Bagaimana Atlet Itali Berlari di Suhu Membeku -52°C Yakutia?

Matteo Menapace
Atlet maraton berusia 50 tahun, Paolo Venturini, berlari hampir 40 kilometer di tengah suhu -52°C di tempat berpenghuni paling dingin di dunia, Oymyakon, Yakutia, Rusia. Mengapa, dan bagaimana dia melakukannya?

Paolo yang juga merupakan perwira polisi dari kota Padova, Italia, berlari seorang diri melalui lanskap Siberia yang membeku, sementara mobil krunya mengekor lambat di belakangnya. Satu-satunya fokus adalah menyelesaikan pekerjaan keras sepanjang 39 km dari desa Tomtor ke Oymyakon, yang dikenal sebagai "Kutub Dingin" di mana suhu bisa turun hingga di bawah -60°C. Hal itu menjadikan London Marathon tampak seperti berjalan-jalan di taman.

Pada 20 Januari 2019, setelah tiga jam, 54 menit, dan 10 detik di suhu -52°C, dia akhirnya tiba di tujuannya. Bulu matanya membeku dan dia bisa merasakan es menembus enam lapis pakaianya.

Dari Satu Tantangan Ekstrem ke Tantangan Ekstrem Lainnya

Kepergian ke Yakutia bukanlah keputusan gegabah bagi Paolo. Dia mulai berlari sejak berusia tujuh tahun dan tidak pernah menghindari tantangan berat. Setelah menghabiskan sebagian besar karirnya mengorganisasi operasi penyelamatan polisi yang kompleks, dia tahu apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan itu, bahkan jika itu berarti berlari melintasi hutan belantara Siberia di musim dingin yang membeku.

Pada 2017 ia berlari maraton di Gurun Lut Iran dan satu lagi melalui dataran Gandom Beryan, yang dianggap sebagai tempat terpanas di planet ini. Ia menempuh 75 kilometer dalam waktu kurang dari 12 jam di suhu 67°C, dan beratnya hilang hampir 5 kilogram di sepanjang perjalanan.

Setelah mendorong tubuhnya hingga sangat panas seperti itu, tidak mengherankan Paolo memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang dingin untuk tantangan berikutnya. Setelah membaca tentang “Kutub Dingin” ia menghabiskan 18 bulan untuk mempersiapkan proyek berikutnya, merancang peralatan khusus sendiri, dan mengumpulkan tim untuk mendukung dan memfilmkan proyek "Monster Beku", yang mendapat dukungan dari pemerintah Rusia dan Italia.

"Pihak berwenang Yakutia telah memainkan peran penting dalam mewujudkan seluruh proyek dan memastikan hal itu berhasil," kata Paolo. "Saya mempelajari semua materi teknis selama satu setengah tahun, dan meminta orang-orang yang tinggal di suhu ini untuk memberikan beberapa trik yang bisa membantu melindungi saya dari dingin," tambahnya. Paolo melakukan perjalanan ke Yakutia dua kali sebelum menjalankan maraton untuk memastikan kesiapan segalanya.

Bagaimana Menjaga Kehangatan Tubuh di Tempat Terdingin di Bumi

Paolo memperingatkan pelari yang tidak berpengalaman dan tanpa persiapan yang hendak berusaha melakukan percobaan yang sama. Dengan tekad kuat, tim pendukung yang besar, dan perlengkapan yang tepat, dia menunjukan bahwa segala sesuatu adalah mungkin.

“Angin mendinginkan tubuh, sehingga sangat penting mengenakan pakaian yang bersifat menghalangi angin. Bahan terbaik adalah wol domba merino, yang mengunci kehangatan bahkan dalam keadaan basah. Saya memiliki tiga lapis pakaian yang dibuat untuk lari, ”jelasnya.

Sedangkan untuk alas kaki, ia mengenakan sepatu es berduri dengan bantalan terisolasi, beberapa pasang kaus kaki wol plus kaus kaki setinggi lutut khusus yang dipanaskan oleh baterai. "Mereka bagus untuk berolahraga di musim dingin, tetapi juga memungkinkan untuk meletakkan kantong plastik sederhana di kaus kaki untuk melawan dingin selama beberapa jam ... Yang terpenting adalah tapak sepatu yang cukup tebal untuk menahan dingin dari di bawah. Sepatu itu sendiri harus tinggi sehingga hawa dingin tidak bisa masuk dari atas, "katanya.

Penting untuk menjaga kehangatan kepala, lengan, dan kaki Anda. Hindari minum alkohol sambil menantang suhu beku, lebih baik sesuatu seperti teh. "Seharusnya tidak panas, tetapi sedikit lebih hangat dari suhu tubuh Anda, sehingga Anda dapat menghangatkan diri dari dalam," tambahnya. Sedangkan mengenai makanan, yang terbaik adalah makan hal-hal yang kaya protein dan lemak.

Dari Padova ke Yakutsk

Meskipun Guiness Book of Records menolak maraton Paolo (karena kesulitan memantau pelarian dalam kondisi ekstrem seperti itu), sang atlet senang bahwa tantangannya disetujui oleh pemerintah Yakutia. "Mereka meminta bendera nasional Italia yang saya pegang di tangan ketika saya menyelesaikan lomba, untuk menunjukkannya selamanya di Museum Nasional Sejarah Yakutia, bersama dengan tanda tangan, jarak, waktu, dan suhu saya, serta topi Kepolisian Negara Italia, ”ceritanya.

Paolo juga menyerahkan surat dari walikota Padova kepada walikota Yakutsk yang meminta untuk membangun hubungan antara kedua kota. “Ini adalah tanda bahwa olahraga dapat meningkatkan persahabatan antar negara, bahkan ketika politisi gagal melakukannya. Di antara hal-hal yang paling indah di Yakutia adalah penghuni dan budaya mereka. Mengenal mereka memperkaya semua orang. Saya berharap, melalui film dokumenter yang akan selesai pada bulan April atau Mei tahun ini, itu akan berkontribusi untuk mempromosikan pariwisata ke bagian negara ini karena memang layak mendapatkannya, ”jelasnya.

Yakutsk hanyalah satu dari sejumlah kota terdingin di Rusia. Mau tahu kota-kota terdingin lainya? Silahkan baca artikel berikut!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki