DXL-5: Senapan Runduk Terbaru Rusia Berjangkauan Tujuh Kilometer

Sergey Sevostyanov/TASS
Seakan tak puas telah menciptakan senapan runduk dengan jangkauan terjauh di dunia (4,217 kilometer), pabrik senjata Rusia Lobaev Arms kembali membuat senapan baru dengan jangkauan 7 kilometer dan dilengkapi dengan peluru hipersonik.

Beberapa waktu lalu kami telah membahas tentang senapan runduk Rusia yang memiliki jangkauan terjauh di dunia, SVLK-14S yang dijuluki Sumrak (Senja). Jangkauan tembak Sumrak mencapai 4,217 kilometer. Namun, awal Juni lalu, perusahaan pembuat senjata yang sama, Lobaev Arms, telah mengalahkan capaian mereka sendiri dengan menciptakan senapan runduk baru berjangkauan 6 — 7 kilometer, DXL-5. 

DXL-5 akan menjadi satu-satunya senjata yang memungkinkan penembak jitu untuk menghancurkan musuh di luar garis horizon.

Sang pengembang, Vlad Lobaev, menjelaskan bahwa dengan sudut pandang dari bukit, lantai dua, atau lantai tiga bangunan apartemen (dengan ketinggian sekitar 10 meter), jangkauan pandangan bisa melebihi 11 kilometer. Semakin tinggi sudut pandang, tentu saja, semakin jauh garis horizon.

Karakteristik DXL-5

DXL-5 adalah hasil dari pengembangan teknologi VLK-14S yang menerima julukan Sumrak karena kekuatannya yang mengerikan. Sumrak dibuat secara khusus, layaknya Ferrari atau Porsche, untuk penikmat senjata presisi tinggi dan penembak profesional yang bersaing dalam jangkauan jauh," ujar Kepala Insinyur Lobaev Arms Yuri Sinichkin kepada Russia Beyond.

Sumrak dirancang untuk menembakkan peluru .408 CheyTak (10.3x77 mm), yang keluar dari laras dengan kecepatan 900 meter per detik. Selain itu, Lobaev Arms sedang mengembangkan serbuk mesiu jenis baru untuk DXL-5, yang akan memungkinkan peluru untuk terbang dengan kecepatan lima kali kecepatan suara atau lebih (lebih dari 1.500 meter per detik).

SVLK-14S Sumrak.

Ini diperlukan karena peluru yang terbang pada kecepatan 900 meter per detik tiba di sasaran setelah delapan detik, memberikan waktu bagi musuh untuk melarikan diri. Oleh karena itu, untuk memastikan agar musuh tidak dapat berkutik, senapan presisi tinggi yang baru membutuhkan amunisi yang terbang tidak kurang dari 1,5 kilometer per detik.

"Peluru ini dapat menembus logam setebal tiga sentimeter. Bayangkan apa yang terjadi jika peluru seperti itu menghantam musuh! Tidak ada pelindung tubuh yang akan membantu," ujar sang insinyur.

Peluru masa depan itu dirancang untuk menghancurkan musuh yang mengenakan pelindung tubuh kelas enam (yang paling tahan peluru). Pelindung tubuh semacam itu hanya dapat ditembus dengan senjata antitank Perang Dunia II (seperti senjata antitank Simonov 14.5 mm) atau senjata serupa dalam hal kekuatan, bukan dalam jarak atau akurasi.

Perangkat DXL-5 untuk memecahkan rekor dunia sedang dikembangkan sebagai barang koleksi sekali pakai, mirip dengan mobil mewah. Model standar juga akan beroperasi pada jarak sangat jauh, sekitar 5 kilometer

“Melatih para penembak jitu untuk membasmi teroris pada jarak 2 – 2,5 km akan membutuhkan setidaknya 2 3 tahun. Senapan kami akan mengubah eliminasi musuh jangka panjang menjadi tugas rutin dan menyederhanakannya secara ekstrem. Itu memang tujuannya, yaitu untuk menjadikan operasi profesional lebih efisien dan lebih mudah,” tambah Sinichkin.

Ia juga menjelaskan, uji coba pabrik DXL-5 terpaksa dipindahkan dari musim gugur ke musim dingin 2020 karena swakarantina pandemi virus corona. Begitu senapan baru itu membuktikan efektivitas dan kemampuan teknisnya, komisi khusus akan diundang ke percobaan untuk menyaksikan upaya pemecahan rekor dunia.

Tidak seperti AK-12, pengembangan senjata yang dilakukan Lobaev Arms itu tidak diklasifikasikan sebagai sangat rahasia, dapat dibeli secara individual, dan digunakan oleh unit apa pun. Adapun rupa versi tentara DXL-5 dan berapa harga yang dibanderol untuk pembeli asing baru bisa diketahui pada awal 2021, setelah senjata itu melalui tes teknis dan militer.

Sumrak adalah satu-satunya senapan runduk berjangkauan empat kilometer di dunia. Cari tahu lebih banyak tentang Sumrak di sini!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki