kegagalan ini, demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova.

AS mencoba mengalihkan kesalahannya kepada Rusia atas ketidakpatuhannya pada perjanjian mengenai Suriah, kata Zakharova kepada stasiun TV Rusia Channel One, Senin (3/10).

“Sepertinya Washington telah gagal dalam menaati pasal kunci perjanjian yang bertujuan menstabilkan situasi bagi penduduk Aleppo,” kata Zakharova.

“Dan sekarang, AS terbukti gagal dalam menaati perjanjian yang mereka buat sendiri, lalu mereka mencoba membebankan tanggung jawab pada pihak lain,” tambahnya.

Menurut Zakharova, aksi Washington membuat para kelompok teroris Suriah kembali berkelompok. “Kelambanan Washington mengakibatkan sejumlah militan kembali berkelompok pada periode tersebut, menenteng senjata, dan mengerahkan sumber daya mereka,” terang sang jubir.

“Secara umum, semua berujung pada pertanyaan sederhana: siapakah Jabhat al-Nusra, siapa yang mendalangi mereka, dan mengapa Washington tak dapat memenuhi apa yang telah mereka janjikan, seperti memisahkan kelompok teroris dan yang disebut sebagai kelompok oposisi moderat,” lanjut Zarakhova.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More