Tren Diplomasi Rusia: Pertemuan Tiga Negara, Tanpa AS

Seorang staf memasang bendera Rusia di samping bendera AS sebelum konferensi pers setelah pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Jenewa, Swiss, 26 Agustus 2016.

Seorang staf memasang bendera Rusia di samping bendera AS sebelum konferensi pers setelah pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Jenewa, Swiss, 26 Agustus 2016.

Reuters
Rusia, Tiongkok, dan Pakistan membahas pengaruh ISIS yang terus berkembang di Afganistan, serta situasi keamanan di sana yang semakin memburuk.

Menanggapi putaran ketiga pertemuan Rusia, Tiongkok, dan Pakistan di Moskow, Selasa (27/12), untuk membahas situasi di Afganistan, pakar Rusia untuk wilayah Asia Tengah Azhdar Kurtov menyebutnya sebagai tren baru yang diterapkan Moskow untuk menangani krisis Afganistan, demikian dikabarkanSputnik, Kamis (29/12).

Dalam pertemuan tersebut, Rusia, Tiongkok, dan Pakistan membahas pengaruh ISIS yang terus berkembang di Afganistan, serta situasi keamanan di sana yang semakin memburuk.

Ketiga negara tersebut bertemu di Moskow. Sementara, AS yang masih menempatkan sekitar 10 ribu tentaranya di Afganistan selama lebih dari 15 tahun setelah membantu pasukan Afganistan menggulingkan kelompok Taliban, tidak diundang ke pertemuan tersebut.

“Ketiga negara secara khusus khawatir dengan meningkatnya aktivitas kelompok ekstremis termasuk ISIS cabang Afganistan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova kepada para wartawan.

Pada awal Desember ini, Rusia, Turki, dan Iran menggelar pertemuan trilateral di Moskow untuk membahas penyelesaian krisis Suriah, juga tanpa mengundang AS.

Menilik pertemuan-pertemuan tersebut, menurut Kurtov, Moskow tampak sedang membentuk trennya sendiri dalam menyelesaikan krisis Afganistan dan Suriah. "Inisiatif yang diusulkan mungkin akan mengubah keseimbangan kekuasaan di kancah internasional," terang Kurtov.

Meski demikian, Kurtov menambahkan Rusia sebaiknya tidak mengesampingkan bahwa inisiatif tersebut dapat terus berjalan seiring dengan perubahan kebijakan luar negeri AS setelah pemilu presiden AS ke-45. Donald Trump secara terbuka mengecam kebijakan pemerintahan Presiden Obama, baik di Timur Tengah dan Afganistan.

“Moskow dapat menggunakan kesempatan yang terbuka untuk memperbaiki format negosisasi saat ini, serta mencoba untuk mendorong pembicaraan diplomatik dari jalan buntu yang telah ditunda cukup lama,” ujar Kurtov kepada Sputnik.

Kurtov juga menyatakan bahwa terlepas dari seluruh upaya yang ditujukan untuk menyatukan otoritas Afganistan dan pihak oposisi di meja perundingan, AS belum mencapai kesuksesan yang nyata. Sementara, Pakistan, Tiongkok, dan Rusia berkeinginan kuat menstabilkan situasi di Afganistan karena kedekatan Afganistan dengan perbatasan mereka.

Menurut Kurtov, partisipasi Afganistan menimbulkan pertanyaan tertentu, meski tahun depan Afganistan akan bergabung dengan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang di situ Rusia dan Tiongkok memainkan peran yang besar.

Pakar Rusia mengenai isu Pakistan Petr Topychkanov mengatakan bahwa tren baru dalam penyelesaian krisis Afganistan sepenuhnya merupakan inisiatif Moskow. Baik Tiongkok dan Pakistan sebelumnya pernah berpartisipasi dalam format empat negara dengan keikutsertaan AS, namun format tersebut berujung mengecewakan karena AS memengaruhi posisi Kabul, sehingga kedua negara memilih untuk bergabung dengan Moskow.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.