Tiga Destinasi Wisata di Kaliningrad, Salah Satu Kota Tuan Rumah Piala Dunia FIFA 2018™

Gondola di sisi pantai di Svetlogorsk, Kaliningrad.

Gondola di sisi pantai di Svetlogorsk, Kaliningrad.

Kaliningrad adalah daerah permukiman yang tenang di Rusia yang menyajikan pemandangan matahari terbenam yang menawan, dengan bukit pasir dan resor tepi laut. Berikut tiga tujuan wisata untuk bersantai di area tersebut di sela pertandingan Piala Dunia FIFA 2018™.

Musim panas ini, Kaliningrad akan menjadi tuan rumah beberapa pertandingan grup yang paling diantisipasi dalam Piala Dunia 2018: Kroasia vs Nigeria pada 16 Juni, Serbia vs Swiss pada 22 Juni, Spanyol vs Maroko pada 25 Juni, dan Inggris vs Belgia pada 28 Juni.

Sementara kota Kaliningrad sendiri merupakan surga wisata, mereka yang memiliki beberapa hari di sela pertandingan punya cukup waktu untuk menjelajah melampaui batas kota. Sejumlah ide perjalanan sehari berikut akan memberi Anda cita rasa wisata paling organik dan katarsis di Wilayah Kaliningrad, dan mungkin akan melepaskan ketegangan dalam persiapan pra-pertandingan.

1. Svetlogorsk (45 km dari Kaliningrad)

Resor dan tepian pantai yang romantis untuk menyaksikan matahari terbenam layaknya gambar di kartu pos ini adalah tempat favorit warga Kaliningrad untuk liburan singkat.

Tepi pantai Svetlogorsk.

Kota berpenduduk 13.000 orang ini pertama kali hadir pada abad ke-19 masa Kekaisaran Prussia sebagai tempat persembunyian tepi pantai dan spa mewah bernama Rauschen, yang pernah populer di kalangan elit dan seniman Jerman seperti Thomas Mann dan Hermann Brachert. Warisan Jerman Svetlogorsk memberikannya nuansa eksklave Kekaisaran Jerman, dan Anda bahkan mungkin lupa bahsa sedang berada di Rusia. Memang, rumah-rumah bergaya Alsace yang kecil dan nyaman yang dihuni penduduk setempat sungguh jauh berbeda dengan gedung-gedung tinggi Soviet yang terlihat di Kaliningrad, dan berjalan-jalan menyisir jalan-jalan utama dan trotoar Svetlogorsk lebih mengingatkan Anda pada Strasbourg atau Nice daripada Moskow. Salah satu contohnya adalah menara air art nouveau kota yang menakjubkan dan tak biasa.

Hutan ‘menari’ Tanjung Curonian.

Selain arsitekturnya, Svetlogorsk juga dipuja akan pantainya, yang pertama kali dibentuk sebagai tanggul oleh Friedrich Wilhelm IV dari Prussia pada 1840. Mundur ke jalan yang ramai yang membatasi area utama kota, pantai Svetlogork bangga akan nuansa pusat kota yang hidup di bagian belakang sekaligus pemandangan tak berujung Laut Baltik dari depan. Untuk pengalaman spesial, ada baiknya Anda mengakses pantai dengan gondola yang curam, yang menyajikan pemandangan yang layak masuk Instagram.

Svetlogorsk dapat dicapai dengan mudah dari Kaliningrad menggunakan dengan bus, dengan durasi perjalanan kira-kira 1,5 jam dan biaya 87 rubel (Rp20.000), atau dengan elektrichka (kereta pinggiran kota) yang memakan waktu satu jam saja dan biaya 70 rubel (Rp15.600).

2. Tanjung Curonian (50 km dari Kaliningrad)

Tanjung Curonian menawarkan pemandangan paling menakjubkan di Eropa dengan keajaiban geografis yang lengkap. Hamparan daratan yang panjang dan tipis yang menghubungkan Rusia dengan Lituania ini disokong oleh morain glasial, dan membentuk pembatas yang menakjubkan antara Laguna Curonian dan Laut Baltik. Akibatnya, apa yang terasa seperti sebuah pulau sebenarnya merupakan jalan terisolasi, pesisir Baltik sepanjang 98 km, yang membungkus begitu banyak keindahan alam di area permukaannya yang kecil.

Tanjung Curonian, tuan rumah bukit pasir tertinggi Eropa.

Terletak di titik puncak Eropa, cagar alam murni ini menawarkan lanskap alam yang sangat beragam yang terdiri dari taman nasional, pantai, dan hutan “menari” yang menarik orang-orang yang gemar berjemur, nelayan yang ingin rekreasi, serta pengamat burung. Ketenangan di jalur ini juga menciptakan koloni seniman di desa Nida yang terbentuk pada akhir abad ke-19.

Hutan ‘menari’ Tanjung Curonian.

Hal yang paling spektakuler di tempat ini adalah bukit melengkung Tanjung Curonian yang terkenal: Di antara bukit-bukit pasir, situs ini menjadi tanah abadi untuk berjalan, dengan hembusan angin laut, cakrawala Baltik yang tak berujung, dan sinar mentari, dengan pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidup. Sejumlah bukit pasir bahkan masih hijau akibat deforestasi abad ke-19; Rusa yang berkeliaran di pasir adalah pengingat akan kehadiran hutan di masa dulu.

Lesnoy, kota pertama di Tanjung Curonian, dapat dicapai dengan mobil dalam waktu sekitar satu jam. Atau, Anda bisa menumpang bus No. 593 dari stasiun Yuzhny Kaliningrad, atau naik kereta dari stasiun mana pun di Kaliningrad ke Zelenogradsk, dan kemudian naik bus ke Tanjung Curonian.

3. Yantarny (55 km dari Kaliningrad)

Yantarny, surga tersembunyi Kaliningrad.

Untuk sesuatu yang sedikit lebih terpencil, desa pesisir Yantarny sungguh sempurna. Tempat persembunyian yang kurang dikenal ini, yang berpenduduk hanya 5.000 orang, adalah permata tersembunyi yang paling dikenal akan kehadiran tambang batu ambar di dekatnya yang menghasilkan 95 persen ekspor batu ambar dunia (nama "Yantarny" sendiri berarti "batu ambar"). Memang, rawa-rawa batu ambar di tepi pantai wajib dikunjungi, karena menawarkan pemandangan di ketinggian yang tak tertandingi di atas Baltik.

Namun, alasan utama untuk mengunjungi Yantarny adalah karena pantai-pantainya yang tenang dan ditinggalkan, yang menawarkan lanskap yang sungguh berbeda dari Kaliningrad modern. Dilengkapi dengan tebing berpasir yang tinggi, pesisir Yantarny yang sangat luas dengan hiasan batu ambar kebanggaan daerah ini menjadi lokasi yang paling tenang dan tak terganggu - apalagi, pantai-pantai ini adalah yang pertama di Rusia yang dianugerahi bendera biru untuk kebersihan mereka. Kesunyian Yantarny hanya ‘diganggu’ oleh rumah-rumah bergaya Jerman yang tersembunyi di antara pepohonan hijau yang mengisi tebing-tebing pantainya.

Yantarny dapat dicapai dengan bus No. 120, yang berangkat dari stasiun kereta api Kaliningrad Yuzhny setiap setengah jam dan biaya 140 rubel (Rp31.000) per penumpang.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki