Lumba-Lumba Maut: Kisah Pasukan Katak Soviet yang Mematikan dari Era PD II

Seorang kadet pasukan katak Soviet selama latihan militer di Jerman Timur.

Seorang kadet pasukan katak Soviet selama latihan militer di Jerman Timur.

Oleg Lastochkin/RIA Novosti
Unit Lumba-Lumba, yang berasal dari komando pasukan katak Soviet, segera dibentuk begitu Perang Dunia II meletus. Unit ini memainkan peran penting dalam kekalahan Jerman dan Jepang. Selama bertahun-tahun, kehadiran unit yang diam-diam turut berperan dalam sejumlah konflik selama Perang Dingin ini tetap dibutuhkan, terutama untuk melakukan misi pengintaian dan sabotase bawah air.

Bayangkan Anda berada dalam sebuah misi untuk meledakkan pangkalan angkatan laut musuh. Anda terjun payung ke laut, menggunakan parasut, dan berada 30 kilometer dari lepas pantai. Saat itu, bisa jadi tengah terjadi badai yang mengerikan, tapi tak masalah — satu-satunya yang penting adalah misi yang harus Anda eksekusi.

Anda berenang, melewati ranjau laut, kabel sinyal, dan perangkap lainnya. Setiap detik yang Anda lalui adalah bahaya. Di bawah Anda terdapat jurang laut yang gelap, sedangkan di atas ada lampu sorot dan kelompok penjaga bersenjata yang berpatroli. Bawaan Anda sangat berat, sementara peluang gagal dan bahkan mati sangat mungkin terjadi. Terdengar menakutkan?

Tentara Super Bawah Laut

Misi semacam itu tak akan terdengar begitu menakutkan jika Anda adalah seorang pasukan katak dan anggota unit Lumba-Lumba — unit bawah laut Pasukan Khusus Uni Soviet. Anda akan dipersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi misi semacam itu, dan setelah menyelesaikan pelatihan yang diperlukan, tugas meledakkan pangkalan angkatan laut tak akan terlihat seperti misi yang sulit.

Pelatihan Anda akan sangat istimewa, bahkan dari segi standar militer sekalipun. Sebagai seorang kadet, Anda hanya akan tidur tiga atau empat jam sehari selama tujuh minggu. Selain latihan fisik yang sangat keras, Anda juga harus belajar selama 15 jam setiap hari.

Unit Lumba-Lumba harus bisa bertahan dalam kondisi yang hampir tak manusiawi sekalipun. Jadi, tentu saja, tak sembarang orang bisa diterima di unit ini. Dari 20 kadet, hanya satu orang saja yang bisa melewati fase awal latihan ini.

Seorang kadet pasukan katak Soviet selama latihan militer di Jerman Timur.

Namun, itu baru permulaan. Selama fase berikutnya (sebelas minggu), Anda akan belajar bertarung menggunakan senjata apa pun dan bahkan tanpa senjata sama sekali. Anda akan belajar mengendarai berbagai jenis kendaraan, menggunakan parasut, memasang ranjau, dan memanjat. Selama fase ini, Anda dan teman-teman kadet Anda akan membentuk kelompok yang terdiri dari dua, tiga, dan empat orang.

Kelompok Anda akan belajar bertukar komando kecil-kecilan yang memungkinkan Anda bertindak bersama seperti sepotong mekanisme. Tingkat kerja sama ini adalah hal yang mutlak dalam menjalankan misi apa pun.

Fase terakhir berlanjut selama delapan minggu. Selama masa ini, Anda harus melewati pelatihan di pangkalan angkatan laut yang berbeda dan belajar bagaimana beraksi di wilayah tertentu. Masing-masing pasukan katak memiliki wilayah berbeda yang mereka kuasai, seperti Amerika Latin, Amerika Utara, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan sebagainya. Kepentingan Uni Soviet harus dilindungi di mana pun mereka berada.

Pertarungan dengan Nazi dan Jepang

Pasukan katak Uni Soviet muncul pertama kali bersamaan dengan kemunculan unit serupa di belahan lain di dunia, yaitu pada masa-masa kelam Perang Dunia II. Dibentuk pada Agustus 1941, unit baru ini memiliki misi untuk mengumpulkan informasi, meledakkan pangkalan dan jembatan, dan menenggelamkan kapal musuh.

Unit-unit ini menjadi sangat diperlukan, terutama di Leningrad (sekarang Sankt Peterburg), Kala itu, pasukan ini membantu membangun infrastruktur “Jalan Kehidupan” yang dibangun di atas Danau Ladoga. Ini merupaan satu-satunya cara untuk memasok persediaan makanan ke kota itu selama masa blokade. Meski terus dibom, pasukan katak tanpa putus asa terus memperbaiki jalan itu.

Pada akhirnya, Uni Soviet mengalahkan Jerman. Setelah itu, Pasukan Khusus, termasuk pasukan katak, dikirim ke medan perang di timur untuk membantu mengalahkan Jepang. Ketika perang akhirnya berakhir, pemerintah memutuskan untuk membubarkan unit khusus pasukan katak.

Teknik Khusus

Berbagai pemimpin, termasuk Marsekal Georgy Zhukov yang terkenal, berusaha untuk mengatur kembali pasukan khusus angkatan laut, dan ini dilakukan pada akhir 1960-an. Pada 1970, sebuah unit khusus bernama Lumba-Lumba diciptakan kembali di dalam GRU (Direktorat Intelijen Utama) Pasukan Khusus. Soviet kemudian harus mengejar ketinggalan dari Barat dalam hal teknologi, peralatan, dan persenjataan untuk pasukan katak mereka.

Mereka berhasil dan melengkapi tentara bawah laut ini dengan senjata yang tak terkalahkan, termasuk senapan bawah air APS dan pistol bawah air SPP. Unit Lumba-Lumba juga memiliki kapal selam khusus, Piranha, untuk keperluan mereka. Kapal kecil ini mampu mengangkut pasukan katak sejauh 1.600 kilometer dan beroperasi tanpa bantuan hingga sepuluh hari.

Siap Siaga

Seiring meningkatnya ketegangan selama Perang Dingin, unit Lumba-Lumba selalu siap siaga. Jika terjadi perang skala penuh, mereka akan berusaha menghancurkan seluruh jalur komunikasi Barat di sepanjang Atlantik dan Pasifik, sehingga memutus koneksi musuh-musuh Uni Soviet. Namun, itu tak pernah terjadi.

Meski begitu, pasukan katak tetap tak sempat duduk santai. Mereka berpartisipasi di hampir setiap konflik Perang Dingin, dan jumlahnya banyak. Sebagai contoh, mereka terlibat di Nikaragua, Angola, Mozambik, Vietnam, dan Etiopia. Tentu saja, keterlibatan mereka tak pernah resmi, dan mereka secara formal digunakan sebagai penasihat militer.

Unit Lumba-Lumba kembali dibubarkan pada 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet. Namun, ini tak berarti bahwa keterampilan pasukan katak hilang begitu saja. Baik para personel maupun teknik pasukan legendaris itu kini digunakan di berbagai unit Pasukan Khusus Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More