‘Membongkar’ Stereotip: Bagaimana Pandangan Pelajar Indonesia Sebelum dan Setelah Tinggal di Rusia?

Natalya Nosova
Komunis, KGB, pecinta vodka, dan gadis cantik — itulah gambaran umum Rusia di benak kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagaimana “wajah” Rusia yang sesungguhnya? Russia Beyond bertanya pada beberapa pelajar Indonesia di Rusia tentang kesan mereka sebelum dan setelah menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah.

Khairifah Nauli (25)

Khairifah Nauli

Orang-orang Rusia galak, menyeramkan, dan kurang bersahabat. Setidaknya, begitulah stereotip yang sering didengar Khairifah. Namun, Rifah, panggilan akrabnya, justru merasa stereotip tersebut terkesan berlebihan. Selama dua tahun hidup di Rusia, Rifah mengaku sudah sering merasakan kebaikan dan keramahan masyarakat lokal. Hal ini, menurut Rifah, benar-benar membuatnya merasa nyaman, seperti di tanah air.

“Di sini, memang masih belum banyak yang fasih berbahasa Inggris, dan saya rasa kendala bahasa inilah yang mempersulit komunikasi antara orang Rusia dengan orang asing,” ujarnya.

Terkait anggapan bahwa orang Rusia enggan membantu orang lain, apalagi membantu orang asing, Rifah pun membantah hal itu. “Saya sempat mengalami musibah, saya tak sengaja meninggalkan dompet yang berisi paspor, kartu pelajar, dan kartu ATM sewaktu naik metro. Namun, seorang warga lokal justru menemukannya dan segera mengembalikannya,” ucapnya.

Laban Eben Ezer (21)

Laban Eben Ezer

Eben mengaku bahwa persepsinya mengenai Rusia sudah banyak berubah sejak tinggal dan belajar di Moskow selama tiga tahun terakhir. “Dulu sebelum berangkat ke sini, banyak teman-teman saya yang bercerita bahwa di Rusia masih banyak mafia yang berkeliaran,” ujarnya. Ia membantah hal itu dan menjelaskan bahwa pemerintah berupaya keras untuk menjaga keamanan. “Jadi, sekalipun masih ada mafia, mereka tidak menjadi ancaman bagi keamanan masyarakat di sini,” kata mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu.

Lalu, ada apa antara orang Rusia dan vodka? Apakah orang Rusia betul-betul pencinta vodka? “Mereka sangat menyukai vodka dan ini fakta,” jawabnya. Eben menjelaskan bahwa vodka sudah lama menjadi bagian besar dari budaya Rusia. Di samping itu, Eben menjelaskan bahwa dengan musim dingin yang dapat mencapai -40 derajat Celsius, vodka menjadi minuman “penghangat” bagi orang Rusia.

Pelajar asal Jakarta ini juga mengatakan bahwa banyak stereotip positif mengenai Rusia yang ternyata benar. Salah satunya adalah kedisiplinan masyarakat Rusia, khususnya pada diri para pelajar, baik di sekolah maupun kampus. “Mereka sangat ambisius dan teliti dalam studi mereka,” katanya, “kalau ada yang beranggapan bahwa Rusia adalah negara mandiri yang melatih warganya supaya tidak bergantung pada siapa pun — itu memang benar.”

Yusuf Freinademetz Elu (26)

Yusuf Freinademetz Elu

Pelajar asal Kupang yang biasa disapa Ucup ini tak menyangkal bahwa banyak pemikiran skeptis dan negatif tentang Rusia. Misalnya, benarkah bahwa orang-orang Rusia sama ‘dinginnya’ seperti iklim negaranya? Ucup menilai bahwa iklim dingin di suatu negara memang dapat mempengaruhi sikap masyarakatnya. Dia mengatakan, orang Rusia sebetulnya sangat baik dan bahkan setia kawan.

Meski begitu, ia sepakat dengan anggapan umum yang menyebutkan bahwa orang Rusia tidak murah senyum. “Mayoritas orang Rusia percaya bahwa tersenyum dan mengungkapkan rasa terima kasih harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Jadi, tidak ada kewajiban sosial apa pun yang mengharuskan mereka untuk selalu bersikap hangat dan ramah kepada orang lain,” ujar mahasiswa jurusan Pengembangan Minyak dan Gas itu.

Lalu, apakah Rusia masih komunis? Yang satu ini memang kerap menjadi pertanyaan banyak orang dan Ucup pun membantahnya. “Setelah tahun 1991, ideologi itu didiskreditkan. Ide ini mungkin masih populer di sebagian golongan tua, tapi makin lama ideologi ini makin ditinggalkan.” ujarnya.

Selain itu, ia menganggap bahwa sudah tidak relevan lagi jika Rusia dilihat sebagai negara yang menyeramkan. “Rusia adalah negara yang besar dan kuat dalam berbagai aspek. Jika dikatakan bahwa di negara ini terdapat begitu banyak (orang) jenius, itu memang benar,” ujarnya. Ucup menilai, hal ini seharusnya menjadi alasan utama bagi orang Indonesia supaya mau mempelajari kebudayaan negara terbesar di dunia ini. Menurutnya, selama orang-orang masih termakan stereotip-stereotip yang sudah ketinggalan zaman, mereka tak akan bisa memetik pelajaran berharga dari Rusia.

Ruben Sumigar (27)

Ruben Sumigar

Sebelum berangkat ke Rusia setahun yang lalu, Ruben sempat beranggapan bahwa Negara Beruang Merah ini masih sangat konservatif. Pelajar asli Manado ini menjelaskan bahwa dulu ia kerap membandingkan Rusia dengan negara-negara Barat atau lainnya.

Setelah menjadi mahasiswa di Rusia, Ruben juga menyadari bahwa dalam hal sistem administrasi di sini memang masih tertinggal. Misalnya, preferensi pihak kampus dalam menggunakan sistem tulis tangan dibandingkan metode praktis lainnya. Dari pengalaman Ruben, proses-proses administrasi lainnya pun tak jarang memakan waktu yang lama.

Lalu, ada pula anggapan bahwa semua orang di Rusia berada di bawah pengawasan KGB. “KGB 'kan sudah tidak ada, sekarang FSB (Dinas Keamanan Federal) yang mewarisi banyak fungsi KGB,” ujarnya.  Menurut Ruben, seseorang harus melakukan sesuatu yang benar-benar mengancam dulu untuk menarik perhatian serius dari pihak berwenang.

Lalu bagaimana dengan stereotip yang menyebutkan bahwa Rusia dipenuhi oleh gadis-gadis cantik? “Ini betul! Gadis-gadis Rusia memiliki wajah yang cantik dan gaya berbusana yang mewah,” ujarnya.

Kebanyakan orang mungkin akan menyebut vodka sebagai minuman khas Rusia. Padahal, Rusia punya banyak minuman khas yang pembuatan dan pengolahannya telah menjadi tradisi turun-temurun sejak era kekaisaran Rusia. 

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki