Sudah Usang, Rusia Lepaskan Modul Penambatan Wahana Antariksa dari ISS

Roscosmos/Global Look Press
Proses pelepasan modul tersebut disiarkan di situs web badan antariksa Rusia, Roscosmos.

Modul Pirs, salah satu dari dua kompartemen penyandaran dan penambatan wahana antariksa (docking) Rusia yang telah mengorbit selama 20 tahun, telah dilepas dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), Senin (26/7). Proses pelepasan modul tersebut disiarkan di situs web badan antariksa Rusia, Roscosmos.

Wahana antariksa kargo nirawak sekali pakai Progress MS-16 melepaskan diri dari pelabuhan modul Zvezda, salah satu komponen ISS yang menyediakan seluruh sistem pendukung kehidupan di dalam stasiun tersebut, bersama modul Pirs pada pukul 13.56 waktu Moskow.

Operasi semacam ini baru kali pertama dilakukan. Selain sudah usang, modul Pirs harus dilepas supaya kompartemen docking Rusia dapat menerima modul laboratorium multiguna Nauka pada 29 Juli mendatang.

Pada pukul 17.01 waktu Moskow, wahana antariksa tersebut menyalakan mesinnya untuk meninggalkan orbit.

Menurut perhitungan ahli balistik, Progres dan modul Pirs mulai memasuki atmosfer pada pukul 17.42 waktu Moskow dan mulai terbakar. Komponen-komponen yang tidak terbakar jatuh di Samudra Pasifik Selatan, di suatu area yang disebut Kuburan Pesawat Ruang Angkasa, tempat paling jauh dari peradaban manusia di muka Bumi, pada pukul 17.51 waktu Moskow.

Modul Pirs diluncurkan pada Agustus 2001. Modul itu digunakan 52 kali untuk misi aktivitas di luar wahana antariksa (spacewalk). Pesawat ruang angkasa berawak Soyuz dan Wahana antariksa kargo nirawak Progress juga pernah bersandar ke modul itu.

Rusia berencana untuk meninggalkan pengoperasian kompartemen ISS-nya mulai 2025 dan mulai membuat stasiun layanan orbital yang baru.

Astronaut Amerika telah singgah ke ISS tiga kali lebih banyak daripada kosmonaut Rusia. Mengapa demikian?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki