Bertahun-tahun Dikira Alquran, Kitab Hukum Pidana Rusia Berbahasa Arab Disumbangkan ke Museum

Kitab suci Alquran.

Kitab suci Alquran.

Toufik Doudou/AP
Sebuah keluarga menyumbangkan kitab hukum pidana bekas salah satu republik Soviet yang ditulis dalam bahasa Arab ke museum setelah mengetahui bahwa kitab itu bukanlah Alquran seperti yang mereka kira selama ini.

Setelah bertahun-tahun dikira kitab suci Alquran, sebuah keluarga muslim di Republik Bashkortostan (salah satu subjek federal di Rusia) menyumbangkan kitab hukum pidana Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia (RSFS) dari tahun 1926 yang ditulis dalam bahasa Arab ke Museum Kementerian Dalam Negeri Bashkiria. Demikian hal tersebut dilaporkan layanan pers kementerian kepada kantor berita TASS, Selasa (5/6).

“Buku itu merupakan kitab hukum pidana dari tahun 1926 yang ditulis dalam bahasa Arab. Orang tua pemilik buku itu membawanya selama bertahun-tahun, mengiranya sebagai Alquran, dan menaruhnya di bawah bantal anaknya. Ia baru mengetahui buku apa itu sebenarnya ketika anaknya tumbuh dewasa dan menjadi polisi,” bunyi siaran pers kementerian.

Kepada wartawan setempat, Rafia Zinatullina mengatakan bahwa ada sebundel buku yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.

“Ibu saya bilang bahwa ini adalah kitab suci. Buku ini harus dibungkus kain dan diletakkan di bawah bantal supaya anak-anak tetap tenang dan tidak merengek. Setelah bertahun-tahun, kami baru mengetahui bahwa buku itu ternyata adalah kitab hukum pidana RSFS dari tahun 1926,” kata perempuan itu.

Museum Kementerian Dalam Negeri di Ufa, ibu kota Republik Bashkortostan, dibuka sejak 1982. Empat ruangan dalam museum itu memamerkan berbagai jenis senjata dan seragam rampasan, sementara satu ruangan dipersembahkan untuk mengenang 109 pegawai kementerian yang tewas selama mengemban tugas kenegaraan.

Saat ini di Rusia banyak tersimpan manuskrip Islam yang berharga, termasuk di antaranya merupakan peninggalan-peninggalan asli. Inilah lima koleksi Alquran yang menarik dan tersimpan di Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki