Kepala Batan: Indonesia Butuh Teknologi Nuklir Rusia

Teknologi Rusia telah berkontribusi signifikan terhadap perkembangan industri nuklir di Tanah Air," ujar Djarot.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Wisnubroto menyatakan teknologi Rusia berkontribusi signifikan terhadap perkembangan industri nuklir Indonesia, demikian dilaporkan Antara. 

"Kami sangat menghargai kerja sama yang terjalin dengan Rosatom. Teknologi Rusia telah berkontribusi signifikan terhadap perkembangan industri nuklir di Tanah Air. Negara ini sangat membutuhkan teknologi yang tidak hanya modern, namun juga terbukti dapat  memastikan perkembangan yang berkelanjutan," ujar Djarot, seperti dikutip Republika.

Republika melaporkan, Batan dan Rosatom telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada akhir Juni lalu. MoU tersebut berisi kesepakatan pengembangan pendidikan dan penelitian untuk membangun infrastruktur dan sistem nuklir yang berkesinambungan di Indonesia.

Sementara, perusahaan negara Rusia Rosatom menyatakan masa depan energi dunia ada pada nuklir.  "Perkembangan energi selalu melibatkan energi nuklir," ujar Wakil Direktur Jenderal Isu Pengembangan Korporasional dan Bisnis Internasional Rosatom, Kirill Komarov, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (14/12).

Menurut Komarov, sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Bangladesh, Vietnam, Thailand, Myanmar, berlombamembangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Bangladesh rencananya akan membangun PLTN tahun depan.

"Vietnam mengirim 400 mahasiswa untuk mempelajari teknologi nuklir di Rusia. Saya rasa, Indonesia punya peluang sebagai sebagai negara pertama yang membangun PLTN. Nuklir akan terus berkembang di Asia Tenggara," tambah Komarov seperti dikutip Antara.

Komarov menambahkan, pengembangan tenaga nuklir bukan hanya bagian penting dalam program 35 ribu megawatt yang diusung pemerintah Indonesia, tapi juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi dan sosial.

Baca lebih banyak mengenai Energi Nuklir >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More