Apa dan Kepada Siapa Rusia Menjual Peralatan Militernya pada Tahun Lalu?

AFP
Rusia menempati urutan kedua di antara eksportir senjata di dunia. Pada saat yang sama, salah satu negara NATO telah membeli peralatan militer paling tangguh Rusia pada tahun lalu. 

Pada awal April, Presiden Rusia Vladimir Putin telah merangkum hasil kerja sama teknik militer Rusia di arena internasional. Menurutnya, pada 2019, Moskow memasok senjata dan peralatan militer kepada mitranya senilai sekitar 15 miliar dolar AS. Sedangkan pada April 2020, total portofolio pesanan mitra dari sekitar seratus negara sudah lebih dari 55 miliar dolar AS.

"Tentu saja, pengalaman dari kesuksesan penggunaan senjata tempur dalam negeri, khususnya yang telah menunjukkan kegemilangannya di Suriah, juga berperan dalam mendukung pencapaian kita. Efektivitas, keakuratan, keandalan, dan kebersahajaannya adalah kualitas yang menentukan permintaan di pasar senjata global," tegas Putin.

Saat ini, Rusia menempati urutan kedua di dunia dalam pasar ekspor senjata. Pesain utama Moskow dalam segmen ini adalah Washington. Namun, menurut keyakinan para eksportir senjata Rusia, mereka kini tengah memperkuat posisi mereka di pasar yang didominasi oleh AS.

Pesawat Kementerian Pertahanan Rusia memuat bagian dari sistem rudal antipesawat S-400

"Perusahaan pertahanan Rusia terus-menerus mengisi katalog ekspor produk militer dengan model baru, seperti sistem pertahanan udara, sistem peluncuran roket ganda, kendaraan militer, kendaraan udara nirawak (drone), dan berbagai produk lainnya. Hasilnya, selama beberapa tahun terakhir Rusia telah memperkuat posisinya di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika," terang Rostec, Perusahaan Negara untuk Bantuan Pengembangan, Produksi dan Ekspor Produk Industri Teknologi Tinggi Rusia dalam sebuah pernyataan.

Siapa dan Apa yang Dibeli dari Rusia?

Selama beberapa tahun terakhir, Moskow telah menghasilkan lebih dari 630 pesawat tempur garis depan SU-30, baik untuk Angkatan Udara Rusia maupun untuk tentara Aljazair, Armenia, Tiongkok, dan India.

Armada terbesar SU-30 dimiliki oleh India, yaitu lebih dari 300 unit. Pada saat yang sama, 41 unit MiG-29K/KUB juga beroperasi di New Delhi. India sangat menyukai pesawat-pesawat tempur Rusia itu dan ingin menambah 21 unit lagi. Pimpinan kedua negara sedang bernegoisasi, tetapi nilai transaksi pada tahap negosiasi tidak diumumkan untuk saat ini.

Tentara Angkatan Udara (AU) India berbaris di depan Su-30MKI pada latihan parade umum untuk Hari AU di Pangkalan AU Hindon di Gaziabad, pinggiran kota New Delhi.

Selain itu, Moskow juga tengah menjalin pembicaraan untuk memasok pesawat tempur generasi ke-4++, Su-35, ke Tiongkok, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Turki.

Pada tahun lalu, Turki yang merupakan anggota NATO dan pembeli utama senjata AS menjadi salah satu negara pertama yang menerima sistem pertahanan udara S-400 Triumph. Ankara membeli empat baterai sistem rudal antipesawat itu dengan nilai sekitar 2,5 miliar dolar AS.

Setiap baterai memiliki empat peluncur dan masing-masing berisi empat rudal. Jadi, secara total, satu baterai dapat meluncurkan 16 rudal yang mampu menembak jatuh pesawat tempur generasi kelima dan rudal jelajah dengan jarak 200 kilometer.

Kendaraan pengangkut dan pengisian bahan bakar rudal yang merupakan bagian dari sistem pertahanan udara S-400.

Itu pun tanpa memperhitungkan amunisi cadangan, yang juga termasuk dalam kontrak dan akan berada di medan perang.

Kontrak tersebut juga mencakup beberapa kendaraan pengangkut, stasiun radar, pos komando, dan sejumlah kendaraan pendukung. Para penembak antipesawat Turki yang akan mengoperasikan sistem ini, akan dilatih di Rusia.

Saat ini, Moskow tengah berupaya memikat UEA, mitra AS lainnya. Pada awal 2000-an, negara itu membeli lebih dari seribu kendaraan tempur lapis baja ringan BMP-3 Rusia. Pada pameran senjata IDEX 2019, Abu Dhabi menandatangani kontrak senilai 2,71 juta dolar AS untuk meningkatkan kendaraan itu. Sulit untuk mengatakan apa pun secara lebih rinci karena informasi lain belum diungkapkan.

Kendaraan tempur infanteri BMP-3.

Sejalan dengan ini, Rusia juga secara aktif menawarkan senjata antipesawat terbaru AU-220 kepada Abu Dhabi. Senjata untuk perlindungan terhadap pesawat nirawak dan target udara rendah ini menggunakan peluru artileri 57 mm yang mampu menembus lapis baja pesawat termodern.

Moskow juga telah menandatangani kontrak dengan Irak untuk penyediaan sistem penyemburan api berat TOS-1A Solntsepek, helikopter Mi-28N dan Mi-35, sistem rudal dan senjata antipesawat Pantsir-C1, serta tank T-90. Seluruh pembelian bernilai 1,7 miliar dolar AS. 

Dua rudal, sebuah senapan mesin ringan, satu pistol, dan sebuah kendaraan tempur lapis baja, inilah lima senjata top Rusia pada 2019.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki