Mengapa Kota Sankt Peterburg Bergonta-ganti Nama?

fitzgeraldbc/Pixabay
Para pemimpin Soviet ingin menghapus masa lalu imperial negara mereka. Karena itulah, mereka mengganti nama Sankt Peterburg untuk menghormati tokoh penggerak Revolusi Bolshevik. Namun, itu bukan pertama kalinya Sankt Peterburg berganti nama.

Piter, Kota di Sungai Neva, Ibu Kota Utara, Ibu Kota Budaya, Venesia di Sungai Neva, Palmyra Utara, Kota Tiga Revolusi — Sankt Peterburg punya banyak julukan yang mencerminkan keagungannya sekalipun usianya relatif muda dibandingkan banyak kota besar Rusia lainnya. Didirikan pada 1703, kota yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-318 ini telah beberapa kali berganti nama sepanjang sejarahnya.

Kota Santo Petrus

Pyotr yang Agung adalah penguasa Rusia pertama yang menghargai Eropa dan kemajuannya. Ia bahkan melakukan perjalanan melintasi Inggris, Belanda, Austria, dan negara-negara lain untuk mempelajari ilmu maritim dan pembuatan kapal serta adat istiadat dan busana kerajaan.

Pyotr kemudian mendirikan ibu kota barunya di delta Sungai Neva yang berawa di Rusia Utara. Ia ingin lebih dekat dengan tetangga Swedianya dan ke Eropa secara keseluruhan. Penyair Aleksandr Pushkin menulis dalam puisinya yang terkenal, “Penunggang Kuda Perunggu”, bahwa sang kaisar ingin membuka gerbang ke Eropa dan mendapatkan akses ke Laut Baltik.

Katedral Isaakievskiy dan Monumen Pyotr yang Agung, 1844.

Supaya lebih meyakinkan dan sekaligus memperkuat klaimnya, Pyotr memberi kota itu nama yang keeropa-eropaan. Kota itu dinamai untuk menghormati Santo Petrus sang Rasul, yang Pyotr anggap sebagai pelindung surgawinya. Selain itu, karena sang kaisar amat mengagumi Belanda, ia pertama kali menamai kota itu Sankt Pieter Burkh dengan ejaan bahasa Belanda. Sejak itu, orang-orang terbiasa menyingkatnya menjadi Pieter (Piter), bahkan hingga kini.

Pendirian Benteng Petropavlovskaya

Namun, pada 1724, surat kabar Vedomosti mulai menyebut kota itu Sankt Peterburg, yang lebih akrab bagi orang-orang Jerman yang tinggal dan membangun kota itu, termasuk mereka yang bertugas di istana kaisar.

Lama-kelamaan, kota ini mulai dikaitkan dengan pendirinya, Pyotr (penutur bahasa Inggris menyebutnya Peter -red.), alih-alih Santo Petrus. Pushkin bahkan menyebut nama sang kaisar dalam sejumlah puisinya, seperti “ciptaan besar Pyotr” dan “kota Pyotr”.

Rusianisasi

Gereja Asumsi di tanggul Sungai Neva.

Dua abad kemudian, kota ini berganti nama untuk pertama kalinya. Pada 1914, Rusia terlibat dalam Perang Dunia I dan Jerman adalah musuh utamanya. Oleh karena itu, Kaisar Nikolay II memutuskan untuk menghapus nama Jerman dari kota itu dan mengganti namanya menjadi Petrograd yang secara harfiah masih berarti ‘Kota Pyotr’, tetapi dalam ejaan Rusia. Kata grad merupakan bentuk kuno kata gorod yang secara harfiah berarti ‘kota’. Nama ini sangat umum ditemukan pada kota-kota Rusia kuno, seperti Novgorod.

Kota Revolusi

Penyerbuan Istana Musim Dingin. Sebuah gambar dari film “Oktober: Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia” oleh Sergei Eisenstein.

Meski begitu, penduduk setempat masih belum terbiasa dengan nama baru kota mereka ketika sepuluh tahun kemudian berubah nama lagi. Kota ini merupakan tempat kelahiran Revolusi Bolshevik. Namun selama Perang Saudara, Petrograd kehilangan status ibu kota karena pemerintah memutuskan memindahkan kembali ibu kota ke Moskow.

Pada 1924, lima hari setelah kematian pemimpin Soviet, Vladimir Lenin, Dewan Kota Petrograd mengusulkan untuk mengubah nama kota itu menjadi Leningrad. Usulan tersebut dibahas di Kongres Seluruh Uni Soviet Kedua dan akhirnya disahkan.

Demonstrasi di Dvortsovaya Ploshchad.

Selama 70 tahun pemerintahan Soviet, semua orang di dalam dan di luar Rusia terbiasa menyebut kota itu Leningrad. Misalnya, blokade Nazi terhadap kota itu selama Perang Dunia II disebut Pengepungan Leningrad, bukan Pengepungan Peterburg.

Para penyair Leningrad menulis banyak puisi yang dipersembahkan untuk kota mereka dan keberanian warganya. Pada hari ketika Leningrad terbebaskan, penyair kondang Anna Akhmatova menulis:

Pada malam Januari yang tak berbintang
Kewalahan oleh takdirnya yang akbar
Ditarik kembali dari kedalaman kematian
Leningrad memberi hormat pada dirinya sendiri

Sejak 1924, nama Lenin muncul di mana-mana di seluruh Uni Soviet. Sejak itu pula, tiap kota memiliki jalan atau alun-alun yang dinamai menurut nama sang pemimpin revolusi. Moskow sendiri bahkan memiliki jalan bernama Lenin dan Leningrad. Hal ini betul-betul dapat membingungkan pengemudi yang tak berpengalaman.

Monumen Penunggang Kuda Perunggu, zaman Soviet

Pemerintah Soviet gemar menamai kota-kota mereka dengan nama tokoh-tokoh Bolshevik. Kaliningrad, Stalingrad, Dimitrovgrad, dan banyak nama semacam ini muncul sepanjang abad ke-20. Beberapa diubah pada 1990-an, tetapi tak sedikit pula yang dipertahankan.

Leningrad, Nevsky prospekt

Kembali ke Akar

Pada 1991, setelah Uni Soviet runtuh, mengubah nama kota menjadi langkah yang cukup logis dan juga simbolis. Pemerintah setempat menggelar jajak pendapat dan lebih dari separuh warga mendukung inisiatif untuk mengembalikan nama historis kota itu, Sankt Peterburg.

Pejalan kaki di depan Gereja Penyelamat Kami Menumpahkan Darah, 1993.

Pada saat yang sama, nama sejumlah institusi tetap mempertahankan Leningrad untuk sementara waktu, sedangkan daerah di sekitar Sankt Petersbug masih disebut Leningradskaya oblast (Wilayah Leningrad) karena penduduk setempat memilih untuk tidak mengubahnya (kemungkinan demi menghindari masalah birokrasi dalam perubahan identitas dan dokumen-dokumen resmi lainnya). Bagaimanapun, banyak orang tua yang masih menyebut kota ini Leningrad karena kebiasaan.

Sungai Moyka di Sankt Peterburg.

Salah satu grup musik pop rok Rusia paling populer asal kota ini bernama Leningrad. Dalam salah satu lagunya yang paling terkenal, sang vokalis, Sergey Shnurov, menyanyikan bahwa dia mungkin mabuk, karena dia tidak ingat kapan dia pindah ke Sankt Peterburg. “Hari ini alamat saya w-w-w Leningrad s-p-b dot ru,” begitulah sepenggal lirik lagu yang memadukan masa lalu Soviet dengan Rusia modern, seraya mempromosikan situs web mereka sendiri (sekalipun belum diperbarui sejak 2002).

Banyak orang mengira Gereja ‘Penyelamat Kami Menumpahkan Darah’ adalah Katedral St. Basil di Moskow. Padahal, ini adalah dua gereja yang berbeda.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki