Apa Tantangan Kerja Sama Ekonomi Rusia-Indonesia di 2016?

Fauzan Al-Rasyid
RBTH Indonesia berkesempatan untuk mewawancari Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin secara eksklusif pada Selasa (1/12). Ada empat topik utama yang kami tanyakan, dan berikut adalah jawaban sang dubes terkait tantangan kerja sama ekonomi antara kedua negara, apa saja yang masih menjadi “pekerjaan rumah” antara kedua negara demi mencapai target volume perdagangan lima miliar dolar AS?

Direktur Dewan Bisnis Rusia-Indonesia Mikhail Kuritsyn, dalam sesi jumpa pers seusai Forum Bisnis Rusia-Indonesia di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (2/12), mengatakan, volume perdagangan Indonesia dan Rusia ditargetkan mencapai lima miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Namun, target ini telah lama menjadi tujuan bersama yang diharapkan mampu dicapai oleh kedua negara. Sayangnya, tahun ini target tersebut lagi-lagi belum tercapai. Apa alasannya? Berikut Dubes Rusia Mikhail Galuzin menjawab beberapa pertanyaan terkait tantangan Rusia dan Indonesia di bidang kerja sama ekonomi tahun depan dalam wawancara eksklusif bersama RBTH Indonesia,

RBTH (R): Omzet atau volume perdagangan antara Rusia-Indonesia tahun ini lagi-lagi tak memenuhi target lima miliar dolar AS. Dari sisi Rusia, apa sebenarnya yang menghambat tercapainya target ini? Langkah apa yang harus dilakukan kedua negara agar mencapai target ini di tahun depan?

Mikhail Galuzin (M.G.): Nilai volume perdagangan memang merupakan salah satu indikator keberhasilan hubungan bilateral, tapi saya bisa katakan bahwa itu bukan yang paling utama. Terkadang, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Namun, tentu saja kami masih harus bekerja untuk mencapai target yang ditetapkan beberapa tahun lalu, yaitu untuk mencapai nilai volume perdagangan bilateral sebesar lima miliar dolar AS. Ini tentu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Hanya saja, kondisi perekonomian dunia saat ini memang kurang menguntungkan. Laju perekonomian melambat hampir di seluruh dunia dan ini juga mempengaruhi perekonomian kedua negara kita.

Dalam situasi ini yang harus dilakukan adalah, tentu saja, kita tidak boleh menyerah dan terus mencoba untuk mencari berbagai peluang kerja sama bentuk baru yang dapat diaplikasikan di tengah kondisi perekonomian dunia saat ini. Dalam hal ini, saya lebih condong pada peluang kerja sama investasi di proyek-proyek yang saling menguntungkan, seperti proyek kerja sama pembangunan jalur kereta api di Kalimantan.

Oleh karena itu, kita harus lebih meningkatkan perhatian atau kesadaran para pelaku bisnis kita mengenai adanya peluang usaha di Rusia dan Indonesia. Kita juga perlu mengadakan dialog lebih lanjut di antara para pelaku bisnis kedua negara yang merupakan saluran utama guna mencari peluang-peluang kerja sama proyek yang menguntungkan dan yang menjanjikan lainnya.

R: Ada rencana untuk menggunakan mata uang nasional dalam transaksi perdagangan antara Rusia dan Indonesia. Apakah rencana ini mungkin diterapkan di 2016?

M.G.: Hal itu tentu tergantung dari usaha kita bersama untuk merealisasikannya. Jadi, kita sama sekali tidak bisa memprediksi seberapa cepat rencan tersebut bisa terlaksana. Namun, kami akan coba.

Kami menilai transaksi dengan menggunakan mata uang nasional sebagai salah satu peluang untuk meningkatkan kerja sama bisnis antara kedua negara kita. Pada KTT G-20 yang lalu, Presiden Joko Widodo  menggarisbawahi perlunya untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang global, yaitu dolar AS. Sebenarnya, inilah yang kami maksud. Beberapa bulan lalu, kami telah memulai dialog untuk kemungkinan penerapan transaksi perdagangan bilateral dalam rubel dan rupiah. Kami pikir ini adalah ide yang sangat menjanjikan.

R: Ada wacana bahwa Indonesia akan bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership/TPP). Jika itu terjadi, apakah itu akan mempengaruhi hubungan Rusia-Indonesia di bidang ekonomi, atau bahkan politik?

M.G.: Saya pikir sangat sulit menjawab pertanyaan “jika”. Saat ini, faktanya, Indonesia tidak bergabung dengan TPP. Ini semacam ide yang diajukan pemimpin Indonesia dan tentu pemimimpin Indonesialah yang bisa memutuskan, aliansi ekonomi strategis manakah yang ingin diikuti Indonesia. Jadi, kami tidak berada di pihak yang pro atau kontra terhadap wacana ini.

 

Namun, melihat tujuan dari TPP itu sendiri, pada dasarnya kami punya keraguan mengenai kebermanfaatan dan produktivitas terhadap aliansi yang hanya terbatas pada sejumlah negara tertentu dan tidak transparan, yang dirancang atas dasar standar satu negara, yaitu AS. Kami ragu pembuatan aliansi semacam itu akan berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi perdagangan dunia. Kami ingin melihat perdagangan global diatur oleh keputusan, keinginan, dan perhitungan kolektif. Dengan demikian, itu akan lebih bermanfaat bagi semua anggotanya.

Pada saat yang sama, kami tahu bahwa diskusi di dalam negeri mengenai penting atau tidaknya bagi Indonesia untuk bergabung TPP berkembang dengan sangat luas. Jadi pendapat pribadi saya, pada kenyataannya, konsep TPP ini mendorong berbagai diskusi dan wacana. Jadi, mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan.

R: Kami beberapa kali mendapat pertanyaan dari pembaca kami di Facebook, bahwa barang mereka sulit memasuki pasar Rusia karena birokrasi. Bagaimana tanggapan Anda?

M.G.: Saya bisa merespons hanya jika saya tahu kapan, di mana, dan bagaimana situasi ini bisa terjadi. Begitu juga dengan apa yang sebenarnya dimaksud dengan kesulitan birokrasi dalam memasuki pasar Rusia? Hal ini harus diteliti dengan cermat.

Jika ada pembaca RBTH Indonesia yang merasa atau mengalami kesulitan dalam memasuki pasar Rusia, saya sarankan untuk menghubungi perwakilan perdagangan kami di Jakarta, atau kedutaan besar kami untuk mendiskusikannya bersama kami. Dengan begitu, kami bisa bantu untuk menyelesaikan masalah yang mungkin dihadapi sekaligus menghubungi dan berkoordinasi ke Moskow.

Namun, sejujurnya saya cukup terkerjut mengenai pertanyaan ini karena jika kita melihat publikasi peringkat “Doing Business” tahun ini yang baru beberapa waktu lalu dirilis Bank Dunia, Rusia sekarang berada di peringkat 51, naik sebelas dari posisi tahun lalu, dan 20 tingkat lebih tinggi daripada tahun 2011, yaitu ketika kami mulai bergabung dengan penilaian ini. Dari hasil tahun ini, posisi Rusia bahkan lebih tinggi daripada Tiongkok. Pada bulan Mei 2012, Presiden Vladimir Putin telah menetapkan target untuk meningkatkan posisi Rusia ke peringkat ke-50 pada tahun 2015 dan peringkat ke-20 pada tahun 2018. Jadi, iklim bisnis dan investasi di Rusia cukup kondusif bagi para investor dan pebisnis. Bahkan di tengah sanksi ekonomi dari Barat, kami justru melihat pertumbuhan Investasi Dana Langsung Rusia tumbuh dengan jumlah yang besar. Hal ini tentu berkat kondisinya iklim bisnis di Rusia yang kondusif.

Baca topik wawancara selanjutnya bersama Dubes Galuzin: Apa Saja yang Terjadi Antara Rusia dan Indonesia Selama 2015? >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.