Posisi AS Atas Perjanjian di Suriah: Jika Terjadi Kesalahan, Salahkan Rusia

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Kremlin.ru
Perjanjian gencatan senjata yang disepakati diplomat Rusia dan Amerika demi mengurangi kekerasan di Suriah "telah berubah menjadi lembaran kertas tak berarti" karena permainan saling menyalahkan dari Washington, menyusul serangan udara koalisi pimpinan AS terhadap tentara Suriah yang dikepung ISIS di kota Deir ez-Zor. Demikian hal itu ditegaskan majalah Ceko Literární novin.

Literární novinmenulis bahwa serangan di Deir ez-Zor "membuka babak baru dalam perang Suriah". Hal tersebut mendorong banyak pertanyaan, seperti "mengapa Amerika Serikat menandatangani perjanjian dengan Rusia terkait aksi gabungan di Suriah?"

Perjanjian yang membuka jalan bagi gencatan senjata — yang disepakati pada 9 September lalu — dinyatakan berakhir oleh Tentara Suriah karena ada lebih dari 300 pelanggaran yang dilakukan kelompok-kelompok pemberontak yang didukung AS. Serangan di Deir ez-Zor yang terjadi pada tanggal 17 September sama sekali tidak menyelamatkan kesepakatan antara Rusia dengan AS.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa serangan udara itu adalah sebuah kesalahan. Jika benar, "pada dasarnya AS mengakui bahwa Rusia benar dengan mengatakan sulit untuk melaksanakan kampanye militer di lingkungan yang kompleks dan kelompok-kelompok pemberontak seharusnya dipisahkan dari orang-orang yang seharusnya tidak menjadi target dan mereka yang harus dimusnahkan," tulis majalah tersebut, seperti yang dikutip Sputnik.

Masalah ini telah menjadi batu sandungan bagi Rusia dan Amerika Serikat karena kedua negara telah mencoba menemukan cara untuk mengalahkan kelompok-kelompok teroris dan melakukan proses perdamaian di negara yang telah bertahun-tahun dilanda perang tersebut.

Menurut pengamatan Literární novin, selama satu minggu periode gencatan senjata, bisa diyakini bahwa jumlah kelompok moderat di Suriah sebenarnya tidak banyak. "Mungkin, mereka adalah kelompok pemberontak yang berjuang bersama dengan militer Turki di Suriah utara. Tetapi, mereka juga bukan kelompok-kelompok yang didukung Barat. Perbedaan antara Al-Qaeda dan ‘kelompok kami’ telah menjadi semakin sulit dan bahkan Barat mengakui hal tersebut."

Dengan kata lain, Amerika Serikat telah gagal memenuhi bagiannya dalam kesepakatan Lavrov-Kerry sejak kelompok moderat dan radikal secara aktif terlibat dalam perlawanan ini. Itulah sebabnya mengapa para pejabat AS menyalahkan Rusia dan Suriah atas serangan terhadap konvoi kemanusiaan PBB di Aleppo.

Kementerian Pertahanan Rusia membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa baik pesawat Rusia maupun pesawat Suriah tidak melakukan serangan di Aleppo. Kemenhan Rusia kemudian merilis sebuah video yang menunjukkan sebuah truk pemberontak membawa mortir kaliber besar yang merupakan bagian dari konvoi kemanusiaan PBB. Pejabat Kemenhan Rusia mengatakan bahwa para militan menggunakan konvoi tersebut sebagai perlindungan. 

"Amerika Serikat tampaknya tidak cukup kuat untuk ‘membuat aturan permainan’ di Suriah. Namun demikian, Washington memiliki kemampuan untuk merusak ‘permainan orang lain’," tulis media Ceko tersebut. "Namun, masih belum jelas sampai kapan mereka akan berhasil melakukannya. 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.