Kisah Mengejutkan Para Korban Selamat dari Serangan Beruang

Marina Fokina (kiri) dan Natalia Pasternak, dua korban yang selamat setelah diserang beruang.

Arsip Pribadi
Bertemu beruang di hutan belantara bisa berakibat fatal. Dua korban yang selamat dari serangan beruang menceritakan kepada kami, bagaimana mereka menyelamatkan diri dari maut. Tak ada satu pun film horor yang bisa menandingi betapa menakutkannya kisah mereka.

"Bagiku terlihat sepertinya beruang itu telah menggigit kakinya, dan aku sangat marah!"

Marina Fokina, 38, asal Sayanogorsk (di Republik Khakassia) adalah seorang wanita muda yang berani. Baginya, istirahat yang menyenangkan adalah menghabiskan beberapa hari di hutan bersama teman-temannya. Terlebih lagi, karena kota mereka terletak hanya 200 km dari Taman Nasional Ergaki, salah satu yang paling populer di kawasan ini. Marina telah datang ke sini selama seperempat abad, sejak masih bersekolah di SMA.

Pada 12 Juni 2015, dia pergi ke hutan itu bersama putranya yang berusia lima tahun, saudara perempuannya, keponakannya, dan seorang teman berusia 72 tahun. Di malam hari, ketika semua orang terlelap, seekor beruang remaja menyambangi tenda mereka karena mencium bau makanan di dalamnya. Marina adalah yang pertama dijumpai beruang itu.

Marina (kiri), bersama putra, saudara perempuan, dan keponakannya. Foto diambil 12 jam sebelum tragedi.

"Awalnya saya kira itu pohon tumbang," kenangnya. “Lalu terlintas dalam pikiran saya bahwa itu mungkin serigala, tapi ternyata beruang. Beruang itu mulai menggigit saya!” Rasa sakitnya mengerikan, tetapi Marina lebih mengkhawatirkan anak-anak. Dia melihat beruang mengangkat cakarnya ke arah putranya. “Beruang itu tampak telah menggigit kakinya, dan saya sangat marah! Saya memutuskan untuk membunuhnya, " ujarnya. Dia ingat bahwa dia meninggalkan kapak di luar tenda seusai memotong kayu untuk api. Entah bagaimana, dalam keadaan syok dan tak tau mendapat kekuatan dari mana, dia berhasil merangkak keluar dari tenda dan mengambil kapak dengan tangan yang patah. Namun beruang itu melihatnya dan meraih kakinya. Pada saat itu, saudara perempuannya, anak-anak, dan temannya, semua berhasil berlari keluar dari tenda, dan beruang itu tidak lagi tertarik pada manusia mana pun. 

Mereka berhasil menyelamatkan diri, keluar dari hutan hidup-hidup dan memanggil layanan penyelamatan. Marina berpikir, jika dia menyerang beruang dengan kapak, itu hanya akan membuatnya lebih marah dan mereka mungkin tidak akan selamat. 

Wajahnya harus disatukan sepotong demi sepotong

“Kami sudah pernah melihat beruang saat pendakian-pendakian kami sebelumnya, tetapi selalu dari jauh. Saya tahu mereka ada di sana, tetapi saya tidak berpikir saya harus berurusan dengan mereka, terutama di musim panas,” terang Marina. “Kemudian, seorang sipir hutan menjelaskan kepada saya bahwa musim panas adalah musim kawin dan beruang jantan menjadi gila. Kami memiliki makanan di dalam tenda dan berbaring di dekatnya. Beruang itu tergoda oleh camilan kami.” Seperti yang diketahui semua orang, beruang memiliki indera penciuman yang tajam.

Aturan umum untuk pendaki adalah tidak boleh menyimpan makanan di tenda mereka dan memiliki api yang tetap menyala sepanjang malam. Namun, malam itu hujan turun dan mereka memutuskan untuk membawa makanan ke dalam tenda agar tidak basah. Marina mengakui bahwa itu adalah kesalahan yang sangat fatal.

Marina setelah menjalani operasi.

Beruang itu menggigit kaki dan pinggang puteranya, serta hampir menguliti kepala temannya — dia masih belum pulih dari syok. Marina adalah yang paling kurang beruntung daripada yang lain. Para dokter di Abakan, ibu kota Khakassia, benar-benar harus menyatukan wajahnya kembali. Rahangnya tergantung pada seutas benang. Gigitan itu benar-benar satu milimeter dari otak dan saraf optiknya.

“Ketika saya dibawa ke rumah sakit, para dokter tidak berpikir bahwa saya akan hidup. Tetapi setelah hari kedua, saya mulai bangun dan bahkan melakukan beberapa latihan. Saya tidak menyadari bahwa situasinya sangat serius. Namun saya menyadari, bahwa segala sesuatunya tidak akan pernah kembali seperti semula. " 

Marina telah menjalani beberapa operasi plastik: ujung saraf di sisi kiri wajahnya sangat rusak, mata kirinya selalu berkedip setiap saat. Tidak lama berselang, Marina kembali ke hutan tempat serangan terjadi dan mengikatkan pita di sebuah lahan terbuka. "Agar semua orang tahu bahwa semangat orang Rusia tidak dapat dihancurkan oleh beruang mana pun!" selorohnya, diikuti tawa.

'Saya melihat bagaimana beruang itu mengunyah saya' 

Bertemu beruang di hutan adalah sesuatu yang lumrah terjadi, tetapi bertemu beruang di kota adalah hal yang tidak terduga sama sekali. Sebelumnya, Natalia Pasternak dari Tynda (di Timur Jauh Rusia) hanya melihat beruang di kebun binatang dan sirkus. 

Pada 11 Mei 2015, wanita 54 tahun itu pergi ke pinggiran kota untuk mengumpulkan beberapa getah birch bersama anjingnya dan seorang teman, Valentina Gorodetskaya yang berusia 82 tahun. 

Sesampainya di tujuan, mereka berpisah. Keduanya akrab dengan tempat itu karena sering datang ke sana selama 15 tahun terakhir. Anjingnya adalah yang pertama menyadari kehadiran beruang. Beruang betina yang berusia sekitar empat tahun itu pasti kelaparan dan mencari makanan, karena baru saja terbangun dari tidur musim dingin.

Aku tidak mau menyerah begitu saja.

"Anjing itu mulai menggonggong dan saya mengerti bahwa kami dalam bahaya," kenang Natalia. "Saya lalu melihat beruang melompat dari pohon dan bergegas ke arah saya." Sebenarnya dia ingin melarikan diri, tetapi tak ia lakukan karena teringat akan temannya. Ia pun berhenti dan mulai berteriak, berusaha mengusir beruang itu. “Itu adalah kesalahan saya. Teriakan saya malah menakuti beruang sehingga ia melompat ke arah saya," terangnya.

Valentina mendengar jeritan Natalia dan berlari menghampiri. Awalnya, dia mengira mereka diserang oleh anjing liar. Namun kemudian dia melihat beruang berdiri di atas tubuh Natalia yang berlumuran darah. Dia mencoba melarikan diri, tapi beruang itu memergokinya dan memukul punggungnya (bekas cakar beruang itu masih ada hingga kini). Untungnya, Valentina berhasil melarikan diri dan memanggil layanan penyelamatan.

Sementara itu, sang beruang kembali ke mangsanya. Beruang itu hampir mengubur tubuh Natalia, tetapi ketika Valentina mengejutkannya, beruang itu memutuskan untuk memindahkan mangsanya ke tempat yang lebih terpencil. Natalia terus melakukan perlawanan semampunya. Dia mencoba berpegangan pada semak-semak, ke pohon-pohon, sebelum akhirnya pingsan karena rasa sakit. “Saya tahu bahwa saya akan mati, tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja,” kenangnya. “Beruang itu mengubur saya, dan saya bisa melihat dan mendengarnya mengunyah saya. Saya pun berdoa ketika beruang itu menganiaya saya"

Pemburu tiba 40 menit kemudian. Beruang itu mencoba menyerang mereka juga, tetapi mereka berhasil menembaknya terlebih dahulu. Lokasi di mana Natalia dikubur  ditemukan berkat seekor anjing yang segera menggonggong ketika menemukan kepala natalia yang tidak terkubur. Bisa jadi beruang itu tak sempat mengubur kepalanya sehingga Natalia bisa tetap bernafas dan selamat dari maut.

Beruang itu sudah menguliti kepalanya dan memakan kakinya hingga ke tulang. "Tengkorak saya dikuliti, berlumuran darah dan tanah," kenang Natalia. “Para dokter kemudian memberi tahu saya bahwa ketika mereka melihat saya, mereka bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Saya ingat ketika mereka memotong pakaian saya, perawat itu berkata, tidak ada satu pun bagian tubuh saya yang tidak terluka.” Setelah operasi, Natalia diterbangkan ke Blagoveshchensk, di mana ia menjalani banyak cangkok kulit. Dia menghabiskan dua bulan di sana dan dia masih belum pulih, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Natalia tidak lagi berjalan-jalan di pinggiran kota.

Setelah kejadian itu, Natalia mengetahui bahwa orang lain juga telah melihat beruang di kota dalam beberapa tahun terakhir. "Orang-orang mengatakan bahwa mereka berkeliaran di taman dan pekarangan, tetapi tidak ada yang melakukan tindakan apapun," kata Natalia kesal. Tynda memiliki pemandangan yang sangat indah: dikelilingi oleh bukit dan hutan. Orang tua Natalia datang ke sini pada masa Soviet, untuk membantu membangun jalur utama  Baikal – Amur. Setelah itu mereka kembali ke Dnepropetrovsk, tetapi dia memutuskan untuk tetap tinggal. 

“Dulu semua berbeda. Kami sering berjalan-jalan ke tempat-tempat paling terpencil, mengumpulkan jamur dan buah beri di hutan, dan kami tidak pernah takut pada siapa pun,” katanya. Kini, Natalia tidak lagi menjelajah ke pinggiran kota.

Suatu hari, seekor anak beruang muncul di Lapangan Terbang Orlovka, Tver (181 km di barat laut Moskow). Alih-alih diusir, para pilot yang bekerja di lapangan terbang itu malah memberinya makan dan memutuskan merawatnya. Inilah Mansur, beruang jinak kesayangan pilot Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki