Pakar Rusia Sebut Sekutu AS Hancurkan Separuh Suriah

Sebuah pesawat MiG mendarat di kawasan Hawiqah, Deir Ezzor, Suriah pada 26 Februari 2013.

Sebuah pesawat MiG mendarat di kawasan Hawiqah, Deir Ezzor, Suriah pada 26 Februari 2013.

AFP / East News
Menurut pakar Rusia, Washington menganggap kegiatan mereka di Suriah terbilang ‘sopan' padahal “sekutu AS menghancurkan sebagian negara tersebut”.

Menjawab pernyataan Perwakilan Tetap AS untuk PBB Samantha Power yang menyalahkan Rusia dan Damaskus yang bertindak ‘barbar’ dan bertanggung-jawab atas berbagai kekerasan yang terjadi di Aleppo, analis politik Rusia menilai Washington menganggap kegiatan mereka di Suriah terbilang ‘sopan’ padahal “sekutu AS menghancurkan sebagian negara tersebut”, demikian dilansir surat kabar RIA Novosti, seperti dikutip Sputnik.

Analis politik Rusia Maria Balyabina menyebut pernyataan Power tak berhubungan dengan kepentingan Suriah. “Tampaknya (negara Arab yang dilanda perang) dan kehadiran teroris di wilayah tersebut tidak terlalu berkaitan dengan suasana hati dan rencana Washington. Power menuding Rusia melakukan ‘serangan udara dan darat besar-besaran’,” kata Balyabina. “Tentu Rusia sedang melawan pemberontak bersenjata, padahal seharusnya Moskow berperang melawan pemerintah Suriah!” tambahnya dengan ironi.

Sejak lama, Rusia dan AS tidak sepaham tentang penyebab krisis Suriah dan cara penyelesaiannya. Moskow lebih fokus menangkap kelompok teroris yang berperang di sana, sementara Washington melihat Presiden Bashar al-Assad sebagai elemen di balik konflik tersebut. Beberapa bulan terakhir, AS telah menyesuaikan kembali fokusnya, menyebut bahwa prioritas utama mereka saat ini ialah memusnahkan ISIS. Namun, penggulingan Assad masih menjadi agenda Washington.

Dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Power menyatakan bahwa AS, Inggris, dan Prancis ingin mengusir kelompok radikal keluar dari Aleppo, salah satu kota terbesar di Suriah yang menjadi lokasi perang selama 5,5 tahun terakhir, setelah Tentara Suriah Arab meluncurkan serangan besar di sana.

Operasi tersebut diumumkan beberapa hari setelah gencatan senjata nasional yang diusung oleh Moskow dan Washington, namun gagal karena ratusan pelanggaran. Pejabat militer Rusia dan Suriah menyalahkan pemberontak militan yang didukung AS melanggar gencatan senjata tersebut.

“Hanya Angkatan Udara Rusia dan Tentara Suriah Arab yang memegang perjanjian gencatan senjata, sementara kelompok militan terus melakukan serangan,” tulis Balyabina. “Di antara mereka adalah militan yang disebut AS sebagai ‘oposisi moderat’ dan ada pada daftar kelompok yang seolah-olah mendukung pemisahan diri dari pertempuran.”

Suriah dilanda perang sipil sejak 2011 lalu, melibatkan konflik antara tentara pemerintah yang loyal kepada Assad melawan kelompok oposisi dan teroris.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More