Kisah para Pasien Corona yang Menjalani Karantina di Rusia

Arsip pribadi
Seorang manajer, produser, dan pemain sepak bola amatir berbagi kisah tentang bagaimana mereka terjangkit COVID-19, perawatan apa yang mereka jalani di rumah sakit, dan apa yang mereka lakukan selama karantina.

Menurut data resmi Pemerintah Rusia per 31 Maret, kasus COVID-19 di Rusia sudah mencapai 2.337 kasus dan dari angka tersebut 127 di antaranya telah pulih. Di Moskow sendiri terdapat 1613 kasus, dengan 70 di antaranya telah pulih dan sembilan pasien telah diperbolehkan pulang pada 25 Maret lalu.

Maria Dolgolenko, 46, manajer hubungan mitra

Saya pergi bermain ski ke Austria dan kembali pada 8 Maret. Pada malamnya, suhu tubuh saya naik menjadi 37,6 °C. Saya menelepon dokter dan dokter datang ke rumah untuk melakukan tes swab. Sehari kemudian, dia datang lagi melakukan swab kedua. Keesokan harinya, mereka menelepon dan mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan hasil analisis saya sehingga mengirim ambulans untuk menjemput saya. Mereka bertanya, apakah ada anak kecil yang tinggal bersama saya. Saya memiliki dua putra berusia 11 dan 17 tahun. Jadi, mereka datang dan membawa kami semua. 

Setibanya di rumah sakit, mereka melakukan serangkaian tes dan segera meresepkan antibiotik. Anak-anak diberikan pil antivirus. Namun, tak ada satupun yang menjelaskan tentang hasil tes saya. Kami diberi makan dengan cukup baik, makanan dikirim ke kompartemen khusus di dalam bangsal untuk saya ambil. Pada dasarnya, tidak ada kontak langsung dengan dunia luar. Semua dokter memakai setelan alat pelindung diri (APD) dan saya tidak diizinkan keluar.

Pada hari ke delapan, setelah melakukan tes lebih lanjut, barulah saya mengetahui bahwa saya dan anak-anak saya menderita virus corona.

Saya terkejut mengetahui anak-anak saya juga terinfeksi. Di rumah, saya benar-benar mencoba mengikuti tindakan pencegahan keselamatan — Saya punya handuk, gelas, sendok dan piring terpisah. Saya mengenakan masker ketika meninggalkan kamar dan mencuci tangan saya setiap detik. Semua keran dan gagang pintu saya lap dengan alkohol. Akan tetapi, entah bagaimana mereka mendapatkan virus itu. Jadi, kami semua diberi antibiotik dan cairan infus.

Sejak awal, saya meminta untuk dipisahkan dari anak-anak. Oleh karenanya, kami dirawat di bangsal isolasi yang berbeda. Anak-anak masih tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun dan kami hanya berkomunikasi melalui telepon.

Waktu tersulit dalam karantina adalah hari Minggu, ketika kondisi sekitar lebih tenang dari hari biasanya. Anda mulai bertanya-tanya apa yang harus dilakukan setelah selesai sarapan, sedangkan waktu makan siang masih lama.

Ketika kondisi saya membaik, saya mulai melakukan latihan, yang dimulai dengan perlatihan pernapasan. Saya belum mengerti apa-apa, tapi saya mengikuti video pelatihan di YouTube secara hati-hati. Saya juga mulai melakukan latihan gerakan pilates. Saya tidak akan mengatakan berapa banyak, tetapi saya harap itu membantu. Sedangkan untuk aktivitas otak, saya membaca buku dan menonton film. Akhirnya, saya bisa menonton Parasite . 

Setelah beberapa hari, dokter memberi tahu saya bahwa rumah sakit telah mendirikan laboratorium pengujian virus corona sendiri. Sebelumnya, semuanya harus dikirim ke Novosibirsk, sehingga butuh waktu lama untuk mendapat hasilnya.

Saya tidak merasa kasihan pada diri saya sendiri, melainkan pada para dokter dan perawat. Mereka harus mengenakan pakaian dekontaminasi yang tidak nyaman dan mendesinfeksi masker mereka dengan pemutih, yang memerihkan mata mereka.

Ini adalah minggu ketiga saya dan anak-anak di rumah sakit dan kami sudah pulih. Akan tetapi, sebelum dipulangkan kami masih harus melakukan uji negatif untuk virus corona. Itulah yang kami tunggu.

Pada akhir perawatan, dua lelaki masuk dan memasang iradiator resirkulasi udara di ruangan.

"Kami sudah memasang ini di lantai 17 dan 18 dan tidak ada pasien yang tersisa di sana," kata mereka.

"Sebenarnya saya tidak ingin bertanya. Namun, kemana mereka pergi?" tanya saya.

Mereka tertawa terbahak-bahak. Saya ingin sekali pulang. 

Vitaly Mironov, 33, karyawan di perusahaan asing

Saya dan istri saya pulang dari Barcelona pada 10 Maret. Tidak ada pemeriksaan di bandara, suhu juga tidak diperiksa. Kami melewati pemeriksaan paspor dan keluar dari bandara dengan lancar.

Pada 13 Maret, suhu tubuh saya naik menjadi 38,3 °C, dan hidung saya berair. Saya langsung menelepon hotline pemerintah, dan setelah itu ambulans. Mereka datang, mengambil beberapa sampel, dan pergi. Pada tanggal 15, saya diberitahu bahwa saya positif virus corona. Pada hari yang sama, saya dibawa ke rumah sakit. Namun, istri saya negatif. Dia berada dalam swaisolasi sepanjang waktu, sampai kemarin (antara 23 -- 24 Maret) akhirnya dia bisa keluar.

Minggu pertama, saya hampir tidak dirawat sama sekali. Saya hanya berbaring di ranjang rumah sakit, makan, menonton TV, membaca tutor bahasa Inggris dan mengirim pesan kepada teman-teman. Pada Minggu, 22 Maret, mereka memberi saya obat ribavirin, yang paling sering diminum untuk hepatitis C. Dosisnya lima kali lebih tinggi daripada dosis normal, yaitu sepuluh tablet sekaligus, bukan dua. Perawat bahkan terkejut dengan dosisnya. Dia menanyakan hal itu kepada dokter yang bertugas, tetapi sang dokter memastikan bahwa tidak ada kesalahan.

Orang-orang di rumah sakit memiliki grup percakapan daring sendiri, tempat mereka membahas berbagai masalah. Grup itu sudah memiliki 90 anggota. Mereka mengeluh, bahkan dua tablet saja menyebabkan sakit punggung, kelelahan, dan mata kering. Ditambah lagi, mereka hanya dapat berhubungan intim dengan pelindung enam bulan setelahnya.

Saya dan istri saya ingin sekali memiliki anak. Itulah mengapa saya memutuskan untuk tidak meminum pil itu. Dokter yang merawat saya datang kembali pada hari Senin dan setuju bahwa saya tidak perlu meminumnya karena kondisi saya sudah membaik. Dia menawarkan arbidol sebagai alternatif, tetapi saya masih belum meminumnya karena saya pikir saya sudah sembuh dengan sendirinya. Tampaknya, sistem pertahanan tubuh saya telah menangani virus corona dengan baik dan tidak memerlukan campur tangan dari luar.

Pada 24 Maret, saya kembali menjalani tes virus corona. Jika negatif, akan ada tes lagi pada tanggal 29. Setelah dua tes negatif, saya akan diperbolehkan pulang. Saya berharap dapat segera melihat istri saya. 

Maria Mukhina, 27, produser

Saya mengambil kursus profesional di luar negeri, jadi saya sering bepergian ke Eropa. Tentu, saya sangat khawatir tertular virus di sana. Ketika Berlinale dimulai, setiap batuk dan bersin di aula membuat orang-orang cemas. Setelah itu, kami pergi ke London. Di sana, situasi tampak tidak begitu menakutkan. Aktivitas di kota berjalan seperti biasanya.  

Pub-pub dan pertunjukan musik tetap ramai dan tidak ada yang mengenakan masker. Hanya saja, gel antiseptik pembersih tangan dapat ditemui di mana-mana. Namun tiba-tiba, pada akhir masa tinggal kami, kami diberi tahu bahwa program studi telah ditangguhkan dan kami harus kembali ke rumah. Saya pun mulai cemas. Setiap kali saya membeli tiket, penerbangannya dibatalkan. Stres yang saya rasakan benar-benar tak tertahankan. Saya akhirnya mendapatkan penerbangan dengan persinggahan di Helsinki. Suhu tubuh saya naik dalam penerbangan itu. Namun, saya menganggap itu disebabkan oleh saraf saya yang tegang.

Saya tiba di Bandara Sheremetyevo Moskow pada 17 Maret. Setiap penumpang menjalani pemeriksaan suhu di dalam pesawat. Saat itu, suhu tubuh saya sudah turun sedikit dari sebelumnya. Kami kemudian disuruh mengisi beberapa formulir. Para petugas yang mengenakan pakaian khusus terlihat bosan. Saya membawa formulir itu ke "asisten lab" dan meminta mereka untuk menguji saya. Mereka mengambil sampel swab pada tenggorokan dan hidung saya, serta menyuruh saya untuk mengarantina diri.

Saya tinggal sendirian di rumah sampai 22 Maret. Setelah beberapa saat, saya mulai menunjukkan tanda-tanda infeksi pernapasan akut, tidak lebih. Ambulans datang hari itu dan membawa saya ke rumah sakit. Mereka mengatakan bahwa saya dinyatakan positif. Di sana, mereka mengambil lebih banyak sampel swab dan memberi saya obat penenang.

Pada malam 22 – 23 Maret, suhu tubuh saya naik menjadi 38,4 °C. Saya mengalami batuk berat secara terus menerus, yang cukup untuk merenggut rahang Anda. Kondisi itu tidak memungkinkan saya untuk tidur. Saya terus-menerus memeriksa air liur untuk mencari jejak darah. Tenggorokan saya terasa seperti sepotong daging.

Pada titik tertentu, saya tidak tahan lagi dan menekan tombol merah. Beberapa paramedis yang ceria masuk dan memasangkan infus di tangan saya. Jarumnya benar-benar sakit ketika ditusukkan, saya pikir saya akan pingsan. Saya menangis dan berkata saya tidak butuh apa-apa.

Orang-orang yang sama kembali pada pagi hari untuk mengukur suhu tubuh saya. Saat itu suhu tubuh saya sudah turun menjadi 37.6 °C. Sepanjang hari berikutnya saya tidur. Namun, ketika saya bangun, batuk saya mengeluarkan lebih banyak dahak.

Saya kemudian mengalami masalah dengan usus sehingga harus melewatkan makan siang hari itu. Pada malam hari, bibi saya membawakan pisang, jeruk keprok, dan cokelat, yang diberikan melalui petugas medis. Setiap sakit, cokelat adalah obat terbaik bagi saya.

Pada 23 Maret, saya diberi tahu bahwa selain menderita virus corona, saya juga menderita pneumonia. Di malam hari, saya diberikan antibiotik dan azitromisin. Para perawat dan dokter benar-benar perhatian. Mereka sering datang untuk memeriksa saya, mengatur Wi-Fi, dan bahkan berjanji untuk melakukan sesuatu dengan suhu kamar, karena kamar itu sangat pengap.

Pada 24 Maret, sekitar jam 6 pagi, mereka memberi saya infus kedua. Batuk saya sedikit mereda.

Suhu saya 37 °C, tetapi saya merasa sangat lemah dan lesu. Saya ingin tidur sepanjang waktu dan tidak bisa duduk dengan normal. Dokter mengatakan, saya menderita keracunan setelah demam tinggi. Nafsu makan saya hilang.

Saya tidak makan daging atau produk susu, tetapi di sini saya diberi makan dengan susu. Saya menyisakan makanan yang tidak cocok dengan saya di atas meja. Saya diberitahu bahwa diet saya tidak akan dipertimbangkan. Jadi, saya tidak berharap mereka akan memberikan makanan yang cocok dengan saya. Untungnya, teman dan keluarga membawakan buah sehingga semuanya tidak terlalu buruk. Namun, hidangan vegetariannya sangat lezat. Semuanya disajikan dalam kemasan vakum dengan alat makan dan gelas sekali pakai.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kekuatan untuk menonton film atau membaca, bahkan duduk diam saja sulit. Saya mendapat tiga botol infus sehari. Begitu keadaan membaik, saya berharap untuk mencoba mendengarkan beberapa kelas. Mata kuliah saya sudah beralih ke studi daring dan saya tidak ingin ketinggalan pelajaran. 

David Berov, pemain sepak bola amatir, korban virus corona pertama di Moskow

Pada 1 Maret 2020, otoritas kesehatan Rusia mengkonfirmasi kasus virus corona pertama di Moskow. Pria yang sakit itu adalah warga negara Rusia David Berov, yang belum lama kembali dari Italia. Inilah yang Berov tulis tentang pengalaman karantina.

“Saya ditempatkan di bangsal umum di Rumah Sakit Moskow Pertama untuk Penyakit Menular. Ya, ada banyak pasien di sana. Sebelumnya, saya hanya berhubungan dengan beberapa anggota keluarga. Semuanya sekarang dikarantina di rumah sakit. Sejak awal hingga saat ini, mereka tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun. Tes awal mereka negatif.

Ada masalah tentang bagaimana proses karantina ditangani. Pertama, mereka menelepon kerabat saya dan mengatakan mereka akan menguji saya di rumah. Mereka datang dan mengatakan saya positif (walaupun saat itu tidak ada informasi tentang penyakit). Mereka memaksa saya pergi ke rumah sakit penyakit menular dengan pengawalan polisi, di mana saya dikurung di ruang isolasi,” kata Berov di Instagram.  

Pada 5 Maret, tes ketiga Berov untuk virus corona positif.

"Itu tidak ada dalam darah, tetapi air liur. Hanya jejak yang lemah, kata mereka, itulah sebabnya mereka cukup lama meragukannya. Saya diresepkan pengobatan simtomatik yang hanya berfungsi untuk mengobati gejalanya. Dalam kasus saya, batuk ringan, semuanya baik-baik saja. Temperatur tinggi saya sudah lama hilang. Secara umum, saya merasa baik-baik saja, ” tulis Berov. 

Pada 7 Maret, dia keluar dari rumah sakit. Belakangan, melalui wawancaranya dengan situs Lenta.ru, Berov menceritakan perawatan yang ia jalani di rumah sakit dan kesehatannya secara umum.

“Mereka memperlakukan saya dengan sangat baik di rumah sakit. Staf medis penuh perhatian dan simpati,” ujarnya. “Saya kira, saya hanya demam ringan. Sejujurnya, saya masih tidak tahu apa yang saya sakit. Lagipula, saya juga diuji negatif virus corona,” jelasnya.

Berov sudah kembali bekerja, sedangkan ibunya pergi ke Krimea untuk mengunjungi kakek-neneknya dan untuk “menghirup udara segar.” Meskipun gejalanya ringan yang ia alami, ia masih percaya bahwa virus corona adalah sesuatu yang perlu ditakuti.

"Saya tidak bisa dan tidak akan mengatakan bahwa orang-orang bertindak berlebihan. Cerita saya hanyalah cerita saya, tetapi itu mungkin bisa sedikit membantu menenangkan seseorang. Dalam kasus saya, kekebalan saya lebih kuat daripada infeksi. Namun, secara umum, kita tidak mengendalikan tubuh kita sendiri. Di sekitar kita terdapat begitu banyak virus dan mikroorganisme yang berbeda. Siapa yang tahu mana di antara mereka yang akan menjangkiti kita, bagaimana dan kapan, serta apa konsekuensinya,” simpul Berov.

Layanan darurat kota membutuhkan waktu kurang dari tiga minggu untuk mencegah virus mematikan melarikan diri ke luar Moskow dan menyebar ke seluruh negeri. Begini cara Soviet mengalahkan wabah cacar hanya dalam 19 hari.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki