Bagaimana Pelajar Rusia Menciptakan Robot-Robot Canggih Berkelas Dunia?

Press photo
Anak-anak muda Rusia penggemar robotika sering kali memenangkan kejuaraan internasional. Kami mewawancarai tiga pemenang RoboCup untuk mengetahui cara membuat robot-robot terbaik di dunia, berlatih di bidang robotika, dan mengajari robot memainkan flute.

Pandemi COVID-19 telah mendorong upaya untuk menjadikan robot sebagai bagian dari kehidupan manusia di segala bidang. Orang-orang di seluruh dunia kini membicarakan drone yang akan menggantikan kurir, robot industri yang bekerja terus-menerus dan tak pernah sakit, serta robot medis yang dapat merawat pasien COVID-19. Rusia pun tak mau ketinggalan tren ini. Menurut laporan Federasi Robotika Internasional, Rusia menempati urutan kedua di dunia dalam produksi robot pelayanan. Selain itu, tim robotika Rusia sering kali menjuarai Olimpiade Robot Dunia dan kompetisi-kompetisi RoboCup.

1. Oleg Marchenko (21)

Juara pertama Olimpiade Robot Dunia 2017 dalam Kategori Senior Reguler, Novosibirsk, Tim Binom (Liga Robot).

Oleg Marchenko

Saya pertama kali mendengar Liga Robot pada 2014 dan sejak itu mulai mengikuti kompetisi dan Olimpiade Robot. Di Rusia, siapa pun yang berminat mengikuti perlombaan ini harus melalui beberapa tahap seleksi. Yang pertama, penyisihan tingkat kota, kemudian daerah, baru setelah itu Olimpiade Seluruh Rusia, dilanjutkan dengan kamp pelatihan federal untuk menuju kompetisi tingkat internasional — Olimpiade Robot Dunia.

Pada 2014, kami meraih peringkat ke-11 pada babak seleksi nasional sehingga tidak masuk dalam sepuluh besar tim yang melanjutkan ke tingkat internasional. Pada 2015, kami memenangkan satu tempat di tingkat nasional dan melanjutkan ke Olimpiade Dunia. Pencapaian itu menjadi motivasi besar bagi kami agar tidak menyerah begitu saja. Namun, saat itu, kami bahkan menempati peringkat paling bontot. Jadi, kami mulai mempersiapkan Olimpiade Dunia berikutnya pada 2016.

Untuk Olimpiade berikutnya, tim kami harus menggunakan robot yang sepenuhnya otonom. Kami merancang robot terlebih dahulu, memprogramnya, mengujinya di lapangan dalam mode otonom, dan melihat robot itu bergerak dengan sendirinya, mengorientasikan dirinya dengan bantuan sensor, dan memanipulasi objek. Kami tidak boleh mendekati robot atau memengaruhi pergerakannya dengan cara apa pun.

Dengan kata lain, segala sesuatu yang dapat Anda lakukan harus dilakukan sebelumnya. Jadi, begitulah, kami berhasil lolos babak final Olimpiade Dunia 2016. Presentasi robot kami dimulai, ada banyak penonton dan ratusan kamera. Robot dihidupkan, ia mulai bergerak. Awalnya, semua tampak lancar, tetapi tiba-tiba ia berjalan menyimpang begitu saja. Ini tidak pernah terjadi dalam latihan dan kami sama sekali tidak menduganya. Seluruh ruangan tersentak. Kami kembali ke rumah dan, tentu saja, sangat kecewa. Kami bahkan sempat memutuskan untuk menyerah, tetapi kemudian kami kembali dan menganalisis seluruh masalah. Ternyata, kami tidak memperhitungkan bahwa robotika berbeda dari pemrograman. Suatu situasi dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Sebagai perancang dan pengembang, kami harus bisa menciptakan robot yang tahan terhadap pengaruh eksternal. Kami menghabiskan seluruh 2017 untuk mengerjakan robot ini. Kami memotret robot kami dengan lampu kilat (flash), kami menendangnya, kami ingin memastikan bahwa tidak ada faktor eksternal yang akan memengaruhi robot itu. Pada 2017, di Olimpiade Dunia, Dewi Fortuna berpihak pada kami. Kami betul-betul siap, seluruh persiapan kami matang. Tugas yang harus diselesaikan tidak mudah, tetapi kami paham bahwa para pesaing kami tidak dapat menyamai pencapaian yang kami tunjukkan, bahkan di Olimpiade Dunia. Pada 2017, kami menjadi juara dunia.

Setelah itu, kami beristirahat sejenak untuk kuliah. Namun pada 2018, kami memutuskan untuk mencoba mengulang kesuksesan kami dan berkompetisi ke Olimpiade Dunia di Thailand. Namun, rencana kami tidak berjalan mulus. Akhirnya, kami hanya finis di 16 tim teratas dalam kategori senior alih-alih di antara para jawara. Persaingan memang sangat ketat dan semuanya ditentukan dalam hitungan detik, sedangkan robot kami tertinggal beberapa detik. Namun, kami menerima nominasi untuk solusi terbaik dalam kategori tersebut, dan kami pun merasa puas.

2. Vasily Dunayev (18)

Juara I Olimpiade Robot Dunia 2018 dalam Kategori SMA Terbuka, Tim Sankt Peterburg dari Universitas ITMO dan Sekolah Fisika dan Matematika Kepresidenan No. 239.

Vasily Dunayev (kedua dari kiri)

Ada beberapa kategori dalam Olimpiade Robot Dunia (WRO). Misalnya, dalam satu kategori, Anda diberi tugas khusus dan diminta menyelesaikannya lebih cepat dan lebih baik daripada yang lain. Namun, ada juga kategori terbuka. Dalam kategori ini, Anda diberi stan pameran berukuran 2 x 2 meter dan Anda punya waktu lima menit untuk mempresentasikan proyek Anda.

Ketika Anda memiliki tugas yang jelas dan spesifik, Anda bisa fokus dan berkonsentrasi. Dengan demikian, ada banyak ide orisinal yang muncul. Namun, dalam kategori terbuka, ada semangat kompetisi, tetapi Anda diperbolehkan untuk berpikir kreatif, melakukan apa pun yang terlintas dalam benak Anda.

Ketika berpartisipasi dalam Olimpiade 2014 di Sochi, Rusia, saya tidak langsung menjuarai kategori kreatif. Saya menempati posisi kedua dalam kategori junior. Saya baru memenangkan WRO pada 2018 di Thailand. Waktu itu, kami meraih juara pertama dalam kategori senior.

Kami menempati posisi pertama dengan robot yang memetik stroberi dari petak-petak kebun. Kedengarannya mudah, tetapi nyatanya kami didukung oleh sebuah kamera. Dengan menggunakan jaringan saraf (neural networks), robot dapat menemukan stroberi, menentukan kondisinya, dan mengunggah informasi yang ia terima ke dalam database. Kemudian, si pengguna akan memesan stroberi tersebut melalui sebuah aplikasi. Robot itu pergi dan memetik buah dengan gripper (semacam tangan robot -red.) silikon yang lembut, membawanya ke drone, dan drone itu kemudian terbang. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya itu adalah hasil dari serangkaian pekerjaan yang menggabungkan banyak teknologi. Seluruh skenario ini harus berjalan secara bersamaan. Lebih dari itu, seluruh teknologi yang digunakan harus benar-benar sinkron.

Setelah itu, kami membuat proyek untuk RoboCup OnStage berupa robot humanoid perempuan yang memainkan flute. Robot yang bernama Elsa ini memainkan flute secara nyata. Dia meniup mouthpiece dan menekan tombol dengan jari-jarinya. Dia juga dapat mendengar akor yang dimainkan oleh seorang gitaris, mengenalinya, membuat melodi sendiri dengan kunci yang sama, dan kemudian memainkannya bersama dengan si pemain gitar. Dengan kata lain, ini juga merupakan proyek berteknologi tinggi. Proyek semacam ini mengembangkan imajinasi dan membantu kita membuat kemajuan di berbagai bidang robotika. Misalnya, ada robotika lunak (yang menggunakan bahan-bahan fleksibel dan mudah berubah bentuk yang memungkinkan robot beradaptasi dengan berbagai tugas, mulai dari pemodelan makhluk air hingga melakukan operasi), yang merupakan bidang yang sangat menarik dan menjanjikan saat ini.

3. Rodion Anisimov (21)

Juara II di RoboCup@Work, mahasiswa di Universitas Teknik Negeri Bauman Moskow.

Rodion Anisimov

Saya adalah mahasiswa di Departemen Mekatronika dan Robotika SM-7 dan juga kapten Klub Robotika Bauman. Tim kami telah mengikuti kompetisi RoboCup. Ada dua kategori: para peserta berkompetisi dalam kategori senior yang terdiri atas tiga liga. Yang pertama dan yang sejak awal dilombakan di RoboCup adalah RoboCupSoccer. Di sini, robot-robot humanoid bermain sepak bola. Liga kedua adalah RoboCup@Home. Dalam liga ini, robot harus menyelesaikan masalah di kehidupan nyata. Misalnya, tahun lalu, robot harus mengumpulkan sekeranjang bahan makanan di pasar swalayan. Liga ketiga, liga yang kami ikuti, adalah RoboCup@Work. Di sini, robot pelayanan harus menempatkan objek dengan benar di atas meja. Awalnya, semua objek tersebar secara acak dan robot diberi tugas untuk memindahkan objek tertentu dari satu meja ke meja lainnya. Objek-objek ini antara lain berupa baut, sekrup, dll. Pada dasarnya, sesuatu yang mekanis. Ada juga beberapa tugas tambahan. Misalnya, robot harus memasukkan objek tertentu ke dalam lubang yang sesuai.

Kami telah mengikuti kompetisi ini selama dua tahun. Selama dua tahun berturut-turut, kami menempati posisi kedua, tertinggal di belakang tim dari Singapura. Saya suka kompetisi ini karena lebih berfokus pada pengembangan robotika sebagai ilmu. Tugas yang diberikan bersifat padat wawasan, profesional, dan melibatkan berbagai bidang. Tugas-tugas yang diberikan membuat para peserta harus mampu menggunakan program navigasi. Peta dibuat menggunakan laser rangefinder atau pengintai laser dan robot harus menavigasi menggunakan peta ini. Kamera penglihatan stereo digunakan untuk mendeteksi objek. Semua ini dilakukan menggunakan sistem jaringan saraf.

Selama kompetisi, para peserta bertukar pengalaman, membicarakan solusi teknis mereka, dan kode yang digunakan dalam robot bisa diakses untuk semua orang. Hal ini dilakukan khusus untuk pengembangan industri robotika. Berbagai bidang pengetahuan digunakan: teori probabilitas, aljabar linier, analisis matematika — semuanya dipakai.

Selain RoboCup, saya juga terlibat dalam proyek lain. Misalnya, tahun lalu kami menghadiri konferensi di Tiongkok. Konferensi itu membahas penggunaan internet of thingsinternet untuk segalanya’ (IoT) dalam robotika pelayanan. Di sana, kami membuat sistem kontrol dan tampilan antarmuka untuk robot humanoid pelayanan dari nol supaya orang-orang bisa berinteraksi dengannya.

Wawancara ini dilakukan dalam kerangka proyek Sreda Robostantsiya ‘Rabu Robotika’ yang diselenggarakan paviliun Robostation di VDNKh, bekerja sama dengan Asosiasi Nasional Peserta Pasar Robotika dan saluran PRO Robot di YouTube. Setiap Rabu hingga akhir Desember, situs resmi Robostation dan saluran PRO Robots mengadakan pertemuan daring yang melibatkan pakar-paka robotika dari seluruh dunia.

Sebuah tim di Universitas Negeri Ural Selatan telah mengajarkan sebuah robot yang diberi nama Vanya untuk mengajar bahasa Rusia. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki