Huawei Bandingkan Diri bak Pesawat Serbu Soviet Il-2 yang Tak Dapat Dihancurkan

Sputnik
Poster iklan baru Huawei telah muncul di internet, yang menunjukkan bahwa perusahaan raksasa teknologi Tiongkok itu mampu menahan semua tekanan Amerika.

Poster itu menunjukkan sebuah pesawat serbu Soviet Ilyushin Il-2 yang tetap terbang setelah dihujani peluru dan mendapatkan puluhan lubang di sayap serta badannya. 

“Tanpa bekas luka, tidak ada kulit yang kesat dan otot yang kuat. Pahlawan akan selalu menghadapi tantangan sepeti itu,” bunyi tulisan di poster itu.

Huawei menjadi target utama dalam perang dagang Amerika Serikat (AS) melawan Tiongkok. Pihak berwenang AS menuduh perusahaan tersebut melakukan penipuan keuangan, pencucian uang, dan melanggar sanksi AS terhadap Iran. 

Pada Agustus 2018, Donald Trump melarang struktur pemerintah menggunakan peralatan yang diproduksi Huawei dan anak perusahaannya ZTE. AS sekarang bersiap untuk mengecualikan kekhawatiran dari daftar produsen chip. 

Daya tahan pesawat pengebom Il-2 selama Perang Dunia II sangat melegenda. Pilot-pilot Soviet menjuluki Il-2 “Tank Terbang”, sementara Jerman menyebutnya “Bomber Beton” dan “Si Maut Hitam”. Pesawat-pesawat Il-2 dengan puluhan lubang di sayap dan badan pesawat kembali ke markas, diperbaiki pada malam hari, dan kembali bertempur pada pagi harinya. 

Rahasia keperkasaan Il-2 terletak pada pelat lapis baja yang melindungi bagian vital, seperti kabin, mesin, dan tangki bahan bakarnya. Sedangkan sayap dan ekornya yang terbuat dari bahan duralumin dapat dibuat sebanyak yang diinginkan. Ditambah lagi, pesawat berbadan lapis baja itu bisa mendarat dengan perutnya. 

Dari ‘Tank Terbang’ hingga ‘Balalaika’, inilah lima pesawat militer Soviet yang menandai tonggak sejarah dalam dunia penerbangan. Pesawat-pesawat ini mendorong menembus batas hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil dan memecahkan banyak rekor.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki