Diplomasi dalam Diam, Solusi Konflik Akut Ukraina

Konflik politik dan militer di Ukraina saat ini telah meresahkan seluruh Eropa itu. Sepertinya, sudah tidak ada harapan untuk penyelesaian konflik.

Ilustrasi oleh Konstantin Maler.

Satu-satunya jalan keluar dari konflik tersebut hanya dapat terwujud dengan usaha diplomasi yang akan menyita waktu dan tenaga serta langkah penyelesaian yang tidak biasa. Kedua hal tersebut harus dirahasiakan, karena kebocoran informasi. baik disengaja maupun tidak, akan membawa proses penyelesaian tersebut kepada masyarakat luas yang dikuasai oleh penolakan absolut dari setiap pihak yang bertikai. Jika proses negosiasi serius antarpihak yang berkonflik pun terwujud, maka kita semua hanya akan mengetahui isi akhir dari negosiasi. Hasilnya, bisa berakhir tanpa solusi, atau sebaliknya, mencapai kesepakatan.

Apa contoh kesepakatan penyelesaian tersebut? Sekitar April lalu, kesepakatan pertama telah ditetapkan di Jenewa, namun kemudian terjadi pertumpahan darah massal di Donbass, pertempuran sengit antar pendukung dan penentang pemerintah, pengambilalihan paksa kota-kota dan penembakan jatuh pesawat MH17. Saat ini, situasi di Ukraina jauh lebih pelik, namun inti masalah masih tetap sama.

Ada beberapa tema krusial yang harus dibahas saat ini. Pertama adalah kebijakan politik Ukraina, yang dapat menjamin pemberian status istimewa kepada wilayah Ukraina timur dengan tetap melestarikan budaya dan sejarah yang mereka miliki. Kedua, status nonblok Ukraina. Ukraina harus menghentikan usahanya bergabung dengan NATO, yang dianggap Rusia sebagai ancaman serius dan fundamental. Ketiga adalah isu luas mengenai gas bumi, perihal utang piutang, harga, izin transit dan sebagainya. Keempat adalah kebangkitan ekonomi Ukraina setelah perang saudara ini, walau itu terlihat mustahil bila Ukraina secara penuh memutuskan hubungannya dengan Rusia.

Jika dilihat satu persatu, semua itu memang sepertinya tidak dapat membangkitkan Ukraina, apalagi bila hal itu berjalan bersamaan. Namun, kunci penyelesaian dan penataan kembali Ukraina bukanlah hal mustahil. Semua hal itu adalah dasar-dasar dari diplomasi. Semakin besar kesempatan untuk menghubungkan berbagai masalah yang dihadapi, semakin luas ruang untuk saling mengalah satu sama lain. Selain itu, ada beberapa tema krusial bagi satu pihak, tetapi tidak bagi pihak lain. Masing-masing pihak harus mau saling mendengar dan menelaah dengan serius setiap tema yang ada, bukan hanya yang krusial bagi pihaknya saja.

Sangat menyedihkan memang, di setiap perundingan usaha rekonsiliasi Ukraina, pembicaraan penghentian perang senjata selalu saja pupus dan tidak berguna. Konflik Ukraina adalah perang saudara yang menyangkut kepentingan dan penggunaan kekuatan pihak eksternal. Konflik ini dapat dikategorikan sebagai perlawanan yang harus diselesaikan terlebih dahulu dengan gencatan senjata, sebelum didapatkan penentuan batas toleransi kompromi masing-masing pihak serta kestabilan politik di masa yang akan datang. Oleh karena itu, bentrokan senjata dan pembicaraan diplomatik seharusnya berjalan secara paralel.

Mengapa perundingan tetap dilakukan? Pada pertengahan Juli lalu, ketika badai informasi dan propaganda menyudutkan Rusia setelah jatuhnya pesawat MH-17, jalan perundingan damai seolah telah pupus. Hanya akan ada perang hingga keluar pemenang. Walau demikian, ada beberapa alasan mengapa perundingan itu tetap dilanjutkan.

Rusia tidak menyembunyikan rasa simpatinya secara politik dan kemanusiaan pada para pejuang kemerdekaan di Ukraina. Namun, Rusia mengakui ada garis pembatas yang jelas, yang tidak akan mereka langgar. Rusia menilai bahwa campur tangan militer mereka tidak akan menyelesaikan masalah. Artinya, fase konflik senjata ini harus diakhiri. Moskow sendiri tidak berniat memasrahkan nasib Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk begitu saja. Mereka ingin pemerintah resmi Ukraina mengakui status dan perwakilan republik tersebut melalui cara damai. Itu berarti Moskow tidak akan mengizinkan siapa pun menggunakan kekuatan militernya untuk menghancurkan mereka. Oleh sebab itu, para pejuang perlawanan Ukraina harus memiliki perwakilan politik untuk ikut dalam proses negosiasi pengakuan keberadaan mereka secara damai. Para panglima perang lapangan yang gagah berani, apalagi yang berasal dari Rusia, tidak bisa mengambil peran tersebut.

Kiev tentu tak akan mundur. Jumlah korban jiwa dan penghancuran harta benda yang terjadi memaksa mereka untuk meraih kemenangan dalam perang ini, atau kelak muncul pertanyaan dan kritik tajam dari masyarakat Ukraina sendiri mengenai apa yang membuat mereka harus membayar atas bencana yang menimpa mereka ini. Perang ini juga telah membawa kehancuran nyata dalam perekonomian nasional Ukraina, yang sebelumnya memang sudah berada dalam kondisi yang menyedihkan. Ukraina hanya bisa mengandalkan bantuan dari luar, dari sumber yang tentu diketahui oleh semua pihak. Namun, saat ini sumber tersebut tidak menunjukkan kesiapannya untuk berbagi dengan ikhlas.

Tidak ada seorangpun yang memiliki dana yang dibutuhkan oleh Ukraina. Eropa tentu akan mengambil sebagian besar peran menyelamatkan keuangan Ukraina, namun saat ini mereka tidak memiliki dana cair untuk itu. Bahkan kelompok masyarakat Eropa yang menilai Rusia dengan sangat negatif serta menyalahkan Rusia atas apa yang terjadi di Ukraina, juga sadar bahwa tanpa bantuan ekonomi dari Moskow, apalagi jika Moskow memberi reaksi balasan yang keras, maka konflik Ukraina tidak akan pernah selesai. Tak ketinggalan, krisis gas di Ukraina memperparah kondisi ini.

Apa yang dianggap tidak masuk akal beberapa bulan lalu, kini malah menjadi salah satu pilihan jalan keluar. Sanksi-sanksi yang mencengkram semua pihak telah membakar dan mengaburkan logika sehat masing-masing pihak untuk mengambil tindakan. Kiev melarang proses transit gas Rusia ke Eropa. Sementara, Moskow dibuat marah oleh fakta bahwa Barat memperlakukan anggota tetap Dewan Keamanan PBB itu seperti layaknya negara kelas tiga, yang akan tunduk terhadap tekanan dan intimidasi, dan membuat Moskow mempertimbangkan pemberian respon yang paling keras.

Krisis Ukraina telah menghancurkan sistem baru keamanan Eropa setelah berakhirnya perang dingin. Jika diplomasi dapat menghentikan krisis tersebut, maka itu dapat menjadi langkah pertama menuju sistem baru keamanan Eropa yang sebenarnya.

Fyodor Lukyanov, Ketua Dewan Pengurus Badan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan dan Pemimpin Redaksi jurnal Russia in Global Affairs.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Rossiyskaya Gazeta.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.