Lima Perangkat Militer Rusia yang Jalankan Uji Coba di Medan Tempur

Su-34

Su-34

TASS
Jumlah pesanan industri pertahanan Rusia saat ini telah mencapai 50 miliar. Rusia hendak meningkatkan jumlah tersebut karena menghadapi jatuhnya harga minyak. Tentu Rusia punya kesempatan untuk merealisasikan hal tersebut, terutama mengingat banyak perangkat militer Rusia telah digunakan pada konflik sungguhan dalam jumlah besar, sehingga menarik perhatian para pembeli potensial. Berikut RBTH menyajikan lima perangkat terbaik militer Rusia yang telah menjalankan uji coba di medan tempur.

Logika Besi: Su-34

Su-34, pesawat tempur bekursi ganda, merupakan andalan Angkatan Udara Rusia di Suriah. Dilengkapi dengan sistem penyerang canggih, pesawat ini mengebom target musuh saat berada di ketinggian yang tak bisa dicapai oleh MANPADS (sistem pertahanan udara portabel) — senjata andalan teroris. Konflik Suriah merupakan pengalaman pertama pesawat ini di medan tempur, dan melihat kesuksesannya dalam menjalankan misi, menghancurkan kamp musuh dan infrastruktur mereka, tak heran jika negara-negara lain akan segera menggunakan pesawat ini.

Vladimir dalam Pawai: T-90A

Tank tempur utama terbaru Rusia, T-90A, saat ini digunakan oleh tentara Suriah untuk melawan musuh di medan perang terbuka. Dilengkapi dengan lapis baja depan yang tangguh dan lapisan pelindung aktif elektro-optikal modern Shtora-1, serta sistem kendali jarak jauh Ainet, T-90A lebih baik untuk digunakan dibanding T-72B3 yang telah dimodernisasi. Tank T-72B3 mungkin diproduksi lebih massal, tapi kemampuan tempurnya tak sebaik “Vladimir” (julukan T-90A, diambil dari nama kepala perancangnya, Vladimir Potkin).

Mimpi Buruk Musuh: TOS-1A “Terik Matahari”

Membakar semua yang menghalangi jalannya, sistem penyembur api TOS-1A Solntsepek (Terik Matahari) telah beraksi dalam dua konflik: Suriah dan Irak. TOS-1A tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk bertahan hidup. Mustahil dapat kabur atau bersembunyi dari senjata ini. Di lapangan terbuka, hulu ledak termobarik milik senjata ini dapat menghanguskan ratusan meter persegi gurun pasir, sementara di lokasi perkotaan ia bahkan lebih mematikan.

Pembawa Malapetaka: Mi-28N

Mi-28N merupakan helikopter tempur dan 'adik' dari helikopter klasik Soviet Mi-24. Mi-28N telah menghancurkan posisi musuh di dekat Latakia, lokasi markas udara Rusia di Suriah, dengan roket tanpa kendali dan meriam otomatis miliknya. Irak telah menggunakan helikopter ini untuk menyergap pasukan ISIS di dekat Baghdad. Gesit dan dinamis, mustahil bagi musuh untuk menyerang helikopter ini: ketika ia membidik target, mereka sudah terbang jauh. Menembakkan MANPADS pada helikopter ini juga bukan pilihan: Mi-28N memiliki sistem penyerang balik yang canggih.

Tank musuh, kendaraan lapis baja, bahkan helikopter dan pesawat tanpa awak musuh merupakan sasaran empuk sang ‘Pemburu Malam’ atau ‘Malapetaka’ ini (julukan NATO). Senapan fleksibel 30 mm, misil antitank Ataka-V, misil udara-ke-udara, serta perlindungan kokpit keramik, memungkinkan helikopter ini bertahan dari serangan langsung proyektil 20 mm, sehingga helikopter ini ibarat benteng yang tak bisa ditembus.

“Kawan Lama” Itu Bernama BMP-3

BMP-3, sebuah kendaraan tempur infanteri, yang “dibaptis” 20 tahun lalu, tapi masih menunjukkan keefektifannya bahkan hingga saat ini, dan Uni Emirat Arab saat ini menggunakannya di Yaman.

Bertempur bersama tank Prancis Leclerc, BMP-3 telah menghancurkan target dengan senapan 100 mm dan meriam otomatis 30 mm siang dan malam (menggunakan perangkat penglihatan malam dan penglihatan termal).

BMP-3F di Indonesia

Saat ini, BMP-3F digunakan oleh Korps Marinir TNI. Pengiriman pertama sebanyak 17 unit sudah dilakukan Rusia pada November 2010. Pengiriman ini dilaksanakan dalam lingkup pemberian kredit kepada Indonesia oleh Rusia sebesar satu miliar dolar AS, yang ditandatangani Presiden Rusia Vladimir Putin dalam kunjungannya ke Jakarta pada September 2007 lalu.

Pemerintah kemudian Indonesia kembali menandatangani kontrak pembelian 37 unit BMP-3F bernilai 114 juta dolar AS yang diperuntukkan bagi marinir Indonesia pada bulan Mei 2013.

Pada bulan Januari 2014, kelompok pengiriman kedua BMP-3F secara resmi diserahkan kepada TNI Indonesia sehingga total BMP-3F yang dimiliki TNI adalah sebanyak 54 unit.

Pada bulan November 2014 lalu, Direktur Rosoboronexport Bidang Penugasan Khusus Nikolay Dimidyuk menyebutkan, perusahaannya berencana kembali mengirim sekitar 50 unit BMP-3F ke Indonesia.

Namun, keunggulan utama BMP-3 tak terletak pada persenjatannya, melainkan mobilitas dan perlindungannya yang superior. Mesin BMP-3 yang terletak di belakang, seperti pada tank, memastikan perjalanan yang mulus tanpa sandungan, sehingga pengemudi memiliki pengelihatan medan yang lebih baik dan penembak senapan dapat mengarah target secara lebih akurat. Berkat posisi mesin ini yang tak biasa dibanding kendaraan tempur infanteri lainnya, pasukan dapat datang dan pergi dari belakang lewat pintu yang terlindungi. Hal ini memberi perlindungan ekstra, menyelamatkan ratusan nyawa di medan tempur. Saat ini, BMP-3 bertempur di gurun pasir Yaman, namun pembeli lain sudah memperlihatkan ketertarikannya terhadap senjata ini.

 
 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More