Apakah Hewan Rusia Utara Memiliki Kesempatan Bertahan Hidup dari Perubahan Iklim?

Beruang kutub makan di tempat pembuangan sampah di kepulauan Novaya Zemlya utara Rusia yang terpencil.

Beruang kutub makan di tempat pembuangan sampah di kepulauan Novaya Zemlya utara Rusia yang terpencil.

Alexander GRIR/AFP
Meskipun hampir tidak ada hewan, manusia atau non-manusia yang tidak terkena dampak perubahan iklim, hewan-hewan liar di Kutub Utara Rusia merasa menjadi yang paling rentan.

Menurut Pusat Penelitian Hidrometeorologi Rusia, negara ini memanas 2,5 kali lebih cepat daripada bagian lain dari planet kita dan hal tersebut menyebabkan lapisan es mencair, serta lebih seringnya kejadian kebakaran hutan, banjir, dan gelombang panas. Orang Rusia mulai merasakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka. Akan tetapi, hewan-hewan yang berkeliaran di wilayah Rusia yang luas telah menderita selama beberapa waktu jauh sebelum manusia mengkritisinya. Terutama di Kutub Utara — masih bisa menemukan alam liar dan wilayah yang memanas lebih cepat.

Habitat berubah lebih cepat daripada yang bisa dilakukan hewan

Es yang mencair mengapung di Pulau Wrangel, Timur Jauh Rusia.

Menurut peneliti di Taman Nasional Pulau Wrangel, Pavel Kulemeev, pola umum dampak dari perubahan iklim ini adalah bahwa habitat lingkungan berubah lebih cepat daripada yang dapat beradaptasi dengan perubahan ini. Spesies hewan yang telah beradaptasi untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sangat spesifik dan terbatas, tidak dapat menanggung fluktuasi besar dalam kondisi lingkungan saat ini (jika berbicara secara ilmiah, contohnya spesies stenobiont — jenis keluarga lalat perampok). Oleh karena itu, hewan biasa juga tidak akan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah dengan kecepatan yang begitu cepat.

Es tidak lagi cukup untuk beruang kutub dan walrus

Sekelompok walrus beristirahat di atas gumpalan es yang terapung di Pulau Wrangel.

“Akibat pemanasan planet ini, banyak spesies hewan mundur dan tinggal lebih jauh ke utara. Dalam situasi ini, hewan-hewan di tundra dan daerah kutub tidak benar-benar memiliki tempat yang lebih utara untuk mundur. Hewan pertama yang merasakannya adalah beruang kutub,  erburu anjing laut di atas es. Area lapisan es terus menyusut, jumlah anjing laut juga berkurang, dan beruang menderita — mereka berada di puncak tingkatan trofik. Secara umum, predator besar adalah beberapa contoh hewan yang paling rentan terhadap perubahan iklim,” kata Boris Sheftel, peneliti senior di Institut Ekologi dan Evolusi Severtsov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Beruang kutub berjalan di atas gumpalan es yang terapung di dekat Pulau Wrangel.

Memang, banyak dari kita telah melihat video beruang kutub yang menyayat hati di ambang kematian karena kelaparan berkeliaran di lanskap tandus tanpa es dalam upaya terakhir yang putus asa untuk menemukan makanan.

Bahkan bukan jumlah es yang tersisa selama bulan-bulan musim panas melainkan kecepatan es yang mundur ke arah Kutub Utara yang menyebabkan masalah. “Jika mundur terlalu cepat, maka beruang tidak punya waktu untuk menyadari bahwa ke sanalah mereka juga harus pergi dan terdampar di pantai atau, lebih buruk lagi, di sebuah pulau,” Dr. Alexey Kokorin, Kepala Program Iklim dan Energi di WWF Rusia, menjelaskan.

Seekor beruang kutub berdiri di atas gumpalan es yang terapung di Samudra Arktik.

Selain itu, karena perubahan lapisan es, beruang kehilangan tempat istirahat dan terpaksa menghabiskan lebih banyak energi saat berburu. Betina hamil harus menempuh jarak yang lebih jauh ke sarangnya. Ketika pencairan terjadi, perubahan suhu di dalam sarang dapat terjadi, yang dapat menyebabkan induk beruang dengan anak-anaknya meninggalkan sarang sebelum waktunya, dan mengakibatkan anak-anaknya mati karena hipotermia.

Walrus juga merasakan penurunan jumlah es yang sangat tidak nyaman, terutama es yang menempel pada tanah tempat mereka biasanya beristirahat. Untuk alasan ini mereka mulai mengubah lokasi rookery mereka, yang berarti bahwa mungkin lebih sulit bagi mereka untuk menemukan makanan dan mungkin menjadi lebih mudah bagi beruang kutub untuk menyerang anak-anak mereka.

Beruang vs Manusia: Risiko konflik

Beruang kutub makan di tempat pembuangan sampah di kepulauan Novaya Zemlya.

Beruang tidak hanya kehilangan sumber makanan utama mereka ketika mereka terdampar di darat, tetapi ini juga mengarah pada ancaman konflik manusia-satwa liar yang sangat nyata dan serius. Ketika beruang tidak bisa berburu di es laut, mereka beralih ke darat, lapar akan makanan. Dan tanah adalah tempat tinggal orang. Kokorin mengingat sebuah insiden yang terjadi pada tahun 2019 di Novaya Zemlya (kepulauan di Samudra Arktik) ketika lebih dari 50 beruang muncul di pemukiman militer karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi.

Dalam kasus ini, beruang kutub terutama "memburu" sisa makanan yang dibuang oleh manusia, tetapi dalam kasus yang lebih ekstrem, mereka berburu anjing dan manusia itu sendiri. Ini menimbulkan risiko langsung bagi beruang karena kemungkinan besar akan ditembak oleh manusia dan manusia itu sendiri karena dapat dimakan oleh beruang. Insiden seperti itu semakin sering terjadi dalam 15 tahun terakhir. (Untungnya ada "patroli beruang" yang ditunjuk secara khusus di sebagian besar wilayah Arktik Rusia.) Kulemeev memperingatkan bahwa, mengingat laju perkembangan Kutub Utara yang semakin meningkat, peristiwa ini akan menjadi lebih sering, dan, sebagai suatu peraturan, orang-orang itu sendiri yang memprovokasi hewan untuk menyerang dengan melanggar aturan keselamatan yang ada.

Mengapa anak anjing laut putih bisa mati di bulan pertama kehidupan?

Anjing laut Laut Putih juga menghadapi ancaman serius. Anak-anak anjing biasanya lahir pada bulan April, saat biasanya masih ada es dan tidak ada hujan. Tapi sekarang es mencair lebih awal dan hujan datang lebih awal juga. Bulan pertama kehidupan anak anjing sangat penting dan meskipun mereka dilahirkan dengan mantel bulu yang cukup tebal untuk menahan dingin, itu masih tidak tahan air. Jadi saat hujan, mereka terkena hipotermia dan mati. Karena kematian massal anak anjing laut menjadi lebih sering, ada kemungkinan besar keruntuhan populasi.

Sebelum perubahan iklim, pemburu liar adalah masalah utama. Masalah ini telah diperbaiki berkat penurunan permintaan untuk topi bulu putih. Juga, kapal biasa melewati habitat mereka, tetapi otoritas Arkhangelsk menghentikan lalu lintas kapal di sekitar tempat anjing laut dan anak anjing mereka tinggal.

Rerumputan rusa kutub terkubur di bawah es

Pada bulan Desember 2020, hujan musim dingin diikuti oleh cuaca yang sangat dingin di Semenanjung Yamal, yang menyebabkan kematian ribuan rusa kutub Arktik. Cuaca yang tidak biasa (mungkin terkait dengan perubahan iklim) menyebabkan pembentukan lapisan es yang tebal — hingga tiga sentimeter — di atas lumut. Karena itu, menjadi tugas yang mustahil bagi rusa kutub untuk mencari makanan sambil merumput di padang rumput musim dingin. Dalam insiden itu, kuku rusa yang mati menjadi sangat lelah karena mereka berusaha mati-matian untuk mencapai sumber makanan mereka.

Pola migrasi kawanan besar Taimyr, yang ditemukan di ujung paling utara Rusia, telah dipengaruhi oleh kenaikan suhu dan aktivitas manusia. Sekarang perjalanan rusa kutub lebih berbahaya karena mereka terpaksa berenang melintasi sungai yang telah mencair sebelum waktunya. Banyak anak sapi khususnya tidak dapat melewati kondisi yang sulit.

Akankah hewan-hewan itu bertahan?

Beruang Kutub: Apakah hewan seperti beruang kutub akan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah adalah pertanyaan yang tidak pernah dilihat secara langsung oleh para ilmuwan. Bagi Kumeleev, karena jumlah spesies yang terancam punah sudah rendah (dan dalam beberapa kasus sangat rendah), kemungkinan besar mereka tidak akan mampu beradaptasi.

Akan tetapi bagi Kokorin, tidak semua malapetaka dan kesuraman bagi sebagian besar hewan yang rentan ini. Berkenaan dengan beruang kutub, Kokorin meyakinkan bahwa bahkan ramalan paling pesimis pun mengatakan bahwa hewan agung ini akan bertahan jika manusia menggunakan segala cara yang mungkin untuk mencegah mereka memasuki pemukiman (tidak meninggalkan makanan di tempat sampah dan menakut-nakuti mereka dengan tembakan keras) . Ini adalah metode adaptasi mereka yang paling penting terhadap perubahan iklim. Jumlah mereka kemungkinan akan menurun tetapi itu masih cukup untuk mempertahankan populasi yang sehat yang akan “membawa sukacita bagi cucu-cucu kita dan anak-anak mereka”, kata Kokorin.

Walrus: Untuk walrus, kita perlu memantau setiap penangkaran baru, memahami masalah apa yang mungkin dihadapi walrus di sana dan mencoba untuk mendemotivasi walrus agar tidak mendirikan penangkaran di tempat-tempat yang rentan terhadap serangan beruang kutub dengan mengeluarkan suara, misalnya . Tentu saja kita tidak boleh terlalu banyak mengganggu alam, jadi ini hanya boleh dilakukan ketika jumlah walrus mulai sangat rendah.

Rusa kutub: Kemungkinan besar akan bertahan hidup dengan mengubah pola migrasinya, kata Kokorin. Di beberapa tempat, mereka akan mengubah pola migrasi mereka di musim semi dan musim gugur, sementara di tempat lain di mana iklim berubah lebih cepat dan lebih radikal, pola migrasi mereka juga akan berubah di musim dingin. Ketika pencairan dan pembekuan yang tidak sesuai musim terjadi, orang dapat membantu rusa menembus es menggunakan alat. WWF Rusia juga telah bereksperimen dengan membantu anak sapi yang baru lahir menyeberangi sungai dan telah berhasil dalam hal ini.

Anjing Laut Putih: Mereka tidak akan bertahan jika kondisi iklim terus berubah, menurut Kokorin. Satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah pindah ke Laut Barents (artinya mereka tidak akan lagi ditemukan di Laut Putih) atau orang harus membuat pulau es buatan untuk mereka.

Selanjutnya, bumi semakin menghangat dalam dua tahun terakhir. Sementara, Arktik Rusia mencatatkan rekor suhu tertinggi dari sejarah pengukuran di Antartika. Simak selengkapnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki