Dua Roket Seharga Satu: Bagaimana Elon Musk Gagal Membeli Roket Rusia untuk SpaceX?

Roket SpaceX Falcon 9 yang dengan astronot Robert Benken dan Douglas Hurley di pesawat ruang angkasa Crew Dragon

Roket SpaceX Falcon 9 yang dengan astronot Robert Benken dan Douglas Hurley di pesawat ruang angkasa Crew Dragon

NASA/Joel Kowsky via Global Look Press
Gagal membeli roket Rusia menuntun Elon Musk melahirkan ide ambisius: "jika belum bisa membelinya, mengapa tidak kita buat saja sendiri?"

Perubahan yang tidak biasa terjadi dalam biografi pengusaha Amerika dan penakluk luar angkasa Elon Musk. Salah satunya adalah perjalanannya ke Moskow pada Oktober 2001 untuk membeli beberapa roket Rusia. Alih-alih membawa membawa roket Rusia, pemilik Tesla itu pulang dengan tangan hampa. Namun, jika perjalanan itu tidak berakhir demikian, Space X mungkin tidak akan pernah mengirimkan manusia ke luar angkasa.

Dalam kunjungannya ke Moskow, Musk berencana meninggalkan Rusia dengan tiga roket. Namun, tak ada kesepakatan yang tercapai sehingga tak satupun roket yang berhasil ia bawa pulang. Anggota Tetap Kosmonautika Rusia dan mantan perwakilan perusahaan Kosmotrans, Vladimir Mikhailov, mengingat jelas bahwa negoisasi berlangsung sekitar satu setengah jam.

Pihak Rusia mematok harga $8 juta untuk satu roket, sementara Musk menginginkan dua roket untuk harga tersebut. Keduaya bergeming dengan tawaran masing-masing.

"Pada dasarnya, itu tidak bisa dijual. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sistem misil? Itu adalah area penentuan posisi dengan struktur bawah tanah yang sangat besar dan terdapat roket di dalamnya. Itu (roket — red) dirakit di pabrik dan tidak pernah dilepas lagi," jelas Mikhailov.

Meski negoisasi tak membuahkan hasil dan Musk pulang dengan tangan hampa, ide ambisius lahir dari kegagalan itu: "Jika belum bisa membelinya, mengapa tidak kita buat saja sendiri?

Mungkinkah Rusia kehilangan ruang angkasa gara-gara Elon Musk?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki