Operasi Pasukan Khusus Soviet Bebaskan Kedutaan AS di Moskow dari Teroris pada 1979

Asosiasi Internasional Veteran Unit Anti Teror 'Alfa'; Valentin Sobolev/TASS
Sebelum menyerbu Istana Tajbeg dan mengatur kudeta di Afghanistan pada Desember 1979, tim Alfa pasukan khusus Soviet telah lebih dulu mengasah keterampilan mereka dengan menyingkirkan teroris yang mengancam akan meledakkan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Moskow.

Pada 28 Maret 1979, pukul 14.30, telepon berdering di kantor konsuler Kedubes AS Moskow. Ketika petugas menjawab panggilan itu, di seberang telepon terdengar suara seorang lelaki Soviet yang bertanya apakah dia bisa mendapatkan bantuan untuk mengajukan visa AS.

Panggilan itu adalah awal dari drama penyanderaan bak film laga Hollywood, yang melibatkan dua negara adidaya yang bermusuhan di tengah Perang Dingin.

Melewati Penjaga

Tak lama setelah sambungan telepon terputus, Sekretaris Kedua Kedubes AS Robert W. Pringle melangkah keluar gedung kedutaan yang terletak di Tchaikovskogo Ulitsa (kini Novinskiy Bulvar) untuk menemui lelaki yang menelepon tadi.

Gedung Kedutaan Besar AS di Moskow, Uni Soviet.

Apa yang mereka bicarakan tak pernah terungkap, tetapi Pringle mengawal kenalan barunya itu untuk masuk ke dalam kedutaan. Petugas Soviet yang berada di pos jaga tak dapat mencegah lelaki itu karena pada dasarnya dia tak berwenang melarang seseorang yang menemani diplomat AS untuk masuk ke tempat yang secara hukum dianggap sebagai wilayah AS itu. Namun, situasi seketika menjadi tak terkendali saat si lelaki itu melewati gerbang kedutaan.

"Segera setelah dia masuk dan baru menapak empat anak tangga menuju ruang tunggu, seorang sekretaris memperhatikan si lelaki memegangi pinggangnya. Dia lalu membuka mantelnya dan mengatakan bahwa dia memiliki bom yang akan dia ledakkan, kecuali dia diberi izin untuk meninggalkan Soviet," lapor New York Times tentang insiden itu.

Para staf kedutaan pun tersandera di dalam gedung oleh lelaki yang tidak stabil jiwanya itu, yang mengancam akan meledakkan bom yang bisa menghancurkan tempat itu jika tuntutannya tidak dipenuhi. 

Menanggapi ancaman serius tersebut, pemerintah Soviet pun memutuskan untuk segera menyiagakan pasukan khusus.

Urusan Soviet

"Pihak berwenang Soviet tiba di lokasi sekitar pukul 16.30. Kami menegaskan bahwa itu adalah urusan mereka, karena yang memberikan ancaman adalah warga negara Soviet," ujar Duta Besar (Dubes) AS untuk Soviet Malcolm Toon saat itu.

Duta Besar AS untuk Uni Soviet Malcolm Toon, 18 Januari 1977.

Pada saat yang sama, Tim Alfa Pasukan Khusus KGB Soviet yang dipimpin oleh Komandan Tim Gennadiy Zaytsev tengah mempersiapkan operasi untuk membebaskan kedutaan.

"Kami diperintahkan oleh Kepala KGB untuk pergi ke kedutaan. Kami tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan senjata dan pihak Amerika pun sudah memberikan lampu hijau untuk hal itu. Namun, pada saat yang sama, kami akan mencoba bernegosiasi dengan penjahat itu karena kami tidak tahu apa-apa tentang dia. Misi itu ditugaskan kepada saya," kata Zaytsev dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian.

Operasi yang akan dijalankan pasukan khusus Soviet itu terbilang sangat sensitif mengingat percaturan geopolitik saat itu: AS dan Soviet adalah musuh besar dalam hal ideologis yang terkadang berisiko memulai Perang Dunia III nuklir. Bagi tentara Soviet, menembakkan senjata di daerah yang secara resmi adalah wilayah hukum AS akan menimbulkan risiko besar bagi hubungan bilateral kedua negara adidaya nuklir, sekaligus bagi seluruh dunia.

Dengan menunjukkan keyakinan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasukan khusus Soviet membahas rincian operasi yang akan dijalankan dengan perwakilan dari Kedubes AS dan Kementerian Luar Negeri Soviet. Dengan pertimbangan bahwa untuk menunggu instruksi dari Washington akan membuang waktu yang berharga, Dubes Toon mengambil keputusan sendiri untuk mengizinkan penggunaan senjata oleh pasukan khusus Soviet dalam menjalankan misi di dalam kedutaan. 

Negosiasi

Tiga anggota pasukan khusus Soviet memasuki kedutaan untuk mendekati teroris, menjalin kontak dengannya, mencari tahu motifnya, dan meyakinkannya untuk menyerah. Ketika memasuki sebuah ruangan, ketiganya melihat seorang pria muda gagah yang berdiri setengah berbalik ke arah mereka — sang teroris. Melihat kedatangan tiga anggota pasukan khusus yang mengenakan pakaian biasa itu, sang teroris menuntut agar hanya satu dari mereka yang tinggal. Alhasil, Zaytsev sendiri yang tinggal di sana untuk berunding.

"Si 'pengunjung', yaitu sang teroris — seorang lelaki kekar berambut cokelat — segera menunjukkan alat peledak. Saya melihat peledak yang menempel di perutnya itu terbuat dari baja nirkarat. Tangannya tak pernah lepas barang sedetik pun dari pin pemicu ledakan," ujar sang komandan tim Alfa itu.

Namun, Zaytsev mencoba untuk terus berkomunikasi agar bisa mengetahui niat sang teroris.

"Terus terang, percakapan itu sangat membosankan. Akan tetapi, saya berhasil membuatnya berbicara. Dia mengaku bernama Yuri Vlasenko, kelahiran 1953, warga Kota Kherson, mantan pelaut di kapal perdagangan. Dia berencana untuk berkuliah di Universitas Negeri Moskow, tetapi gagal dalam ujian masuk," jelas Zaytsev.

Vlasenko yang saat itu berusia 26 tahun mengancam akan meledakkan dirinya untuk mendapat izin pergi ke AS dan berkuliah di sana.

"Dalam percakapan lebih lanjut, saya yakin bahwa kami sedang berhadapan dengan orang yang cacat mental dan hal itu memang terbukti kemudian," ungkap Zaytsev.

Bagi Vlasenko, masalahnya adalah meski Washington memutuskan untuk memberinya visa masuk ke AS, otoritas Amerika memiliki pengaruh yang kecil terhadap otoritas Soviet, yang tidak akan membiarkan teroris itu lolos dari hukuman.

Zaytsev mencoba menyakinkan Vlasenko untuk menyerah pada rencananya yang buruk itu, tetapi hanya membuat sedikit kemajuan.

"Sang teroris membuat banyak kesalahan, tetapi saya belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memanfaatkan kesalahannya," kata Zaytsev, yang berhasil meninggalkan Vlasenko terkunci di ruangan itu.

Tembakan dan Ledakan

Selama negosiasi berlangsung, beberapa anggota tim Alfa percaya bahwa Vlasenko hanya perlu waktu untuk melepaskan ketegangan dengan menceritakan kesulitan hidupnya kepada orang lain. Para pimpinan KGB tidak terlalu tegas terhadap biang kerok yang membuat kepada mereka pusing itu.

"Kapan gedung akan dibebaskan?" adalah pertanyaan yang berulang kali dilemparkan para bos kepada tim Alfa Zaytsev dan meninggalkan ruangan tanpa percakapan lebih lanjut.

Setelah lima jam negosiasi yang sia-sia, tim Alfa Soviet menerima perintah untuk masuk dan melumpuhkan Vlasenko. Gas mata pun dilemparkan ke dalam ruangan dengan asumsi bahwa itu akan membuat sang teroris menyerah. Namun, vlasenko tidak menyerah. Dia membuka jendela agar udara udara segar masuk dan mulai berteriak. Dengan melakukan hal itu, dia telah mengekspos dirinya ke penembak jitu yang kemudian memuntahkan melepaskan dua tembakan mengarah tangannya.

"Kami berharap sang teroris melepaskan pin peledak karena kesakitan. Akan tetapi, harapan tak sesuai kenyataan. Setelah peluru mengenai tangannya, dia kejang-kejang dan menarik pin sehingga ledakan pun terjadi. Potongan kaca, bingkai, dan jeruji jendela terhempas melewati saya akibat gelombang kejut. Untungnya saya berhasil menghindar, kalau tidak pasti saya sudah mati. Setelah itu, kantor konsuler pun terbakar," tulis Kolonel Sergey Golov, seorang dokter tentara dan salah satu anggota tim Alfa yang terlibat dalam misi itu.

Vlasenko terluka parah dan menjemput ajal di rumah sakit. Para anggota tim Alfa dan personel Kedubes AS beruntung bahwa ledakan bom tidak merusak dinding struktural gedung karena bagian yang paling kuat dari bom itu tidak meledak akibat kegagalan mekanis.

Pasukan Alfa sebelum dikerahkan ke Kabul untuk operasi tempur.

Meskipun operasi tim Alfa yang baru dibentuk itu dibingkai menjadi kisah sukses oleh media-media Soviet dan para anggota tim mendapatkan hadiah uang serta pujian resmi karena telah membebaskan kedutaan tanpa menimbulkan korban selain sang teroris sendiri, mereka dikritik oleh Kepala KGB Yuri Andropov tanpa sepengetahuan publik.

Menurut Andropov, "tim Alfa tidak mampu membuat keputusan independen yang cepat dan terlalu mengulur-ngulur operasi yang tidak perlu."

Kritik keras di balik selubung pujian resmi telah membuka pintu bagi perkembangan pesat tim Alfa. Pasukan itu kemudian dilengkapi dengan senjata modern baru dan dilatih untuk berbagai skenario. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 27 Desember 1979, tim Alfa menunjukkan keterampilan baru mereka dalam aksi penyerbuan ke Istana Tajbeg dan mengatur kudeta di Afghanistan. 

Inilah alasan mengapa pasukan khusus Soviet menyerbu Istana Tajbeg dan membunuh pemimpin Afghanistan Hafizulla Amin pada 1979.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki