Kenapa Rusia Hendak Menggantikan S-200 di Suriah dengan S-300?

Donat Sorokin/TASS
Sistem pertahanan udara baru yang ditempatkan di Suriah akan mengeliminasi kesalahan penargetan dan menutup peluang jet tempur Israel untuk menggunakan pesawat Rusia sebagai tameng, sebagaimana yang terjadi belum lama ini dalam insiden yang melibatkan F-16 Israel dan Il-20 Rusia.

Pada Senin (24/9), Rusia mengumumkan pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Suriah untuk menjaga ruang udara negara itu terhadap tamu tak diundang.

Kompleks baru yang tak hanya terdiri dari kendaraan peluncur dan pengangkut rudal, tetapi juga sistem sinyal cerdas, akan tiba di wilayah itu dalam dua minggu dan memantau situasi di sekitarnya.

Namun, apa sebetulnya yang membedakan S-300 dengan S-200 buatan Soviet? Mengapa menteri pertahanan Rusia mengambil langkah ini setelah kematian 15 prajurit dalam tragedi Il-20?

Menanggapi Penembakan Il-20

Minggu lalu, pesawat pengintai Il-20 Rusia ditembak jatuh di atas langit Suriah. Peristiwa nahas tersebut menewaskan 15 personel.

Menurut Rusia, pesawat itu secara keliru ditembak jatuh oleh rudal S-200 Suriah, yang sebetulnya diarahkan ke jet tempur Israel F-16 yang tengah menyerang negara tersebut. Namun, salah satu pilot F-16 berhasil menghindari tembakan tersebut dan mengalihkannya ke pesawat Rusia yang memiliki permukaan pantulan lebih besar. Tak terelakkan, pesawat Rusia menjadi sasaran empuk rudal S-200 dan meledak di udara.

Menanggapi hal ini, Moskow langsung mengambil langkah khusus demi mencegah terulangnya tragedi serupa. Karena itu, Moskow hendak melengkapi pertahanan udara Suriah dengan sistem yang dua kali lebih baik. Meski sudah tua, S-300 tetap menjadi salah satu sistem pertahanan udara terbaik di dunia yang setara dengan Patriot AS.

Sistem pertahanan udara S-300VM yang tangguh (saat ini dalam perjalanan ke Krimea untuk pengiriman selanjutnya oleh Armada Laut Hitam Rusia ke Damaskus) dapat mendeteksi target udara pada jarak 400 – 500 km. Terlebih lagi, radarnya dapat “melihat” hingga 65 target di udara, dan sisem itu dapat menembakkan rudal-rudalnya dari 6 – 12 “meriam” sekaligus.

Hebatnya lagi, begitu target terkunci, kompleks S-300VM hanya membutuhkan 7,5 detik untuk menyiapkan misil untuk diluncurkan. Jika kendaraan pengangkut berada dalam posisi mengangkut, bukan posisi menembak, mereka masih membutuhkan tak lebih dari enam menit untuk mempersiapkan peluncur rudal.

Mengapa S-300 Lebih Baik?

Lantas, apa perbedaan utama antara S-200 dan S-300? Pada dasarnya, S-300 dapat secara efektif menangani semua pesawat modern dan rudal yang digunakan oleh pihak-pihak yang memushio Suriah.

Sebagai contoh, S-300 dapat mengeliminasi jet-jet tempur taktis dan pengebom canggih yang dilengkapi teknologi siluman. S-300 dapat menangkis rudal jelajah Tomahawk (salah satu senjata utama kapal perusak AS) dan rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.500 km, serta rudal jarak pendek yang diluncurkan dari negara-negara tetangga Suriah.

Tak hanya itu, perangkat baru yang masih dalam perjalanan ke Suriah ini dapat beroperasi bahkan ketika sistemnya dikacaukan oleh perangkat peperangan elektronik lainnya.

Pasukan pertahanan udara Rusia dilengkapi dengan sistem rudal yang sangat kuat, yang melindungi ruang udara negara-negara di seluruh dunia. Namun, hanya prajurit-prajurit yang berhasil menjalani kamp pelatihan yang bisa menjadi bagian dari pasukan pertahanan udara.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki