Kisruh Diplomasi: Tiga Keributan yang Melibatkan Menteri Luar Negeri Rusia dan Soviet

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov saat bertemu rekanannya dari Inggris, David Miliband, pada November 2009.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov saat bertemu rekanannya dari Inggris, David Miliband, pada November 2009.

AP
Meski punya sejarah resolusi konflik yang damai, diplomat-diplomat Soviet dan Rusia terkadang terhimpit di pusat skandal internasional. Russia Beyond membahas tiga kegemparan di mana Menteri Luar Negeri Rusia menjadi tokoh utamanya.

Kejadian-kejadian berikut ini terjadi karena kebijakan luar negeri negara, dan sulit mengatakan apakah memang tindakan mereka yang menjadi kontroversi. Namun begitu, di mata publik, orang-orang ini sangat erat kaitannya dengan isu internasional.

 “Gila…”

Menteri Luar Negeri Rusia saat ini, Sergei Lavrov, menjadi bahan pemberitaan setelah perang antara Georgia dan Ossetia Selatan, ketika Rusia mengintervensi untuk melawan serangan dari Tbilisi. Investigasi dari Uni Eropa kemudian menemukan bahwa bukan Moskow yang memicu konflik, tapi banyak media internasional yang menjelaskan situasi ini sebagai “agresi Rusia”.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov saat berbicara dalam konferensi pers di New York pada 2008.

Terkait hal ini, dan ditambah tekanan dari Barat, Lavrov berbicara melalui telepon dengan rekanan Britania-nya, David Miliband. Menurut Andrew Porter dari The Daily Telegraph, Lavrov menggunakan kata-kata kasar, dan kalimat yang diduga digunakan Lavrov menjadi terkenal di internet di Rusia: “Siapa Anda sampai mengajari saya?”

Namun begitu, Lavrov menyangkal berkata kasar kepada Miliband, dan bahwa ia hanya melakukan hal itu saat menyampaikan opini terhadap Saakashvili yang telah diekspresikan seorang menteri Eropa yang baru kembali dari Tbilisi. Tampaknya, ia menyebut sang pemimpin Georgia sebagai seorang “gila”.

Pengkhianatan Shevardnadze

Menteri Luar Negeri Uni Soviet terakhir, Eduard Shevardnadze, ada dalam daftar ini karena menandatangani perjanjian pada 1990 yang menentukan batas maritime Laut Bering antara Uni Soviet dan AS – kedua negara tak mampu mencapai kesepakatan selama berpuluh-puluh tahun. Sementara pemerintah dan parlemen Soviet tak meratifikasinya, Kongres AS langsung menyetujuinya. Selama 27 tahun sebelum penandatanganan, Rusia hanya memberlakukan peraturan sementara.

Menteri Luar Negeri Uni Soviet Eduard Shevardnadze.

Menurut perjanjian, seluas 15 mil laut wilayah yang disengketakan – yang penting bagi nelayan Rusia – diberikan kepada AS. Di beberapa wilayah, Washington memperluas zona ekonominya dari yang seharusnya 200 mil laut, dan juga mendapatkan sebagian besar landas yang dipercaya mengandung banyak kekayaan minyak dan gas.

“Selama 20 tahun kami (Rusia) mengalami kerugian sebesar 4 juta ton ikan, setara 3 miliar dolar AS. Perjanjian yang menyebabkan kerugian ini disebut oleh para nelayan Timur Jauh Rusia sebagai ‘pengkhianatan Shevardnadze’,” ujar mantan Menteri Industri Perikanan Soviet, Vyacheslav Zilanov, pada 2017. Estimasi kerugian ini dibuat pada 2003 oleh Kamar Akuntansi Umum Rusia.

Sebagai pembelaan, Shevardnadze mengatakan pada 2004 bahwa perjanjian itu merupakan keputusan bersama para pemimpin Soviet. Pada 2002, Kejaksaan Agung Rusia menyelidiki kasus ini dan tak menemukan kesalahan perjanjian. Tetap saja, 15 tahun kemudian Moskow tetap belum meratifikasinya.

Gromyko dan Sepatu Terkenal

Pendahulu Shevardnadze di Kemenlu Uni Soviet, Andrey Gromyko, memegang jabatan tersebut selama 28 tahun dan berhasil menghindari kontroversi publik, kecuali satu kali pada tahun 1960.

Disebut di Barat sebagai "Andrew Si Serigala", "Robot Pembenci" dan "Orang Tanpa Muka" untuk pendiriannya yang teguh, Gromyko pernah mematahkan julukan-julukan tersebut ketika harus mendukung atasannya selama kericuhan yang terkenal di PBB.

Andrey Gromyko.

Insiden pelemparan sepatu oleh Nikita Khrushchev di Majelis Umum PBB pada bulan Oktober 1960 sangat terkenal. Pemimpin Soviet itu marah karena kritik Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan terhadap kebijakan luar negeri Soviet.

"Terus terang, pikiran pertama saya adalah bahwa Khrushchev merasa sakit, tapi sesaat kemudian saya menyadari bahwa pemimpin kami sedang melakukan protes, mencoba membuat Macmillan dalam situasi yang tidak nyaman. Saya menjadi tegang dan mulai mengetuk meja - seseorang harus mendukung kepala delegasi Soviet. Saya tidak melihat Khrushchev, karena saya merasa tidak nyaman. Situasinya lucu, "kata Gromyko kepada anaknya.

Dalam memoarnya dia ingat bahwa delegasi dari Spanyol berada tepat di depan Khrushchev, dan salah satu diplomat Spanyol harus bersandar agar tidak terkena sepatu, dan mulai meneriaki Khrushchev: "Kami tidak seperti Anda! Kami tidak menyukaimu! " Gromyko juga tidak senang dengan langkah tak terduga tersebut, namun dia tidak memiliki pilihan lain selain tunduk kepada pemimpin Soviet dalam salah satu peristiwa paling berkesan dalam sejarah PBB.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More