Memperkuat Tentara, Mengubah Dunia: Tiga Senapan Legendaris Rusia dari Abad Ke-20

Senapan AK-74 M

Senapan AK-74 M

Alexander Vlif/RIA Novosti
Senjata-senjata ini mengubah jalannya perang di seluruh dunia dan membuat produsen senjata api Rusia terkenal.

1. Mosin Nagant

Senapan lima tembakan tipe bolt-action buatan tahun 1891 ini menggunakan rentetan 7,62x54 yang secara visual dapat dibandingkan dengan amunisi .308 milik NATO.

Selama bertahun-tahun, senapan ini telah terbukti sebagai senjata paling akurat dan awet, dipakai oleh tentara Rusia di beberapa konflik yang mengguncang negara seperti Perang Dunia I (1914 – 1918), Perang Sipil (1917 – 1922), dan Perang Patriotik Raya (1941 – 1945).

Ia juga merupakan salah satu senapan militer yang paling banyak diproduksi dalam sejarah. Sudah ada 37 juta Mosin yang dibuat sejak 1891.

Meski sudah berumur, ia masih dipakai di berbagai jenis konflik modern.

“Anda dapat menemukan versi senapan runduknya di medan perang di Suriah. Mosin hanya seharga 200 dolar AS (2,63 juta rupiah)n di pasar senapan, ia adalah salah satu yang termurah dengan amunisi kuat dan dapat berfungsi di cuaca ekstrem,” ujar Dmitry Safonov, analis militer dari harian Izvestia.

2. AK-47

Senjata api klasik dan legendaris dari Rusia ini menjadi basis dari seluruh proyek senjata di negara tersebut. Ia merupakan senapan serbu 7,62x39 milimeter pertama di Rusia yang semiotomatis dan sepenuhnya otomatis. AK-47 mengabadikan nama penciptanya, Mikhail Kalashnikov (yang keluar dari sekolah setelah kelas I SMP) sebagai salah satu pencipta senjata terhebat sepanjang sejarah.

Dalam Perang Patriotik Raya, para produsen senjata Rusia menghabiskan siang dan malam untuk menciptakan senjata baru untuk mengubah nasib negara mereka saat berperang, di mana mereka selalu menjadi pecundang hingga 1943.

Bahkan saat ini para sejarawan bertanya-tanya seperti apa perang akan berlangsung bila Kalashnikov menemukan AK-47 beberapa tahun sebelumnya – rancangan senapan ini dimulai pada tahun terakhir perang. Setahun kemudian ia diuji coba, dan pada akhirnya menjadi senjata api utama untuk para tentara Soviet dan Pakta Warsawa selama berpuluh-puluh tahun.

“Banyak sejarawan dan pakar senjata yang lupa bahwa AK-47 yang kita tahu saat ini telah melewati berbagai macam modifikasi dan peningkatan. Kondisi final dan sempurnanya baru ada pada awal 1960-an. Salah bila menganggap senapan ini dapat mengubah Perang Dunia II, karena ia membutuhkan penyempurnaan selama 15 tahun,” ujar Safonov.

Hari ini, 70 tahun setelah kelahirannya, AK-47 tetap menjadi salah satu senjata yang paling banyak digunakan untuk perang di dunia karena keandalannya, harganya yang terjangkau, serta amunisi 7,62x39 milimeternya yang kuat.

Universitas Oxford mengestimasi ada sekitar 100 juta senapan Kalashnikov di dunia saat ini, dan 75 persen diantaranya AK-47.

3. AK-74

Untuk menciptakan sebuah senapan yang dapat mengubah dunia, pertama Anda perlu membuat peluru baru. Inilah cikal bakal kelahiran AK-74 dalam menggantikan AK-47 untuk tentara Soviet. Senapan baru ini memiliki amunisi 5,45x39 milimeter yang menggantikan kaliber sebelumnya, 7,62 milimeter.

“Ada banyak alasan untuk mengganti amunisi ini. Dengan amunisi 5,45 milimeter, AK-74 lebih akurat, laju peluru lebih jauh, dan membutuhkan lebih sedikit kokang. Beratnya juga berkurang dua kilogram karena perubahan-perubahan tersebut. Memang, rentetan 7,62 milimeter lebih kuat, tapi ada faktor lain yang lebih penting menurut para tentara dan perancang. Ini membuat manufaktur senjata maju selangkah ke depan,” ujar Safonov.

AK-74 pertama kali digunakan saat konflik Afganistan (1979 – 1989), dan menurut buku The Gun karangan C.J. Chivers, CIA menawarkan hadiah 5,000 dolar AS untuk AK-74 pertama yang diambil para pemberontak negara tersebut.

AK-74 saat ini masih digunakan oleh tentara Rusia, namun sebentar lagi ia akan diganti dengan AK-12 sebagai senapan utama mereka. 

Cuplikan pertama AK-12, yang belum pernah dipublikasikan sama sekali, dapat dilihat hanya di RBTH.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More