Kutuk Pemenggalan Guru di Prancis, Pemimpin Chechnya: Orang Chechen Tak Ada Hubungannya dengan Itu!

Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov.

Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov.

Emile Alain Ducke/dpa/Global Look Press
Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov mengutuk pembunuhan guru sekolah, Samuel Pati, yang diduga dilakukan pemuda keturunan Chechnya, Abdullah Anzorov, 18, di kota Conflans-Saint-Honorine, Prancis, Jumat (16/10). Pada saat yang sama, Kadyrov menolak dengan tegas jika hal itu dikait-kaitkan dengan orang Cechen (sebutan bagi orang Chechnya) dan mengimbau agar tidak ada pihak yang memprovokasi, serta menyakiti perasaan umat Islam.

"Hari ini, orang Chechnya kembali menjadi sorotan karena pemberitaan media. Guru sekolah Samuel Pati dipenggal di pinggiran kota Paris. Surat kabar Prancis mengeklaim bahwa pelaku pembunuhan itu adalah Abdullah Anzorov, seorang pemuda Chechnya berusia 18 tahun yang sebelumnya tidak memiliki pandangan radikal. Otoritas penegak hukum Prancis telah mengakui insiden tersebut sebagai terorisme. Diketahui juga bahwa Anzorov melakukan pembunuhan setelah sang guru menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya di kelas," kata Kadyrov.

Menurutnya, tragedi ini membuat orang-orang kembali berpikir bahwa masyarakat Prancis tidak memahami konsep demokrasi sehingga kerap menyalah artikannya dengan bebas melakukan apa saja dan menunjukkan sikap yang tidak tepat terhadap nilai-nilai Islam.

"Tindakan semacam itu hanya bisa disebut provokatif. Kami ingat betul kemarahan umat Islam di seluruh dunia yang disebabkan oleh publikasi di majalah Charlie Hebdo. Akibatnya, terjadi serangan terhadap kantor redaksi dan menewaskan banyak orang," ujarnya.

Kadyrov juga menyayangkan tindakan beberapa media, termasuk media Rusia, yang menjadikan kebangsaan Anzorov sebagai perhatian utama dari aksi teror tersebut.

"Teman-teman, saya berulang kali mengatakan dan tidak akan berhenti mengulangi bahwa 'teroris tidak memiliki kebangsaan'," tegas Kadyrov dalam saluran Telegram-nya, Minggu (18/10).

Menurutnya, ini bukan pertama kalinya orang-orang di Prancis mencoba melemparkan kesalahan kepada orang Cechen.

"Ini bukan pertama kalinya orang-orang di Prancis mencoba menyalahkan semua masalah mereka pada orang Chechen. Saya berani meyakinkan semua orang bahwa orang Chechen tidak ada hubungannya dengan itu! Selain itu, Anzorov menjalani hampir seluruh hidupnya di Prancis. Dia pindah ke sana bersama orang tuanya saat masih anak-anak, besar di sana, serta berkomunikasi dan menulis dalam bahasa mereka. Dia mungkin siap mempertanggungjawabkan tindakannya karena menyadari bahwa negara tidak mendengarkan orang-orang beriman secara langsung," tegas Kadyrov.

Karangan bunga dan poster bertuliskan

Kadyrov juga mengungkapkan bahwa Anzorov hanya sekali menginjakkan kaki di Chechnya ketika masih berusia dua tahun. Oleh karena itu, dia berharap agar penyidik Prancis tidak mengait-ngaitkan Anzorov dengan Chechnya.

Selain mengutuk insiden itu, Kadyrov juga menghimbau agar jangan ada hal-hal yang dapat memprovokasi dan melukai perasaan umat Islam.

"Kami mengutuk aksi teroris ini dan menyampaikan belasungkawa kami kepada kerabat almarhum. Berbicara dengan tegas menentang terorisme dalam bentuk apapun, saya mengimbau untuk tidak memprovokasi umat beriman dan tidak melukai perasaan keagamaan mereka. Ketika institusi negara dari hubungan antaretnis dan antaragama didirikan di Prancis, maka negara tersebut akan memiliki masyarakat yang sehat. Sementara itu, temukan kekuatan untuk mengakui bahwa Muslim memiliki hak beragama dan tidak akan ada yang mengambilnya!" tutup Kadyrov.

Sebagaimana dilaporkan portal berita Meduza, guru sejarah dan geografi Samuel Pati dipenggal kepalanya di Conflans-Saint-Honorine, 27 kilometer dari Paris, Jumat (16/10). Tersangka Abdullah Anzorov ditembak mati saat mencoba melarikan diri. Penegak hukum percaya, alasan pembunuhan dilatarbelakangi tindakan Pati yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya selama pelajaran tentang kebebasan berbicara.

Anzorov lahir di Moskow dan pindah bersama orang tuanya ke Prancis pada usia enam tahun dan menerima status pengungsi. Kedutaan Besar Rusia di Prancis menegaskan bahwa pembunuhan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Rusia.

"Tidak penting di mana seseorang dilahirkan, tetapi di mana, kapan dan mengapa dia mulai menganut ideologi teroris," tulis Meduza, mengutip pernyataan Kedutaan Besar Rusia.

Orang-orang Chechen sering kali dianggap sebagai penganut gerakan Islam fundamentalis. Namun, itu tidak benar!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki