The National Post: Rusia Kalahkan Amerika di Suriah

Tahun lalu, Obama secara terang-terangan menduga bahwa operasi Rusia di Suriah akan berakhir gagal dan Moskow akan menanggung malu atas petualangannya di Timur Tengah.

Tahun lalu, Obama secara terang-terangan menduga bahwa operasi Rusia di Suriah akan berakhir gagal dan Moskow akan menanggung malu atas petualangannya di Timur Tengah.

EPA
Washington tidak punya pilihan lain selain bergabung dengan barisan Rusia.

Rusia telah mengalahkan Amerika di Suriah meskipun Presiden AS Barack Obama sempat mengejek dan memprediksi bahwa Moskow akan terjebak dalam "rawa" Suriah. Demikian hal tersebut dirilis oleh media Kanada The National Post.

Tahun lalu, ketika Rusia memulai operasinya di Suriah, Obama menanggapi hal tersebut dengan "ejekan". Presiden Amerika jelas tidak suka dengan "kebijakan luar negeri" Moskow di Timur Tengah dan daerah lainnya, dan Obama secara terang-terangan menduga bahwa operasi Rusia di Suriah akan berakhir gagal dan Moskow akan menanggung malu atas petualangannya di Timur Tengah," tulis artikel tersebut.

Namun, nyatanya hal itu tidak terjadi. Rusia tidak terjebak dalam "rawa". Rusia justru terbukti secara efektif mampu memanfaatkan sumber daya militer yang terbatas. Rusia mengubah jalannya perang sipil dan telah menyelamatkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, tulis The National Post.

Selain itu, meskipun Obama sempat melontarkan sarkasme pada September tahun lalu, September ini Rusia dan Amerika Serikat justru mengumumkan mengenai pencapaian kesepakatan atas Suriah. Jika berhasil direalisasikan, sebagian besar dari kelompok oposisi akan dinetralisasi. Dengan begitu, Moskow dan Washington bisa berfokus untuk mengerahkan operasi melawan musuh-musuh Assad, yaitu ISIS dan al-Nusra, tulis artikel tersebut.

Namun sekalipun telah tercapai kesepakatan, Presiden Rusia Vladimir Putin berhasil membuat Amerika Serikat bergabung dengan "rawa imajiner Rusia". Obama terlihat lemah dan harus harus menanggapi tindakan Moskow di Timur Tengah, sementara Putin memantapkan dirinya sebagai penengah tak terpisahkan atas nasib Suriah, tulis artikel tersebut melanjutkan.

Tindakan Rusia di Suriah merupakan bagian dari kebijakan untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah, dan Rusia berhasil. Keberhasilan ini pun tak lepas dari peran AS yang tidak berpartisipasi dalam apa yang terjadi di wilayah tersebut. Meski demikian, Vladimir Putin telah membangun hubungan dengan Iran dan memperbaiki hubungan yang sempat tegang dengan Turki, serta menyarankan Israel dan Palestina untuk melakukan negosiasi di wilayah Rusia.

Sebagaimana yang disampaikan sang penulis, Moskow memiliki dua motif utama untuk mengejar kebijakan Timur Tengah yang aktif. Pertama, yaitu keinginan untuk menghentikan penyebaran Islam radikal. Kedua, yaitu menghentikan serangkaian kudeta di wilayah tersebut.

"Rusia memiliki presepsi bahwa tindakan Amerika selalu mengakibatkan peningkatan kekacauan serta tumbuhnya gerakan Islam radikal yang berlawanan dengan kepentingan Rusia maupun Amerika," tulis artikel tersebut mengutip ucapan Wakil Direktur dan Peneliti Program "Rusia dan Eurasia" Pusat Studi Strategis dan Internasional (Washington) Jeffrey Mankoff.

Keberhasilan di Timur Tengah memberikan Rusia pengaruh di negara-negara Barat, terlepas dari peristiwa Ukraina pada 2014 silam dan reunifikasi Krimea. Meskipun situasi di Ukraina hingga kini belum membaik, sikap Barat kepada Putin jelas telah berubah. Kini Amerika Serikat dan Uni Eropa harus mempertimbangkan Rusia, tulis The National Post mengutip pendapat Profesor Angela Stent dari Universitas Georgetown.

Rusia mengalahkan Amerika Serikat, dan kenyataannya Washington semakin mundur dari rencana yang pada mulanya berniat mengusir Assad. Seluruh peristiwa sejak 2011 menunjukkan bahwa kebijakan awal AS adalah sebuah kegagalan. Pilihan untuk Washington kini menjadi kurang menguntungkan. Washington bahkan tidak punya pilihan lain selain beradaptasi dengan barisan Rusia, tulis surat kabar tersebut mengutip Jeffrey Mankoff.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh RIA Novosti.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.