Berkat Sistem Pengenalan Wajah Canggih, Tangkap Kriminal Kini Jauh Lebih Mudah

Sebagian besar sistem pengenalan wajah masih kontroversial: pada musim panas 2018, sistem milik Amazon salah mengidentifikasi 28 anggota Kongres AS sebagai kriminal.

Getty Images
Berkat sebuah perangkat lunak pengenalan wajah baru, seorang pencuri ditangkap di Kemerovo, kota pertambangan batu bara di Siberia. Sistem pengenalan wajah yang dikembangkan oleh perusahaan perintis asal Moskow ini telah membantu mengidentifikasi lebih dari 180 buronan yang dicari selama Piala Dunia 2018.

Ketika pihak berwenang di kota Kemerovo memutuskan untuk menguji sistem pengenalan wajah baru untuk "melihat kemampuannya", mereka tak menyangka akan bisa menangkap kriminal secepat itu. Hanya ada lima kamera yang dipasang di toserba lokal. Hanya dalam empat hari sejak percobaan diluncurkan, perangkat lunak ini sudah mampu mengidentifikasi seorang buronan tersangka perampokan.

FindFace Security saat ini adalah satu-satunya solusi pengenalan wajah yang tersedia di Rusia. NtechLab, perusahaan perintis yang mengembangkan sistem ini, sudah mendapatkan hasil positifnya selama Piala Dunia 2018.

Sebanyak 500 kamera pengintai video dipasang di sekitar kota dan stadion terhubung ke FindFace. Alhasil, hampir 180 penjahat yang dicari berhasil ditahan. Sembilan dari mereka, menurut Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin, ditangkap di metro.

"Kasus di Kemerovo menunjukkan bagaimana sistem pengenalan wajah, bahkan dengan jumlah kamera yang terbatas dan dalam waktu singkat, dapat menguntungkan masyarakat dan bisnis," kata Mikhail Ivanov, Kepala NtechLab. “FindFace Security sama efisiennya pada objek kecil mau pun kompleks. Ia mampu memproses video dari ratusan ribu kamera secara real time.”

Hanya lima kamera yang dipasang di toserba lokal di Kemerovo, tetapi hanya dalam empat hari sejak percobaan diluncurkan, mereka mampu mengidentifikasi seorang buronan tersangka perampokan.

NtechLab mengklaim bahwa FindFace Security memiliki akurasi lebih dari 99 persen dan dapat membandingkan satu wajah dengan yang lain untuk mengidentifikasi apakah itu orang yang sama atau bukan. Perangkat lunak ini memungkinkan video wajah yang real-time dan berpresisi tinggi, membandingkan hasil dengan pangkalan data dari individu yang dicari, dan mengirimkan peringatan kepada polisi hanya dalam dua detik.

Masih jadi perbincangan apakah sistem pengenalan wajah ini adalah cara yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi tersangka. Banyak sistem yang masih kontroversial, bahkan yang dikembangkan oleh raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft. Misalnya, mereka sulit mengenali orang-orang berwarna kulit selain putih, atau membuat eror.

MIT Media Lab menguji sistem pengenalan wajah dari Microsoft, IBM, dan Megvii dari Tiongkok, dan menemukan bahwa sistem salah mengidentifikasi jenis kelamin dari hingga 35 persen wanita berkulit gelap. Pada 2015, Google mengidentifikasi teman seorang teknisi perangkat lunak hitam sebagai "gorila", dan harus meminta maaf atas kesalahan tersebut.

Pada musim panas 2018, Serikat Kemerdekaan Sipil Amerika (ACLU) melakukan serangkaian pengujian dengan sistem milik Amazon.

Perangkat lunak ini mencocokkan foto anggota Kongres AS dengan database dari 25 ribu foto yang tersedia secara publik dari orang-orang yang pernah ditangkap. Sistem ini salah mengidentifikasikan 28 anggota Kongres sebagai kriminal.

Namun, NTechlab mengklaim bahwa algoritme verifikasi mereka adalah yang terbaik di dunia: perusahaan tersebut telah berhasil meraih hadiah utama pada kompetisi yang diselenggarakan oleh Kegiatan Proyek Riset Lanjutan (IARPA) di bawah naungan Kantor Direktur Intelijen Nasional ( ODNI).

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki