Militer Rusia Kembangkan Misil 'Rahasia' untuk Helikopter Tempur

Tekno&Sains
NIKOLAY LITOVKIN
Sejak lama senjata berpandu presisi merupakan prioritas, tetapi sekarang kompleks industri militer Rusia (MIC) telah menetapkan fokusnya pada pada proyektil tak berpandu untuk helikopter.

TASS melaporkan bahwa ada dua senjata baru yang telah diberi nama: Broneboischik ("Penembak Antitank") dan Monolit. Mereka adalah misil kaliber 130-mm berpandu dan tak berpandu, yang dirancang untuk menghancurkan pesawat dengan lapisan beton serta peralatan dan perlengkapan musuh yang super kuat.

Mereka akan hadir dalam berbagai bentuk modifikasi. Sumber dari MIC mengatakan kepada Russia Beyond bahwa misil-misil ini bisa menembus hingga 6 meter ke dalam bumi dan dinding beton bertulang setebal 1 meter.

Misil-misil ini akan diumumkan ke dunia pada 2020, tetapi bisa mundur hingga 2022 tergantung pengembangan dan pengujian militernya, ujar sang sumber.

Para teknisi juga sedang mengerjakan versi ekspor dari  misil, tetapi ia tak akan muncul sebelum versi utamanya dikirim ke Kementerian Pertahanan Rusia.

Sejarah misil tak berpandu di Rusia

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia sudah melangkah maju dalam pengembangan senjata-senjata presisi tinggi: misil jelajah dan balistik dalam berbagai jenis. Semua senjata ini (yang menurut George W. Bush dapat “hit a camel in the butt”) masih jarang digunakan operasi sungguhan — biasanya pekerjaan lapangan dilakukan oleh helikopter tempur yang dipersenjatai dengan proyektil tak berpandu.

Moskow pertama kali menggunakan misil udara-ke-darat tak berpandu selama Perang Soviet-Afganistan (1979-1989). Hanya satu serangan oleh skuadron helikopter tempur Mi-24 atau Su-25 bermisil dijamin akan melenyapkan titik-titik tembakan musuh tak peduli seberapa besar.

Proyektil ini diluncurkan dari ketinggian 1,5 km, dan hanya satu hulu ledak di misil C-8 yang paling sederhana sudah cukup untuk menumpas musuh dan perangkat mereka dalam radius 15-17 m.

Proyektil dan taktik perang seperti ini telah digunakan dalam berbagai konflik termasuk Suriah, di mana pesawat tempur Mi-24 dan Ka-52 digunakan untuk membersihkan para tentara dan kendaraan berat militan sebelum pasukan khusus Rusia dan tentara reguler Suriah tiba.

Namun begitu, kemajuan teknologi dan ancaman keamanan mengharuskan Rusia berinvestasi dan memodernisasi kekuatan strategisnya dalam bentuk senjata nuklir dan sistem presisi tinggi (misil berpandu dan misil jelajah). Operasi AS dan NATO di Timur Tengah juga menunjukkan manfaat sistem ini.