Mengapa Kapal Selam Rusia Kembali Mendominasi Samudra Pasifik?

Sebuah foto tanpa tanggal menunjukkan roket sonar tengah dimuat ke dalam kapal selam Rusia kelas Oscar.

Sebuah foto tanpa tanggal menunjukkan roket sonar tengah dimuat ke dalam kapal selam Rusia kelas Oscar.

Reuters
Rusia menempatkan kapal selam baru yang lebih sulit dilacak dan dideteksi oleh AL Amerika.

Kapal selam Rusia beroperasi di Samudra Pasifik di level yang belum pernah terlihat selama beberapa dekade. Untuk pertama kali setelah Perang Dingin, Armada Pasifik Rusia mendapatkan kapal selam yang lebih tenang, dengan persenjataan yang lebih baik dan memiliki jangkauan yang lebih jauh.

Menurut analis militer Rusia Dmitry Gorenburg, “Armada Pasifik sepertinya akan menjadi armada terbesar Rusia pada dekade mendatang, mengingat peningkatan kepentingan geopolitik wilayah tersebut dan konsentrasi kekuatan maritim di area itu.”

Mengubah Fokus

Pada masa Perang Dingin, AL Soviet dikenal akan senjata raksasanya, seperti kapal selam kelas Taifun (Typhoon). Dengan bobot 48 ribu ton, kapal ini hampir sebesar kapal induk, membuat kapal selam terbesar AL Amerika yang memiliki berat 20 ribu ton terlihat kerdil. Raksasa Soviet ini bisa meluncurkan 200 hulu ledak nuklir sekaligus ke kota-kota dan fasilitas militer milik musuh. Namun, setelah Perang Dingin berakhir, kapal megah tesebut tak mampu beradaptasi dengan era baru akibat pemotongan anggaran.

Kapal Vishnya (juga dikenal sebagai Meridian) adalah kapal perang kelas CCB-175 Viktor Leonov. Sumber: ReutersKapal Vishnya (juga dikenal sebagai Meridian) adalah kapal perang kelas CCB-175 Viktor Leonov. Sumber: Reuters

Dengan perubahan dan penguatan armada, fokus Rusia kini ialah memperluas armada, khususnya dengan kapal selam kelas Borei. Meski ukurannya tak sampai separuh Taifun, Borei tetap menjadi sesuatu yang segar dibanding senjata sekolah kapal selam AL Soviet. Kelas Borei menampilkan generasi baru yang sangat tenang pada kapal selam Rusia, yang lebih tangguh di teater bawah laut. Selain lebih murah, jumlah kru yang dibutuhkan juga jauh lebih sedikit. Di saat yang sama, mereka punya kekuatan tembak yang mumpuni, yakni mampu meluncurkan 16 – 20 misil nuklir dengan delapan hulu ledak independen yang terarah.

Rusia berencana mengganti kapal selam era Perang Dingin mereka dengan 12 kapal kelas Borei, kata Gorenburg. “Mereka telah sepakat membangun delapan kapal dalam beberapa tahun ke depan, dan empat lainnya akan dipesan pada dekade mendatang. Kapal selam baru kemungkinan menjadi versi modern kapal selam Borei II saat ini, dengan pembaruan komponen elektronik dan lainnya. AL Rusia berencana menempatkan enam kapal di Armada Utara dan enam lainnya di Armada Pasifik.”

Selain itu, Rusia juga memperkenalkan kapal selam penyerang multiperan kelas Akula, Kuzbass, pada armadanya. Untuk meningkatkan unsur siluman, kapal selam ini dilengkapi dengan dua lapis mekanisme antigetar. Semua unit ditempatkan pada fondasi elastis dan masing-masing dipisahkan oleh penyerap kejutan pneumatik. Hal ini membantu mengurangi dampak ledakan pada mekanisme kapal selam dan kru kapal. Saat ini, kapal telah menyelesaikan uji coba laut dan akan segera menjalankan tugas aktif di Armada Pasifik.

Kekuatan dan Proyeksi

Peningkatan ukuran, daya tembak, serta jangkauan kapal selam Rusia adalah langkah-langkah yang ditempur Rusia untuk bangkit kembali. Sepanjang Perang Dingin, AL Amerika kerap memamerkan kemampuan kapal selam mereka yang lebih tenang, yang diam-diam juga tak dibantah oleh Soviet. Dengan keterbukaan Rusia, kemampuan sesungguhnya kapal selam juga ikut terbuka. Para pengemudi kapal selam Rusia sering menuturkan kisah bagaimana mereka hampir menggores lambung kapal AS tanpa disadari pihak Amerika. Ini mungkin akan menjadi hal nyata.

Rusia telah menempatkan kapal selam tempur dan misilnya dengan skala yang sulit disusul Amerika, kata Komandan Angkatan Laut AS di Eropa Laksamana Mark Ferguson pada CNN. Menurutnya, Moskow menempatkan kapal selam baru yang lebih sulit dilacak dan dideteksi oleh AL Amerika.

Mereka lebih tenang, memiliki persenjataan lebih canggih, dan jangakauan operasi yang lebih luas, terang Ferguson. “Kapal selam yang kami lihat jauh lebih siluman,” kata Laksamana Ferguson. “Kami lihat Rusia punya sistem senjata yang lebih unggul, sistem misil yang bisa menyerang darat dalam jarak jauh, dan kami juga melihat keandalan operasional mereka lebih baik karena mereka bergerak lebih jauh dari perairan mereka sendiri.”

Laksamana Punawirawan James Stavridis, mantan komandan NATO menambahkan, “Kami tak bisa memantau aktivitas kapal selam Rusia seratus persen sekarang ini.”

Tampilan Masa Depan

Kini, ada rencana untuk mengembangkan kapal selam nuklir multifungsi kelas baru, dengan tujuan membangun sesuatu yang lebih murah dan kecil dari kelas Yasen. Kapal tersebut bisa berupa kapal selam penyerang dengan persenjataan misil yang lebih sedikit, dibanding kapal Amerika kelas Virginia. AL Rusia berharap bisa memulai pembangunan kapal ini pada 2016, dengan target menciptakan 16 – 18 buah kapal.

Sementara, AL Amerika memiliki 53 kapal selam di gudangnya, namun karena pelucutan dan keputusan anggaran, angka tersebut akan turun menjadi 41 buah pada akhir 2020-an. Hal ini jelas menunjukkan AL Amerika akan tertinggal dari Armada Rusia.

Kucing dan Tikus

Selama puluhan tahun, kapal selam Amerika dan Rusia kerap melakukan aksi kejar-kejaran di laut, seperti kucing dan tikus. Kini tampaknya, tak peduli seberapa tenang kapal selam AS, Rusia bisa meangkap mereka kapan saja, di mana saja. 

Kapal selam kelas Akula selama latihan parade militer di Vladivostok. Sumber: ReutersKapal selam kelas Akula selama latihan parade militer di Vladivostok. Sumber: Reuters

Sebuah laporan Strategy Page tanggal 18 Februari 2015 menyebutkan, “Pada awal 2014, pakar deteksi kapal selam AL Amerika ketakutan saat kapal AGI (Auxiliary General Intelligence, atau pengintai elektronik) kelas Vishnya milik Rusia terlihat beberapa kali di pesisir timur Florida, di sekitar markas kapal selam dan pasukan udara marinir. Vishnya terlihat didampingi kapal lain, keduanya menggunakan pangkalan Kuba untuk melakukan pengisian ulang. Kedua kapal pertama kali muncul di Kuba pada Februari.

“Hal yang menciptakan ketakutan di kalangan para pelacak kapal selam adalah kesadaran bahwa komputer kini sangat murah dan cukup kuat untuk membuat mereka mendeteksi kapal selam dari tanda-tanda yang tak terlalu jelas (seperti gangguan di permukaan air) saat mereka pergi. Sudah menjadi rahasia umum selama puluhan tahun bahwa petunjuk seperti dalam dongeng itu memang nyata, dan dengan kemampuan komputer yang mumpuni serta sensor yang cukup sensitif Anda bisa menggunakan metode ini untuk melacak kapal selam secara real-time.

"Dengan kata lain, kini tak lagi penting seberapa tenang kapal selam, tapi apakah ia di sana atau tidak dan bergerak. Pakar AL Amerika telah menghitung dan menyadarai waktu saat tengah mendekat dengan kecepatan tinggi, jika belum sampai, saat sensor cukup sensitif dan komputer cukup cepat untuk melacak semua kapal selam. Hal semacam ini diketahui secara umum di kalangan akademisi, namun yang diketahui marinir atau lembaga intelijen adalah rahasia. Diyakini Rusia telah melakukan penelitian teoritis selama bertahun-tahun di area ini. Sejak awal 1990-an, Rusia punya akses ke teknologi komputer tercepat serta teknologi sensor komersil terbaru. Di atas kertas hal ini menempatkan Rusia sangat dekat dengan terobosan.…”

Pada masa Perang Dingin, armada kapal selam Rusia di Pasifik terdiri dari kapal selam penyerang. Didesain untuk mencari dan membunuh kapal musuh, tugas utama mereka adalah mencegah musuh meluncurkan serangan nuklir dan membunuh mereka sebelum menemukan kapal Rusia. Pada abad ke-21, Armada Pasifik akan memiliki kapal selam nuklir dengan proporsi yang lebih tinggi — cukup untuk membuat Amerika tak berkutik.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.