Tiga Strategi Ekspor Senjata Rusia

Rusia bekerja sama dengan sekitar 70 negara di bidang persenjataan.

Rusia bekerja sama dengan sekitar 70 negara di bidang persenjataan.

TASS
Kerja sama militer teknis antara Rusia dan negara-negara lain terus berkembang, meski dalam beberapa tahun terakhir Rusia diprediksi akan menghadapi resesi. Rusia saat ini berada di posisi kedua di bidang pasokan senjata ke pasar global.

Pengembangan Bersama

Pertama, strategi yang paling memakan waktu namun paling siginifikan secara politik dan stabil adalah transfer lisensi, dan dalam beberapa kasus, pengembangan bersama perangkat militer.

Rusia menerapkan strategi ini dengan Tiongkok, India, Brasil, dan Korea Selatan. Kerja sama ini memiliki karakteristik tersendiri.

Saat ini, strategi ini hanya berjalan dalam kapasitas penuh di India, karena Rusia menjadi sumber sektor teknologi tinggi di bidang industri India yang tertinggal cukup jauh dibanding negara-negara lain selama berpuluh-puluh tahun.

Area kerja sama kedua dengan India adalah tank T-90. Saat ini, pasukan bersenjata India memiliki sekitar 800 tank T-90, yang lebih dari separuhnya dirakit di India. Hasil produksi terus meningkat—kapasitas produksi perusahaan negara Heavy Vehicles Factory (HVF) dapat mencapai 140 tank per tahun.

Di bawah pengembangan bersama beragam sistem persenjataan, rudal jelajah PJ-10 Brahmos (1998) dan pesawat tempur generasi kelima FGFA (2007) menjadi kontrak yang paling menonjol.

Tiongkok, yang secara aktif memproduksi senjata dengan lisensi dari Soviet sejak tahun 1950-1980-an, kembali membeli teknologi Rusia untuk meningkatkan kualitas industri pertahanan mereka. Namun, pemberian lisensi bagi Tiongkok segera berubah menjadi teknologi produksi independen, dengan mengembangkan sampel yang mereka terima. Namun, dalam banyak kasus proses peniruan tersebut difasilitasi oleh departemen insinyur Rusia dan Ukraina.

Untuk Brasil, Rusia berupaya mengembangkan proyek bersama di bidang sistem pertahanan udara dan aviasi militer. Jika hal tersebut tercapai, kita dapat bicara mengenai formasi lingkaran negara-negara berkembang yang menggunakan teknologi Rusia untuk mendesain dan memproduksi perangkat militer mereka sendiri. Pengembangan semacam itu akan meningkatkan stabilitas industri pertahanan Rusia di bidang yang paling penting dan canggih.

Pengiriman Skala Besar

Strategi kedua dalam kerja sama militer teknis fokus pada negara yang memiliki sumber keuangan relatif besar dan mampu membeli perangkat militer mahal. Kita bicara tentang Indonesia, Malaysia, Vietnam, Aljazair, Irak, Venezuela, Azerbaijan, dan beberapa negara lain. Kerja sama dengan negara-negara tersebut selalu berupa kontrak dengan skala yang cukup besar. Mereka membeli perangkat militer modern atau versi yang lebih sederhana, memberi agregat keseluruhan yang sama dengan volume lebih kecil dibanding ekspor yang berbasis kontrak raksasa dengan India atau Tiongkok.

Prospek kerja sama militer teknis di area ini kerap dipertanyakan karena risiko politis. ‘Arab Spring’ membuat banyak pakar bicara mengenai penghentian kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah, dan wafatnya Hugo Chavez membuat mereka mempertanyakan kerja sama dengan Venezuela. Namun, ketakutan tersebut terlalu dibesar-besarkan.

Opini negatif mengenai ekspor senjata Rusia ke Timur Tengah yang paling bergaung adalah kontrak baru untuk memasok helikopter, sistem pertahanan udara, dan senjata lain ke Irak senilai 4,2 juta dolar AS, yang sesungguhnya telah disepakati sejak musim gugur 2012. Pasokan di bawah kontrak tersebut diluncurkan pada musim gugur 2013. DI saat yang sama, kerja sama militer dengna Libya dilanjutkan.

Pada pergantian tahun 2013 ke 2014, langkah pertama untuk melanjutkan kerja sama militer teknis dengan Mesir juga diambil, dan negara tersebut dapat menjadi pembeli terbesar senjata Rusia dalam lima tahun ke depan. Transaksi pertama, menurut pihak Mesir, akan bernilai setidaknya dua miliar dolar AS. Mesir berencana mendepatkan sistem pertahanan udara, pesawat tempur MiG-29, serta helikopter tempur.

Sedikit-sedikit, Lama-lama Menjadi Bukit

Strategi ketiga dalam kerja sama militer teknis Rusia adalah kerja sama dengan negara-negara Dunia Ketiga. Hal ini terutama fokus pada negara yang berada di level perkembangan menengah di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara. Kontrak dengan negara-negara tersebut biasanya bersifat ad hoc dan dibuat dalam jumlah yang relatif kecil, berkisar dari beberapa juta hingga beberapa ratus juta dolar AS.

Namun, strategi ini juga bisa menghasilkan keuntungan besar. Sebagai contoh, pada Oktober 2013, Rusia menandatangani kontrak dengan Angola untuk mengirimkan senjata senilai satu miliar dolar AS, termasuk suku cadang senjata Soviet, senjata kecil, amunisi, tank, instalasi artileri, dan helikopter multifungsi Mi-17. Selain itu, kedua pihak sepakat untuk membangun pabrik di Angola untuk memproduksi amunisi, serta pengiriman 18 pesawat tempur Su-30K yang telah dimodernisasi, yang sebelumnya digunakan oleh Angkatan Udara India.

Kontrak ini merefleksikan kerja sama dengan negara-negara dunia ketiga, termasuk mitra Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (Collective Security Treaty Organization/CSTO) Rusia seperti Kirgistan dan Tajikistan. Kontrak tersebut biasanya terdiri dari pengiriman suku cadang, senjata kecil, amunisi, kendaraan lapis baja (biasanya bekas AD Rusia dan sudah diperbaiki), serta pesawat bekas. Pengecualian terutama adalah helikopter dan mobil baru.

Sementara, jumlah negara dengan penerapan ‘strategi ketiga’ adalah yang paling besar: menurut pakar, mereka mencakup dua pertiga dari sekitar 70 negara yang bekerja sama dengan Rosoboronexport (Russian Defense Export). Namun, pemasukan tahunan dari kelompok ini relatif kecil dan diperkirakan tak lebih dari 10 hingga 15 persen dari jumlah pasokan keseluruhan.

Pertama kali dipublikasikan di Russian Council.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More