Masyarakat Kaukasus Taklukkan Dunia dengan Seni Bela Diri MMA

Khabib Nurmagomedov menimbang beratnya untuk mengikuti kejuaraan UFC di São Paulo, Brasil.

Khabib Nurmagomedov menimbang beratnya untuk mengikuti kejuaraan UFC di São Paulo, Brasil.

AP
Masyarakat Kaukasus Utara Rusia menempati baris terdepan dalam dunia seni bela diri campuran (Mixed Martial Arts/MMA). Kali ini, RBTH memaparkan rahasia keberhasilan para petarung brutal dari pegunungan selatan Rusia.

Dengan berkembang pesatnya gaya baru dalam dunia seni bela diri campuran, para pegulat dan petarung Rusia dibanjiri berbagai tawaran promosi bela diri terkemuka, termasuk yang paling bergengsi, yaitu Bellator dan UFC. Sebagian besar orang-orang ini berasal dari Kaukasus. Rustam Khabilov, Habib Nurmagomedov, Ali Bagautinov, dan Adlan Amagov adalah beberapa contoh kecil di antaranya. Namun, hal ini tidaklah mengherankan. Wilayah pegunungan di selatan Rusia adalah pusat utama hampir semua seni bela diri. Termasuk di antaranya gulat dan Thai boxing yang merupakan dasar-dasar MMA.

Mengapa para pegulat asal Kaukasus berhasil unggul bahkan hingga saat ini? Kemungkinan besar, faktor utamanya adalah budaya patriarki masyarakat Kaukasus. Sejak kecil, anak-anak Kaukasus telah diberi tahu bahwa seorang pria adalah petarung. Mereka diharapkan mampu melindungi diri sendiri dan keluarga mereka.

Berlatih dengan Beruang

Imin Gasanbekov, seorang pegulat profesional dan sekaligus merupakan finalis acara realitas M-1 Fighter mengatakan bahwa di Kaukasus, anak-anak sekolah pada waktu istirahat tidak menghabiskan waktu dengan merokok di halaman belakang sekolah secara sembunyi-sembunyi, melainkan berlatih di palang horizontal dan palang sejajar. Di antara anak-anak ini pun terdapat kompetisi — siapa yang mampu melakukan latihan dengan lebih baik. Beberapa pegulat masa depan bahkan sering kali dihadapkan dengan anak beruang sungguhan sebagai mitra bertanding. Inilah yang terjadi dengan Habib Nurmagomedov. Ia diperintahkan ayahnya untuk bertarung dengan anak beruang sungguhan

Mempermalukan ayah adalah aib bagi masyarakat Kaukasus. Juara dunia di bidang taekwondo asal Chechnya Arbi Ordashev mengikuti pertandingan final pada kejuaraan Rusia dengan kerusakan pada ligamen di pergelangan kaki. Di dalam taekwondo, 90 persen serangan dilakukan oleh kaki. Sulit memenangkan pertandingan dengan satu kaki. Menjawab pertanyaan mengapa ia memutuskan untuk tetap mengikuti kompetisi, sang atlet menjawab, “Jika ayahku tahu aku tidak ikut bertarung, hal itu akan sangat memalukan.”

Pemuda Kaukasus harus mampu melawan. Jika tidak, rasanya sulit untuk bertahan hidup di dunia. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika seorang pria tidak ingin menjadi yang terkuat, melainkan ingin menjadi yang paling cerdas? Jawaban Arbi Ordasheva sederhana, “Ia harus mampu bertahan.” Dalam lingkungan ini, seorang pria sama seklai tak bisa menunjukkan kelemahan dalam hal apa pun.

Persaingan Berat

Pindah ke arena pertandingan. Kejuaraan Dagestan (salah satu republik Kaukasus di Rusia) tak jauh tertinggal dari tingkat Kejuaraan Rusia. Lalu, bagaimana jika empat orang atlet terbaik dari tim nasional Rusia mengikuti Kejuaraan Dagestan? Tingkat persaingan sangat besar. Banyak yang tidak bisa bertahan dalam pertarungan sengit ini, dan mereka terpaksa pindah ke daerah lain bahkan ke luar negeri supaya berkesempatan menjadi yang terbaik dalam suatu kejuaraan.

“Orang Kaukasus Membuat Orang Amerika Merasa Seperti Pemalas”

Bagi atlet-atlet tersebut, bergabung ke dalam tim nasional adalah satu-satunya peluang untuk “menaiki pagar” dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, dalam pertarungan untuk menjadi yang terbaik diperlukan orang-orang yang punya prinsip kuat. Para pegulat Dagestan ini terobsesi dengan pelatihan fisik dan berfokus pada hasil. Terkadang mereka bahkan saling menguji kekuatan mereka dengan satu sama lain. Suatu hari, pernah terjadi konflik antara Ali Bagautinov dan Rustam Khabilov. Mereka pun menyelesaikannya dengan berkelahi.

Pemenang piala UFC Jon Jones mengaku cukup mengenal pegulat-pegulat asal Kaukasus. “Mereka memiliki dedikasi yang hebat terhadap pekerjaannya, dan selalu siap untuk berlatih keras. Bahkan hal ini membuat kami, orang Amerika, merasa seperti pemalas,” kata sang juara. Yasube Enomoto, seorang warga Jepang dan sekaligus bintang MMA mengatakan bahwa ia menyadari kekuatan dan teknik pegulat Dagestan karena mereka sudah pernah beberapa kali bertemu di atas ring. Menurutnya, pegulat asal Dagestan adalah orang-orang yang kuat. Enomoto pernah bergulat melawan Shamil Zavurov. Ia mengaku, ia pernah mengalahkan Zavurov dan juga dikalahkan.

Elang dengan Topi Bulu

Habib Nurmagomedov adalah salah satu pegulat Kaukasus yang paling terkenal di antara pegulat UFC. Sebagai seseorang yang telah menyingkirkan beberapa pegulat terbaik dalam turnamen satu demi satu, ia membawa ciri khas nasionalnya di hadapan masayarakat Amerika, yang terkadang hal tesebut cukup provokatif. Habib dijuluki elang dengan topi bulu yang menghampiri lawan dan penonton. Ternyata, hal tersebut tidaklah sia-sia. Para penggemar Nurmagodev tumbuh dengan pesat.

Tentu saja, efek tersebut adalah bonus dari keberhasilannya secara keseluruhan. Yang paling penting adalah kemenangannya dalam pertandingan. Di Amerika, semuanya dikemas sedemikian rupa agar penonton mau menonton Anda. Mereka membayar untuk menonton pertandingan dan menggantung poster Anda di dinding. Sementara itu, petarung dari Kaukasus Rusia berhasil mengatasi tantangan ini sehingga kemungkinan jumlah topi bulu, jubah dan atribut nasional lainnya pada turnamen MMA akan terus tumbuh.

Pada Oktober 2013, di Makhachkala (Dagestan) dibuka Akademi Seni Bela Diri. Menurut kepala produser yang juga pemegang piala dunia dalam seni bela diri jiu-jitsu Kamil Gadzhiev, Republik Dagestan yang telah melahirkan banyak juara dunia, termasuk olimpiade, telah membangun sebuah lapangan olahraga baru agar atlet lokal terus bertambah.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More